Welcome to my little world

Minggu, 19 November 2017

Who Am I

How I wish I can say “I proud to be a teaching student”


Gimana rasanya kalo apa yang selama ini kamu kejar akhirnya kesampaian? Seneng dong ya? Bahagia? Iya, harusnya sih gitu. Dan pada awalnya emang aku juga ngerasa hal yang sama. Jadi mahasiswa di salah satu PTN yang selama ini aku kejar. Itu sesuatu yang patut dibanggakan. Berapa banyak orang yang mau berjuang sungguh-sungguh untuk duduk di posisiku saat ini? Enggak kebayang bagaimana bakal bahagianya orang-orang yang mau ada di posisiku saat ini kalau aja aku tawarin tukeran sama aku.
Waktu pertama kali dapet pengumuman lolos, aku Cuma bilang “Iya, Alhamdulillah.” Yaps, That’s all. Enggak lebih enggak kurang. Ya, walau pun sebelum pengumuman aku pernah bilang kalau aku diterima aku bakal lakuin sesuatu. Tapi setelah buka pengumuman dan diterima. Ekspresiku, yagitu kayak yang yaudah gitu. Datar. Aku agak benci ngakuin kalo keberhasilan itu bukan suatu prestasi yang perlu aku banggain. Aku masih terpikir ISI Jogja dan Universitas Udayana Bali. Aku merasa masuk UNY bukan suatu prestasi. Tapi memang hal yang sudah diharuskan.
Pernah aku ditanya sama orang “Gimana rasanya masuk UNY? Bangga enggak?” dan aku sangat amat ingat jawabanku “Ya gini. Biasa sih.” Dan kemudian orang itu bilang “Gila. Aku aja mati-matian biar bisa masuk UNY. Eh kamu bilang biasa aja.” Dan disitu aku Cuma senyum. Karena saat itu buatku masuk UNY cuma penuntasan suatu misi yang diberikan oleh orang tua. Ya, memang ada rasa puas bisa tuntas dari misi tersebut, tapi ya aku belum bangga atau yang terlalu gimana gitu. Bahkan ketika tetangga-tetanggaku heboh dengan embel-embel PTN aku Cuma senyum-senyum aja. No sense.
Kemudian aku ikut TM OSPEK. Kenal sama orang-orang baru. Kenal lingkungan baru juga, dan aku masih tetap belum merasa aku bangga ada di sini. Sampai akhirnya aku ikut OSPEK, di situ aku mulai merasa nyaman degan lingkungan baru ku. Dan mulai merasa memiliki kewajiban untuk bangga dengan lingkungan baruku. Tapi, ya tadi sebatas kewajiban, keharusan, bukan suatu keinginan. Ya gimana mau enggak ngerasa harus bangga sama almamater. Selama 5 hari aku pake terus tuh almet dari pagi sampai sore. Ke GOR-Ke Jurusan-Ke Lapangan FIP. Kemana aja di kampus pake tu almet. Akhirnya jadi timbul keharusan aja dalam diri buat bangga sama almetku ini.
Tapi setelahnya, aku mulai ngerasa aneh sama diri sendiri. Rasa yang kayak kurang nyaman tapi berlebihan, mungkin karena menghadapi banyak sifat-sifat baru di kelas. Sifat-sifat yang mulai kebuka di kelas. Tapi ada satu lagi yang lebih kerasa. Bentrokan keras yang ad adalam diriku sendiri, sampai akhirnya ada pertanyaan:

“Gimana akhirnya besok kalau udah dari awal gini enggak ada minat? Gimana kalau seandainya aku masuk ISI atau UNUD pun cuma berusaha menuhin egoku aja tanpa peduli sama passionku sebenernya? Gimana kalau ternyata semua ini cuma kesalahan. Cuma ilusi aja tanpa ada jalan yang tepat buatku?”

Memang dari kecil urusan tentang pendidikan Una (Ibu_re) selalu memilih yang terbaik bagiku (menurutnya) dan sekitarnya, sesuai kemampuanku. Tapi ya kadang sesuai kemampuanku itu menurut Una. Bukan aku. Dari umur 1 tahun aku sudah mulai diajarkan musik-musik dibiasakan mendengarkan nyanyian-nyanyian anak mulai dari yang bahasa Indonesia sampai lagu My Bonnie, Are You Sleeping, dan Twinkle-Twinkle Little Star. Umur 2,5 tahun aku sudah disekolahkan. Memang ini permintaanku sendiri tapi Una memasukkanku ke sekolah yang teman-temannya sudah dapat menulis dan membaca. Disana aku ‘sedikit’ merasa harus bisa. Dan Alhamdulillah belum genap 3 tahun aku sudah mengenal huruf. Di usia 7 tahun Alhamdulillah sudah hapal perkalian dasar. Ya gitu seterusnya, dituntut harus bisa sama dengan teman-temannya (yang menurutku kadang menyebalkan). Una adalah seorang Guru, maka Una biasa mentargetkan semua-semuanya. Dan itu berimbas ke aku. Yang apa-apa serba di target. But, I think I’m fine.
Dengan latar belakang yang seperti itu, aku memang merasa kalau aku jadi punya banyak hal yang menonjol dari diriku. Aku kuat dibidang matematika dasar (benar-benar dasar) terbiasa menghitung tanpa kalkulator, bisa membuat beberapa makanan dan kue, lumayan mandiri, kerja keras, dan udah terbiasa sama kerjaan rumah, dan kadang ada masalah-masalah di luar usiaku. Semua itu karena didikan Bapak dan Una. Dan saat sadar hal itu, aku merasa sangat-sangat beruntung punya orang tua seperti mereka. Semua ‘senjata’ yang dibutuhkan untuk bertarung di kehidupan besok-besok udah disiapin, dibiasain, dilatih oleh mereka, jadi aku enggak terlalu kaget waktu ada hal-hal diluar dugaan tiba-tiba datang. Tapi yang menjadi masalah sekarang adalah:

“Apa passionku sebenarnya?”

Kenapa aku mulai berpikir kayak gitu? Karena mendadak aku merasa, aku begini, mencoba mengajar dan lainnya, ngambil dan milih jurusan Guru. Itu semua karena didikan Una. Una yang suka mengajar (mempengaruhi orang-orang disekitarnya) dan membiasakanku berlatih seperti itu. Jadi lama-lama aku terbiasa atau menyukai jika disekitarku ada orang yang bisa ya bisa aku ajak untuk rame. Oke, itu lebay, tapi ya gitu kenyataannya.



How about being a chef? Is it my passion?

Selanjutnya aku pernah berpikiran untuk sekolah pariwisata dan kemudian menjadi seorang chef. Apa iya itu passionku? Aku sendiri juga tak yakin. Aku juga merasa aku mau jadi chef hanya karena didikan keluarga juga. Dimana aku kalau mau makan dan waktu itu tidak ada makanan, aku harus bisa menyediakan makanan sendiri dengan kata lain harus bisa masak sendiri dan dikit-dikit bisa ngebuat kue-kue sederhana. Bukan karena aku mau sendiri. Dan yang kedua, prospek seorang chef itu juga menggiurkan buatku. Jadi chef itu, sekolah sebentar untuk masa depan dengan uang yang berlimpah. Ya, kata orang-orang sih gitu. Jadi, aku juga tidak yakin bangen sama chef ini. Aku bahkan enggak tau ini beneran passion atau apa. Kata Una dari dulu bilang kalau beliau ingin punya usaha catering sendiri. Dan rasanya it utu jadi doktrin dan akhirnya aku menaruh itu sebagai salah satu list longtermku, punya catering sendiri.

How about being author

Ketika semuanya jadi semakin mengganggu pikiranku. Akupun akhirnya mencoba buat mencari kejujuran di hatiku yang sebenarnya. Dan kemudian aku tiba-tiba keinget kalo aku ini suka banget nulis, suka banget ngebaca banyak hal, terus aku mencoba buat nulis lagi juga. Aku merasa aku ini tipe orang yang lebih mudah dalam mempelajari bahasa, hanya lewat musik dan film kemampuan bahasa Inggris ku yang dulu hancur banget, dalam waktu kurang lebih 6 bulan dapat merangkak naik ya lumayan banyak namun belum sesuai juga dengan target ku. Aku ini orangnya penasaran banget dan aku suka sesuatu yang menghibur orang tapi aku kurang suka dengan seni dan segala aturan estetikanya itu tapi aku bahagia saat orang dapat menerima  karyaku atau aku bisa melihat orang lain bahagia atau ya lumayan hilang bete nya karena aku. Sastra. Aku suka nulis, aku suka orang lain bahagia, aku suka hiburan, aku suka berimajinasi, suka menghayal, dan semua ini aku dapat dari Sastra. Apa ini namanya passionku? Tapi apa iya aku harus meninggalkan semua yang udah aku raih demi ini?



What about psychology?

Aku selain suka melihat orang lain bahagia, aku juga suka mendengarkan oranglain saat mereka ada masalah, kadang aku memberi saran kadang aku hanya mendengarkan, ya sebenernya cerita apapaun bukan Cuma masalah saat mereka bahagia juga aku suka kok mendengarkan. Aku suka jadi tempat orang lain cerita, aku suka jadi yang dipercaya, aku suka dianggap mampu dimintai saran. Di sisi lain aku juga kebetulan kada ng bisa menebak sifat orang dengan sekali melihat dia dan mendengar dia berbica dan kebetulan juga kadang benar tebakanku. Uniknya lagi, aku bisa membentengi diri dari apa kata orang lain terhadap ku. Dan beberapa temanku banyak yang menyarankanku masuk ke jurusan psikologi saat sedang heboh-hebohnya pendaftaran kuliah. Apa jangan-jangan memang ini passionku?



May be a director?

Dan ini yang terakhir, bisa juga dibilang ini sisi kelam dariku. Aku suka memerintah orang. Aku suka merangkai sebuah jalan cerita. Dan aku suka melihat film,tv series, atau apapun sebagainya dan kemudian mengkritiknya. Saat ada tugas membuat film saat masih di bangku sekolah dulu aku sangat semangat. Mulai dari naskah, properti, sampai setting yang akan digunakan saat pengambilan gambar itu semua aku menawarkan diri untuk mengaturnya. Ya memang ujungnya repot sendiri tapi entah kenapa suka sekali saat itu. Namun sayangnya saat aku bilang ke keluargaku untuk melanjutkan kuliah di bidang-bidang per’film’an gitu mereka kurang setuju, alasannya ini hanyalah sekedar hobi ku dan itu bisa nanti dilatih lagi lewat Unit Kegiatan Mahasiswa atau otodidak. Sebenernya sebel sama alasannya, tapi mau gimana lagi. Kalo mau nekat tetep ambil takutnya bener itu cuma hobi terus aku bosan.

So, aku sampai sekarang masih bingung sama namanya passionku, tapi aku yang sekarang ini ada di Keguruan mulai merasakan ke-enggak-nyaman-an aku dengan apa yang aku jalani sekarang. Bukan karena teman-temanku, tapi karena diriku sendiri. Teman-temanku mereka luar biasa membuatku senang. Iya si emang ngerasa satu egoku terpenuhi saat bisa masuk ke PTN tapi ada satu bagian dalam diri aku seolah-olah hampa. Seperti ini bukan aku yang bener-bener aku. Beberapa teman bilang aku pantas ada di Keguruan ini karena memang aku bisa cukup dekat dengan anak kecil. Beberapa yang lain bilang harusnya aku jadi chef atau enggak aku kuliah di Tata Boga. Sebagian ada juga yang bilang harusnya kuliah di Psikologi karena memang mereka sering melihatku membaca buku-buku psikologi. Dan yang lain lagi bilang harusnya aku kuliah di Sastra. Yeah, I don’t know.

WHO AM I?

0 komentar:

Welcome to my little world

Diberdayakan oleh Blogger.

Temukan Aku di...

Followers

© Bienvenue, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena