Welcome to my little world

Minggu, 10 Desember 2017

Untuk Ibu

Yogyakarta, 10 Desember 2017

Aku sulit menyampaikan salam pembuka untuk surat ini. Akankah dimulai dengan sapaan atau langsung masuk pada inti pembicaraan?

Baiklah. Mungkin akan kumulai masuk dalam inti saja ya.
Bu, aku menyayangimu, sangat. Dan aku bangga dengan segala keriwehan dan segala aturan yang kau terapkan. Aku menerimamu, seperti halnya Ibu menerimaku, mungkin. katanya tidak akan pernah ada cinta yang lebih alus dari cinta seorang Ibu terhadap anaknya. Iya kan Bu?

Seringkali aku merasa aneh dengan keadaan saat ini. Aku seperti berada di tepi jurang, dan Ibu berada di tepi jurang satunya. Kita seperti di sebuah tanah lapang yang sama kemudian tanah tempat kita berpijak itu terguncang gempa dan kemudian hal tersebut memisahkan kita. aku merasa menjadi anak durhaka, Bu. seperti anak yang tidak tau diri dan tanpa henti menuntut. Aku sadar diri, seharusnya dengan usiaku saat ini aku sudah dapat memberimu sesuatu, bukannya malah menuntut. Tapi apa lagi yang bisa aku lakukan?

Ibu, taukah Ibu kalau aku selalu berusaha menjadi anak yang baik? Berusaha mendengarkan setiap perkataan Ibu, berusaha menahan emosiku saat Ibu memarahiku, meskipun kadang karena hal yang menurutku kecil. Selalu berusaha menerima tanpa menuntut. Tenang Bu. Aku bukan anak yang bodoh, Bu. Ibu tidak perlu mengingatkanku tentang perjuangan Ibu selama ini. Aku tau dan aku masih menginatnya dengan sangat jelas.

Aku tau Ibu telah berusaha menjadi orang tua tunggal yang baik setelah Bapak pergi dan aku rasa itu berhasil, sangat berhasil. Aku tau, Ibu telah melakukan segala cara untukku agar segala kebutuhan dan keinginanku terpenuhi. Aku hampir tau segala tentang Ibu setelah Bapak pergi. Aku sangat sangat bangga padamu, Bu.

Bukan hanya sekali atau dua kali aku membentakmu, menjawab nasehat-nasehatmu dengan bibir yang mengerucut, menyakiti hatimu dengan tingkah dan kelakuanku yang tak pernah dewasa ini. Well, aku sadar Bu dan aku tidak menutup mata akan hal itu. Namun aku sering kali tidak bisa menahan emosiku. Maafkan aku untuk itu semua, Bu.

Ibu, aku rindu. Rindu kehidupan kita yang baik-baik saja dulu, sebelum Bapak pergi. Aku rindu kedekatan kita yang dulu, meski kadang kita bertiga berselisih paham. Aku sangat rindu dengan obrolan kita dulu. Rindu dengan jutaan waktu yang dihabiskan hanya untuk bercanda ria.

Rasanya kini aku berjarak denganmu. Rasanya kini, apapun yang aku lakukan sering kali selalu salah di matamu, Bu. Rasanya kini, aku bukan lagi seseorang yang baik-baik. Rasanya kita terlalu banyak yang berubah, Bu.

Aku memang (terlihat) keras seakan tanpa sensitif ketika berhadapan dengan Ibu. Namun apakah Ibu tau bahwa aku setengah mati menahan apa yang kurasa saat aku harus selalu membuatmu kesal dan kecewa? Saat Ibu merasa kecewa dengan kku, aku jutaan kali merasa kecewa dengan diriku sendiri juga, pun dengan Ibu. Aku selalu berusaha menutupi semua perasaanku diatas semua yang terjadi pada kita.

Bu, aku memang kini jarang berada di rumah. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang selalu hampir 24 jan di rumah. Aku memang kini terlihat seperti menghindari rumah dan mungkin Ibu mengira aku juga menghindari Ibu. Namun sebenarnya aku sedang berusaha menata hatiku, menata emosiku dan juga menata hidupku. Bukan hanya untukku, tapi untuk kita.

Bu, aku selalu mengecewakanmu. Aku tau itu. Aku sadar akan hal itu. Namun bisakah aku mint untuk mencoba tidak membuatku merasa semeakin buruk? Aku benci Bu, saat aku harus membentak ataupun membuatmu sakit dan kecewa. Aku benci Bu, saat aku harus menahan perasaan ini dan seolah memusuhi Ibu. Aku benci dengan semua ini.

Bu, mungkin surat ini kurang ajar. Bukan surat cinta yang Ibu bayangkan akan Ibu terima. Tapi aku membuat ini untukmu, Bu. dengan segala ketulusan dan kejujuran. Aku menyayangimu, bangga padamu, dan aku sangat sangat beruntung menjadi anakmu. Aku tau bahwa hidup semakin hari akan semakin keras dan aku berusaha melawannya, Bu. Meskipun mungkin Ibu rasa itu belum cukup.

Bu, maafkan aku untuk semua ini. Untuk semua kekacauan yang aku buat. Untuk semua kekurang ajaran yang dengan sadar aku tunjukkan. Untuk emosi dan kedataran yang aku ciptakan. Aku hanya merindukanmu, Bu. Merindukan kita yang dulu. Juga Bapak. Aku mencintai kalian, Bu. Semua; tanpa terkecuali; tanpa melebihkan satu sama lain. sejak 21 tahun yang lalu.

Tertanda

Anakmu, yang selalu menyusahkanmu :heart:

0 komentar:

Welcome to my little world

Diberdayakan oleh Blogger.

Temukan Aku di...

Followers

© Bienvenue, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena