Welcome to my little world

Rabu, 18 April 2018

Bagian Terburuk?

Yogyakarta, 18 April 2018

Tidak ada lagi yang sama. Tempat yang biasa kita kunjungi, kedai makan langganan kita, atau warung siomay pinggir jalan dekat dengan komplek rumahmu. Rasanya sih sama saja, tetapi tetap suasanya ada yang berbeda.

Dulu, kalau ada kamu, aku menikmati hampir setiap detiknya. Sekarang, aku ingin cepat-cepat berlalu semuanya. Sayang sekali, semua tempat itu adalah tempat yang memang aku suka, jadi mau bagaimana lagi, aku akan sering ke sana demi menikmati kesukaanku itu.

Setiap kali di tempat-tempat itu, bayanganmu kadang tiba-tiba dengan datang entah dari mana. Di depanku sambil tersenyum, mengambil siomay sambil berbincang dengan akang nya entah mungkin karena kamu terlalu sering membeli di sana jadi akrab gitu, atau kamu mengerutkan dahi setiap aku menambahkan kecap setiap kali makan, ya kamu tidak begitu suka dengan kecap karena menurutmu makanan manis itu aneh rasanya. Kamu tau aku selalu melakukannya, tapi kamu tetap saja berkata "Idih apa enaknya coba" dan aku hanya akan membalas dengan ejekan.

"Kalau kita terus bersama sampai dewasa nanti gimana ya? Apa kamu bakal bisa makan masakanku yang banyak pakai kecap gini?"

"Bersama sampai dewasa ya? terus bersama itu kompromi." Yap pasti ini akan butuh jawaban panjang. Kamu selalu berhenti sejenak jika akan menjawab sesuatu dengan kalimat panjang. Seperti berpikir.

Usia kita memang hanya terpaut 8 bulan. Aku belajar banyak tentang hidup dari kamu, banyak yang aku tau betapa kadang hidup harus banyak pilihan, ya dari kamu. Orang bilang, dewasa itu pilihan. Ya, kadang-kadang. Kalau memang orang itu memilihnya. Dan kamu memilih pilihan yang dewasa menurutku pada usia yang belum terlalu banyak, dan lagi itu menurutku. Aku menyukaimu karena menurutku kamu dewasa. Ya, cukup dewasa untuk mengimbangiku yang masih kekanak-kanakan dan manja. Bahkan sering dibilang aku sama dengan muridku.

"Biasanya," lanjutmu "Kamu mungkin akan sering aku ajak makan keluar, dan mungkin aku akan belajar menyukai kecap saat aku makan di rumah nanti. Bisa jadi lama-lama aku akan menyukai kecap dan kamu menyukai asin. Pada intinya, banyak yang akan berubah. Itu si sudah pasti. Karena seharusnya, dua orang akan mulai berpikir 'Kita' bukan lagi 'aku begini' dan 'kamu begitu'." tegasmu.

Aku hanya bisa mangut-mangut tanda pura-pura paham saja. Dan kamu paham bahwa aku hanya mendengarkan dan tidak yakin akan seperti itu. Ya, kamu mengenalku sebanyak itu.

Sedetik kemudian, aku akan menutupi pipiku dengan kedua tanganku. Sebelum kamu mengangkat tangan kemudian mencubit pipiku. Karena memang biasanya kamu akan melakukan hal seperti itu jika aku sudah bertingkah yang menurutu seperti anak kecil. Ya, aku juga mengenalmu sebanyak itu.

Kita, bahagia ketika bersama atau bahkan ketika berjauhan tapi tetap sering bertegur sapa. 'Selama kita jatuh cinta', begitu katamu ketika aku mengatakan ingin tetap perasaan bahagia itu ada selamanya. Saat itu aku tidak tau kenapa kamu berkata seperti itu.

"Selama kita  jatuh cinta" dan aku baru menyadarinya akhir-akhir ini. Aku menyesal setiap kali kaliamat itu terulang dalam bayangku.

Kita memang tidak pernah tau apa yang akan terjadi nanti. Sejatuh cintanya kita, bisa jadi sepatah hati itu juga nanti. Sebahagianya kita, bisa jadi seberduka itu nanti. Kita berusaha untuk berbahagia dengan yang ada, tapi belum tentu memang itu yang nanti akan menjadi bahagiamu yang sebenarnya. Sama seperti kamu.

Aku sudah berusaha mewujudkan selamanya untukmu. Mengusahakan semua sebahagiamu.

Lalu kamu pergi. Kamu bilang aku berubah, mungkin karena ada orang lain. Tidak ada orang lain sebenarnya, kamu hanya mencari alasan untuk meninggalkan. Kamulah yang berubah menjadi orang yang tak aku kenal. Kamu bilang kita tidak lagi nyaman bersama. Aku merasa biasa saja, tidak berubah, nyaman-nyaman saja. Entah mungkin aku yang tidak peka rasa. Hingga kamu menjawab semua pesanku dengan "Hm" atau "Ok" atau "Ya" atau "Tidak" dan tidak ada kalimat selanjutnya. Tidak ada kalimat menanyakan bagaimana hariku atau menanyakan ada tugas yang harus aku kerjakan atau tidak. Aku merasa nyaman-nyaman saja, sampai untuk bertemu kamu saja adalah sesuatu yang sangat sulit.

Aku yang ada orang lain, atau kamu? Kita yang tidak lagi nyaman, atau kamu yang sudah mendapatkan kenyamanan baru?

Sudahlah lupakan. Aku tidak ingin jawabanmu. Semua jawaban sudah ada tanpa kamu perlu berkata apa-apa. Mungkin ini memang lebih baik untuk kita daripada kita pura-pura semuanya tidak ada masalah. Aku tidak pandai dalam berpura-pura.

Kalau memang itu yang kamu mau, aku akan menerimanya semampuku. Aku tidak akan menangisimu, ah bohong. Aku akan menangisimu, sebentar saja tidak akan lama-lama. Seperti yang pernah kamu bilang, kita tidak tau akan bersama siapa di masa yang akan datang. Aku selalu berharap yang terbaik, dan bersiap untuk kemungkinan apa saja yang akan datang baik ataupun buruk. Kita bersama adalah harapan terbaikku sebenarnya. Dan kita berpisah adalah kemungkinan terburukku. Yah, setidaknya aku siap untuk bagian yang terburuk.

Mungkin kamu bukan bahagiaku, meski aku pernah mengiranya begitu. Aku sudah bersiap untuk hal terburuk, apapun itu. Bahkan kamu meninggalkanku pergi untuk orang lain. Aku sudah siap untuk itu. Maka aku hanya akan menangis sebentar saja. Namun aku hanya tidak mengira, orang yang kamu pilih adalah teman dekatku.

Aku hanya belum siap dan belum merencanakan untuk itu.

0 komentar:

Welcome to my little world

Diberdayakan oleh Blogger.

Temukan Aku di...

Followers

© Bienvenue, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena