Welcome to my little world

Rabu, 18 Juli 2018

Saat Hujan Itu

Yogyakarta, 18 Juli 2018

Aku suka sekali hujan.

Seingatku, kamu juga sangat suka hujan. Satu, aroma khas yang ada saat hujan. Dua, kamu suka  udranya yang tidak terlalu dingin, tapi juga meredakan panas. Tiga, kamu suka suaranya ketika air mulai menyentuh semuanya. Dan, keempat, katamu ini alasan paling utama, kamu bisa berlari di tengah hujan dan tertawa, padahal aku tau kamu saat hujan bisa menyembunyikan segala kesedihanmu dengan berpura-pura bahagia di bawah air hujan.

See? Aku ingat semua kan? Bahkan urutannya juga tidak lupa, dari alasan pertama sampai keempat.

Dan saat ini, di luar sana sedang hujan. Aku melihat seorang berlari menerobos hujan dengan langkah riang. Aku jadi teringat kamu, lagi. Keriangannya, cara dia berjalan, semuanya. Kecuali, dia bukan kamu. Jangan-jangan dia juga seperti kamu? Terlihat riang menerobos hujan, padahal dia sedang bersedih. Tapi muka sedihnya langsung dihapus hujan sehingga tidak terlihat. Iyakan?

Kamu meneleponku saat itu. Perempuan itu, iya perempuan itu membuatmu bersedih lagi. Memang, kaliang bukan pasangan, dan hanya berteman. Masalahnya adalah, aku dan kamu sama-sama tau kala kamu mencintainya, sangat. Sampai aku sering ikut merasakan sakit di dadamu sangat menyengat.

Kamu sering bercerita tentangya. Sudah berteman berapa lama? Dua atau tiga semester kalau tidak salah. Sering pergi berdua, tertawa, bercanda, semuanya. Sampai tanpa disadari, di hatimu tumbuh cinta. Tapi apa dia, perempuan itu mengetahuinya? Katamu sepertinya tidak. Ah, masa? Setiap orang yang dicintai pasti tau kalu seseorang itu mencintainya. Kamu juga pasti tau ketika seseorang mencintaimu kan? 

Dengar ya, dia itu pasti tau bahwa kamu mencintainya. Tidak mungkin tidak. Dan ketika kamu bercerita bahwa dia kemudian berhubungan dengan orang lain. Oh, aku tau kamu  luka. Sangat tau. Itu pertama kalinya kamu hujan-hujanan lagi setelah selang waktu yang cukup lama. Dan ketika aku tanya kenapa berhujan-hujan lagi? Kamu hanya menjawab, aku suka hujan.

Aku diam. Matamu merah. Ah, kamu hanya menyembunyikan kesedihanmu. Aku hapal. Menangislah. Sekencang-kencangnya, sepuas-puasnya. Aku akan di sini menungguimu, ikut bermain hujan denganmu. Asal saja kamu tau, kamu akan baik-baik saja di sini, bersamaku.

Aku melihatmu tertawa, menengadahkan kedua tanganmu menadah air hujan, lalu membuangnya, begitu berulang kali. Aku melihatmu masih tertawa, mempermainkan genangan air hujan dengan kakimu, menendang-nendangnya sehingga bercipratan ke mana-mana. Kamu mengajakku ikut bermain di genangan itu.  Aku melihatmu tetap tertawa, masih berfokus pada fenanganmu itu. Kemudian wajahmu menengadah ke atas, menerima setiap tetesan serbuan hujan. Tapi ada yang tidak kamu tau, bahwa aku tau ketika dadamu terguncang menahan senggukan tangisan. Aku juga tau matamu sangat memerah itu bukan karena kemasukan air hujan. Dan meski dihapus hujan, aku masih bisa melihat air matamu. Kentara sekali.

Lalu kamu duduk, aku ikut duduk. Kamu menyandarkan kepalamu di bahuku.Hujan mulai reda. Kamu memalingkan muka, mungkin mencoba menutupi mata merahmu. Terlambat, aku sudah tau dari tadi. Tidakkah kamu tau aku juga merasa nyeri?

Di lain waktu, kamu meneleponku lagi, mengajakku ke sebuah taman. Begitu sampai, kamu bermain hujan lagi. Ada apa lagi ini? Bukankah dia, perempuan itu sudah tidak bersama lelaki itu sebulan yang lalu? Hanya bertahan enam bulan hubungan mereka.

Aku keluar menerobos hujan. Ikut bermain hujan bersamamu.

Lagi, kamu tertawa. Kelihatan riang bermain hujan. Orang yang tidak tau, akan mengira kamu sedang bahagia. Masalahnya, aku tau.

Aku menyebut nama perempuan itu setengah teriak dan bertanya di mana dia, kamu menjawab dengan tertawa dan menengadahkan kepala menerima terpaan hujan, "Dengan kekasih barunya dong."

Jangan begitu. Jangan terus-terusan mencoba menipuku dengan tawamu dan bermain hujan. Aku tau kesedihanmu, aku tau. Ceritalah.

Aku menemanimu sekitar satu jam kalau tidak salah. Ini dingin. Besokya pasti aku meriang, seperti ketika pertama kali kamu mengajakku bermain hujan.Seperti juga ketika aku menemanimu semalaman hanya untuk mendengarmu bercerita. Kamu ingat, sering kali kamu mengajakku begadang ketika kamu sedang entah terlampau bahagia atau terluka. Kamu akan mengajakku bercerita. Setelah itu aku akan meriang esoknya.

Apalagi ketika kamu sakit dan harus menginap di rumah sakit selama beberapa malam. Aku nyaris tidak tidur ketika itu. Keluargamu yang jauh di sebrang pulau, kesuliran untuk datang, jadi aku yang menjagamu. Menyediakan semua yang kamu ingin, Begitu hari kamu boleh pulang, kamu bersama perempuan itu. Dan aku naik taksi, sendirian.

Banyak peristiwa setelah kamu bermain hujan yang kedua kalinya itu. Kebanyakan aku menemainmu sampai larut malam untuk bercerita, atau membelikanmu Chitato, Kopi, atau Soft Drink kesukaanmu sekalian perjalanan pulang dari kampus. Kadang, kamu datang ke rumah tengah malam. Setelah apa pun, aku akan menemanimu dan ikut begadang denganmu. 

Ah, aku ingin tau kenapa aku berada di sini, mengenalmu, dekat denganmu. Apa ini takdir atau hanya sebuah keadaan acak yang kebetulan menimpaku. Yang jelas, dua minggu lalu, aku menerima undangan pernikahanmu.

Sudah cukup lama kita tidak bertemu. Sekitar 6 bulan ya? Secepat itu? Nama perempuan di undangan itu, nama perempuanmu yang dulu selalu kamu ceritakan itu. Kamu dan dia? Kamu pasti sedang iseng kan? Iya, kan? Aku mengusap undangan itu, dengan niat menghapusnya atau mungkin akan berganti nama ketika diusap. Nama yang tertera tetap sama.

Dan sekarang, hujan deras ini membawa ingaranku tentangmu. Besok adalah hari pernikahanmu. Aku kebingungan mau datang dengan pakaian apa. Ah, bagaimana jika aku tidak usah datang saja? Tapi aku ingin bertemu denganmu. Aku rindu.

Kamu lihat tetes hujan deras di luar itu?
Sebanyak itu pula rinduku padamu

Oiya, waktu aku tadi bilang kalau seseorang pasti tau ketika dia dicintai. Kamu juga pasti tau kan kalau kamu dicintai? Olehku?

Hujannya tambah deras. Aku menghentikan bis entah ini di daerah mana. Turun dan bermain hujan sambil tertawa. Aku melakukan sesuatu persis seperti yang kamu lakukan ketika hujan dan kesedihan datang bersamaan. Bermain hujan.

Orang-orang pasti melihatku seperti sedang sangat bahagia bermain hujan. Mereka tidak tau, sama sekali tidak ada ide. Yang tau hanya aku. Eh, kalau kamu melihatku, kamu juga pasti tau apa yang kusembunyikan melalui tetesan hujan di mata dan pipiku. Benar kan?

0 komentar:

Welcome to my little world

Diberdayakan oleh Blogger.

Temukan Aku di...

Followers

© Bienvenue, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena