Welcome to my little world

Kamis, 19 Juli 2018

Aku dan Kamu, atau Kami?

Yogyakarta, 19 Juli 2018

Kamu adalah penggemar musik pop yang mendayu-dayu yang sebenarnya membuatku mengantuk, aku adalah penggemar musik alternative rock yang katamu membuat pusing kepala saat didengar. Tapi pada saat kamu asik mendengarkan musik-musik kesukaanmu aku pun akan berusaha ikut mendengarkan tanpa tertidur, begitu juga kamu. Saat aku mendengarkan aku tau kamu berusaha mendengarkan tanpa mengeluh.

Kamu suka sekali makanan pedas, aku sama sekali tidak pernah makan pedas. Akhirnya aku sering berusaha menambahkan beberapa tetes sambal pada makananku agar aku bisa belajar makan pedas dan kamu mulai mengurangi makanan yang menurutku mengerikan warna merahnya.

Kamu tidak suka aku berpakaian ala kadarnya, dan aku tidak suka dia menggunakan parfum terlalu menyengat. Katamu, untuk dihormati kita harus lebih dulu menghargai diri sendiri. Lalu karena menghargaimu dan karena emenag benar, aku mengurangi berpergian hanya dengan pakaian mau tidur atau berpakaian asal-asalan. Kamu juga menghargaiku, jadi apa pun yang berharga seharusnya tidak diumbar kemana-mana. Dan kamu juga mulai tidak berlebihan menggunakan parfumnya. Katamu tidak harus berkemeja saat pergi, tidak harus berlengan panjang dan formal, kaos pun tidak apa-apa selama kamu tetap rapi. Kami tidak berusaha menjadi orang lain, tapi kami mau berubah untuk pasangan masing-masing. Kami menjadi diri kami sendiri dengan versi yang lebih baik.

Aku suka membaca. Kemana-mana aku selalu membawa 1 buku bacaan dan 1 buku lagi untuk menulis, tidak lupa dengan alat untuk menulis. Itu seperti salah satu kewajibanku dan aku akan merasa mudah sekali bosan ketika aku meninggalkan salah satunya. Beberapa buku sudah kubaca sampai sampulnya kucel. Hampir mirip denganmu yang gila dengan angka. Kamu membaca angka dan aku membaca huruf. Kemana pun kamu pasti membawa soal yang menurutku itu ribet untuk di selesai kan. Ketika buku soalmu rusak kamu pasti akan langsung ke tukang fotokopi untuk memperbaikinya. Ini cukup menggelikan untukku. Kamu mengerjakan soal angka dan musik yang kamu dengarkan mendayu-dayu seperti itu, apa kamu tidak merasa mengantuk dengan seperti itu? Dan karena kamu tau aku sangat suka membaca dan menulis segala yang lewat di imajinasiku, kamu sering membelikan buku entah itu note kosong atau buku bacaan. Atau kamu juga sering menemaniku ketempat bedah buku penulis-penulis favoritku.

Aku suka nonton. Apa saja kecuali film-film sadis. Bukan apa-apa, aku hanya tidak suka setelah fim aku akan merasa seperti diikuti oleh sang pembunuh. Atau aku akan membayangkan yang aneh-aneh. Kamu pun untungnya juga suka nonton. Jadi, kami sering nonton berdua. Kami pernah menonton banyak film mulai dari kartun, action, romance

Tapi kamu tidak pernah memaksaku menonton film sadis, begitu juga dengan aku yang tidak pernah memaksamu untuk menonton film horor. Jadi, dia dengan segala kemachoannya tidak bisa menonton setan yang mondar-mandir mengejutkan ditambah dengan audio nya yang seram. Katamu, "lebih baik ketemu manusia sadis yang jelas bisa dilawan kalau ketemu hantu gitu gimana ngelawannya orang nyentuh aja susah." Maka dari itu kedua jenis film ini kami tidak pernah menonton hanya berdua, kalau tidak kami bersama teman-teman ya aku nonton horror sama teman-temanku dan kamu nonton film sadis bersama temanmu. Jadi kami masih bisa saling mencintai tanpa harus memaksakan diri. 

Kami sama dalam hal suka bermain game. Hanya saja game kita berbeda. Kamu suka game strategi yang sangat banyak berfikir. Kamu selalu bermain seolah-olah kamu  komandan lalu mempunyai pasukan untuk membangun dan mempertahankan wilayah. Kalau kalah, kamu akan menggerutu, tapi kamu lebih sering menang sih. Meski tidak jarang kamu menyerah duluan saat melihat bagaimana aksi musuhmu (aku sering menertawakanmu saat itu. Kemudian aku akan memamerkan game yang sering aku main kan yang tidak ada kalah atau menang hanya naik ke level berikutnya) Bagusnya, kamu tidak pernah menggunakan cheat, "Kalau emang harus kalah yaudah kalah aja, kalau pake cheat itu menangnya enggak ada rasanya" What? Rasa? Rasa coklat?

Kalau kamu sudah main game seperti itu, aku akan menemanimu kadang juga sambil bermain game atau kadang membaca buku atau kadang menulis entah apa itu. Kami berbeda, tidak harus sama. Tapi masih bisa saling menemani bahkan untuk hal yang berbeda.

Aku selalu tidur lebih awal darimu, sementara kamu justru terbiasa begadang. Kadang kamu akan pura-pura tidur lebih cepat dari biasanya (iya aku tau kmu pura-pura tapi itu tidak masalah) atau aku yang ikut begadang menemanimu. Aku akan membuat coklat panas, lalu mengerjakan beberapa pekerjaanku yang sebenernya tidak harus lembur. Lalu aku akan berkata, "Aku tidak bisa tidur. Lagian kalau kerjaan ini selesai sekarang kan besok pagi bisa santai."

Kami juga pernah bertengkar. Dari kami bersama, kamu sudah mengatakan bahwa tidak bisa menjamin kalau hidup kami akan dipenuhi bahagia dan tawa setiap saat. Ada kalanya dia akan marah, atau aku yang akan bosan lalu aku hanya berdiam diri.

Kamu memang pendiam, aku tukang ngomel. Kamu yang sabar, aku yang cepat bosan. Kamu yang tertawa, aku yang menceritakan lelucon garing untukmu. Kamu yang banyak menasehati, aku yang banyak seperti anak kecil.

Tetapi pada saat kamu marah, aku akan berusaha diam. Sulit memang, tapi kalau saling ngotot, itu selalu memperburuk keadaan. Aku tau, kamu kalau marah, berarti aku memang berbuat salah ata kamu yang sedang sangat lelah. Jadi, aku akan tetap membuatkan kopi dan akan membiarkanmu merasa nyaman dengan dirimu sendiri. Kemudian nanti biasanya kalau kamu sudah tenang kamu akan meminta maaf karena sudah marah. Lalu kami akan berbicara seperti biasa lagi. Kalau aku yang marah, kamu akan berusaha menghiburku dengan banyak hal, yang sebenarnya kadang aku merasa itu konyol saat kamu melakukannya.

Bukan berarti kami tidak pernah bertengkar hebat dan saling mengancam untuk berpisah. Tentu saja pernah. Berdebat siapa salah siapa benar. Tetapi, kenapa hars selalu dibuktikan siapa yang benar dan salah, kalau pada akhirnya itu akan melukai salah satunya? Kenapa tidak yang salah menyadari kalau dia salah dan yang benar tidak terlalu menyalahkan?

Dari sana kami belajar, semua masalah harus diusahakan sebelum kamu atau aku berpamitan akan pergi tidur. Jadi tidak ada yang memendamnya. Memang tidak selalu berhasil. Tapi kami berjanji untuk terus mengusahakannya.

Jelas, kamu berbeda pada banyak hal. Tetapi tidak harus salah satu mengikuti yang lainnya. Kam hanya harus berkompromi. Karena alasannya sesederhana kami saling mencintai. Jika cinta kami sama, kenapaharus meributkan semua perbedaan?

0 komentar:

Welcome to my little world

Diberdayakan oleh Blogger.

Temukan Aku di...

Followers

© Bienvenue, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena