Welcome to my little world

Kamis, 21 Desember 2017

Ketika Aku Seusiamu

Yogyakarta, 21 Desember 2017

Tulisan ini untuk adik kesayanganku. Kuncup-Kuncup mungil yang sedang menunggu masanya untuk bermekaran. Nada-nada ceria yang sedang menanti wajtunya untuk berlagu.
Dik dulu ketika aku seusiamu, aku berfikir akan menyenangkan sekali jika cepat tumbuh jadi orang dewasa. Akan menyenangkan sekali boleh melakukan apa saja, pergi kemana saja, dan bermain sepuasnya. Jangan ada lagi teriakan Ibu menyuruh mandi atau omelan Ayah saat aku nakal pada tetangga.

Jangan, mereka itu pengganggu. Sungguh, perusak waktu bersua dengan teman-temanku. Aku ingin segera bebas, lepas, terbang seperti kupu-kupu, bergerak tanpa belenggu.

Ketika aku seusiamu, terapal bermacam-macam cita-cita, jumlahnya mungkin sebanyak pasir yang di bawa oleh Gaara. Tanpa sekerat takut, tanpa secuil ragu. Impianku kuabsen satu demi satu.

Nanti saat aku dewasa aku ingin menjadi kata, ingin jadi pemahat warna, ingin menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Ah, jadi semakin tidak sabar menunggu masanya tiba.

Ketika aku seusiamu, aku benci. Benci sekali menjadi aku yang seusiamu. Ketika aku seusiamu, aku tidak mau terus menerus menjadi aku yang seusiamu. Aku ingin berkuasa atas hidupku, tidak selalu diatur-atur seperti bocah.

Tapi itu dulu. Dulu sekali. Sekarang saat aku tidak lagi seusiamu, semuanya berubah. Jadi serba susah, resah, dan masalah layakmya tumpukan sampah yang tumpah ruah. Kegagalan demi kegagalan mulai teralami. Impian dan cita-cita mulai terhapusi. Waktu dan hari-hari terasa memusuhi.

Dik, aku jadi takut bermimpi, aku tidak lagi yakin pada kemampuan diri. Jadi sering menyalahkan keadaan. Mengeluhkan takdir Tuhan yang bersimpangan dengan keinginan. Ternyata Dik, sekarang itu sulit. Banyak perkara rumit, seumpama sulur yang melilit-lilit.

Ternyata Dik, jadi dewasa itu tidak enak. Mahal untuk bisa tidur nyenyak. Hati dipaksa bekerja lebih keras, mencerna kecewa. Keringat mengalir lebih deras diperas usaha.

Saat aku tidak lagi seusiamu. Aku belum siap, belum siap jadi dewasa. Aku ingin tetap jadi putri kecilnya Ibu. Tetap jadi bocah manjanya Ayah. Saat aku tidak lagi seusiamu, aku bertanya, bisa kah aku kembali pada masa ketika aku seusiamu?

Tapi tenanglah, tegarlah. Kuncup-kuncup mungilku tidak perlu takut pada masa yang akan datang. Ketika Adik seusiaku, Adik pasti akan lebih siap, Adik pasti akan lebih tangguh. 

Kesalahan hanya milikku yang bodoh. Gelap hanya milikku yang penakut. Penyesalan, itu juga hanya milikku. Kakakmu yang pemalas. Sedang kamu tidak sepertiku, tidak boleh seperti aku.

Nada-nada ceriaku tidak perlu sendu hadapi masa depanmu. Ketika Adik seusiaku, Adik akan buat bangga Ayah serta Ibu. Jangan ragu, tuntaskan perjuanganmu, obati kegagalanku.

Ketika Adik seusiaku, dunia akan tunduk kepadamu. Tunduk kepada Adik kesayanganku.

Best regard: Ima

0 komentar:

Welcome to my little world

Diberdayakan oleh Blogger.

Temukan Aku di...

Followers

© Bienvenue, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena