Welcome to my little world

Jumat, 03 Desember 2021

Mengumbar Luka

 Yogyakarta, 3 Desember 2021

Hidupku ini lucu, atau mungkin, aku sendiri yang membuatnya lucu. Entah dari man adatangnya catatan ini, tapi aku tau pasti catatan ini ditulis karena ada dorongan dalam hatiku untuk melakukannya.

Seperti biasa, setiap kali aku menulis catatan, yang aku lakukan adalah bercermin dan memandang diriku kembali sebagai sosok seorang manusia. Kali ini, aku ingin mengangkat sisi burukku yang belakangan baru aku sadari dan mencoba untuk menemukan jawaban dari masalah itu.

Hidup seseorang tidak pernah mulus. Pasti ada saat dimana ia jatuh dan terluka ーentah itu luka yang tampak di tubuh atau luka yang menyerang perasaan. Semua luka itu menlekat dan membekas, dan perlahan-lahan membentuk diri kita sebagai sosok manusia yang sekarang hidup.

Diri kita yang sekarang, tidak pernah bisa lepas dari luka-luka yang telah kita alami di masa lalu. Aku percaya itu. Misalnya saja saat kita terjatuh dari sepeda dan lutut kita terluka hingga meninggalkan bekas. Tiap kali kita melihat bekas luka di lutut itu, kita pasti akan selalu teringat akan kejadian jatuh dari sepedawaktu itu dan kadang menyesali diri kenapa dulu tidak hati-hati. Tapi dari sana pun kita belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.

Sama halnya luka yang tidak tampak. Sebagai manusia, Tuhan menciptakan kita lebih dari makhluk lainnya dengan memberi kita dua bakat, akal budi dan hati nurani. Akal budi memberi kita kemampuan untuk berpikir rasional, sementara itu hati nurani mengajarkan manusia untuk mengerti apa artinya cinta kasih. Dari sanalah kita dibentuk menjadi sosok manusia yang unik satu sama lain karena akal budi dan hati nurani setiap individu manusia berbeda-beda.

Sekarang pertanyaannya, kenapa dua hal itu bisa berbeda-beda pada tiap manusia? Padahal ketika kita dilahirkan di dunia ini kita seperti kertas putih yang sama?

Jawabannya adalah luka.
 
Ilmu sosiologi mengungkapkan adanya proses sosialisasi yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan, juga faktor bawaan lahir yang disebut faktor biologis sebagai alasan terbentuknya karakter seseorang. Hal-hal teoritis itu tentu sudah cukup menjelaskan tentang luka yang aku maksud di sini. Tapi secara spesifik, aku ingin menunjuk pada luka-luka yang diberikan orang lain hingga sangat berdampak dalam cara kita memandang hidup kita sendiri juga mempengaruhi karakter serta watak.
 
Sekali lagi aku percaya, setiap luka pasti meninggalkan bekasーentah itu luka yang dalam atau hanya sekedar goresanー dan bekas-bekas luka itulah yang menjadikan diri kalian yang sekarang. Luka-luka itu pasti sembuh, entah itu luka yang terlihat atau tidak. Karena setiap luka pasti ada obatnya termasuk untuk luka yang tidak terlihat.

Luka adalah rasa sakit yang disebabkan oleh sesuatu atau diberikan oleh orang lain [ada diri kita secara fisik atau psikis.

Seperti itulah aku mendefinisikan luka. Nah, sekarang kalian sudah mengerti yang kumaksud dengan luka di sini. Tapi catatan ini akan berfokus pada luka yang tidak terlihat, karena aku sendiri telah merasakannya hampir seumur hidup. Jika kalian sekarang membaca catatan ini, mari membayangkan aku sedang duduk di depan kalian dan menggenggam sebuah amore besar tiga dimensi yang melambangkan hatiku.

Warna hatiku sekarang kusam karena belakangan aku jarang membersihkannya dengan doa-doa. Kalian juga bisa lihat banyak bilur juga luka di sana, jadi mungkin bentuknya agak penyok ke kanan atau ke kiri. Luka-luka itu kebanyakan diberi oleh orang lain ーentah itu keluarga atau bahkan orang yang baru aku kenal sebentarー tapi tidak sedikit pula aku sendiri lah yang merelakan luka itu datang dengan berbagai prasangka serta perasaan sensitif.

Di bagian belakang hatiku ada luka yang membusuk, baunya amis karena aku tidak bisa melupakannya sampai sekarang. Luka itu aku dapatkan saat aku masih duduk di sekolah dasar, akibat ejekan teman-temanku soal berat badan; hinaan dari keluargaku; peringatan dari salah seorang keluarga lainnya kalau aku adalah besi bengkok dan tidak bisa lagi lurus; pertengkaran-pertengkaran tidak berarti dengan Una; dengki dengan teman-temanku yang rasanya mendapatkan banyak sekali perhatian dari orang tua mereka; dan masih banyak lagi luka-luka lain yang tercipta dari masa itu.

Aku sudah mencoba untuk mengobati luka itu dengan menunjukkan kalau mungkin aku tidak secantik mereka, tapi aku masih punya otak untuk kupamerkan. Maka, akibat dari luka-luka itu, aku menjadi gadis yang begitu jumawa. Aku belajar mati-matian berharap mereka akan menghargai otakku, Jika punya kesempatan, aku akan menunjukkan kemampuan intelejensiku ーbertanya apa saja pada guru, rajin mengerjakan PR, memburu peringkat atas kelas, dan sebagainyaー. Aku tidak bisa memikirkan hal lain selain belajar, hingga akhirnya waktu memperlihatkan kalau sifat jumawa itu menghantarkanku pada luka kedua.

Luka kedua ada di sisi kiri. Hati-hati, jangan disentuh! Meski terlihat sudah lama sekali, luka itu belum kerimg benar. Kalian bisa lihat nanah-nanah yang masih lengket dan baunya tidak kalah mengerikan dari luka sebelumnya. Luka itu aku dapat saat masa-masa SMA-ku di mulai. Hanya tiga tahun. Kawan, tapi sepanjang waktu itu banyak sekali yang terjadi. Rasanya seperti sedang mengarungi laut menggunakan sampan yang terbalik diterjang badai. SMA bukanlah masa yang aku rindukan. 

Hatiku dilukai dengan pandangan jijik dan ejekan tentang berat badan yang semakin menjadi; beberapa orag mengomentari sifat jumawaku dengan pedas, tatapan sinis kuterima setiap hari; tidak ada yang mau bekerja dalam satu kelompok denganku karena aku siswi yang merepotkan; mereka menyebutku 'talkactive' secara terang-terangan, padahal dibelakang mereka menyebutku banyak omong karena selalu menanyakan hal yang tidak penting pada guru; aku tidak mendapatkan serangan fisik, tapi perasaan tertekan karena seluruh kondisi itu begitu menekanku lebih sakit daripada dipukuli.

Lalu akhirnya, aku mencoba untuk mengobati luka itu dengan mengubah sifatku. Aku jadi pendiam di kelas, tidak lagi berambisi menjadi salah satu yang terbaik tapi lebih memilih menjadi siswa biasa dan tidak terlihat. Aku punya beberapa teman dekat, cukuplah mereka mengerti dan aku nyaman bersama mereka. Aku pun mulai berpikir untuk diet dan merasa kalau menjadi cantik merupakan hak setiap perempuan di muka bumi ini.

Aku berhasil menurunkan berat badan dan perubahan sifatku disadari oleh teman-teman yang lain. Orang-orang yang dulu bersikap buruk padaku mulai tidak menganggapku lagi dan memilih mangsa yang lain. Beberapa orang mulai mau menyapaku, padahal dulu boro-boro menyapa, melihat ke arahku pun mereka tidak sudi. Aku senang dengan diriku yang baru, aku yang tidak jumawa di kelas, berotak biasa-biasa saja dan lebih kurusan. Tapi tetap saja luka itu masih ada ーmeninggalkan bekas juga bernanahー dan tetap membuatku menitikkan air mata setiap kali mengenangnya.

Lalu, silahkan lirik sedikit ke sisi kanan. Di sana juga ada luka. Luka di bagian ini adalah luka-luka khusus. Luka-luka yang masih terus kucoba sembuhkan sampai sekarang, karena selama ini aku terus mengabaikan luka-luka itu. Bau anyir menguar dari sana, memberikan kombinasi terburuk dari seluruh luka-luka yang ada.

Satu luka khusus itu tercipta saat aku masih SMP. Luka ini tercipta karena rasa bersalahku pada seorang teman yang hidupnya menyimpang. Dia banyak bercerita padaku tentang hidupnya, dia percayakan seluruh cerita itu padaku, dan aku menjaganya dengan baik. Tapi karena satu masalah sepele, aku menjadi sangat membencinya. Aku menjauh darinya, padahal aku tidak pernah memusuhi orang lain sebelum ini, dan ia adalah orang pertama yang aku musuhi. Semakin ke sini, perasaan bersalah itu semkin berkembang, sayangnya kami telah lulus dan aku tidak sempat meminta maaf karena sikap burukku. Beberapa waktu lalu, sebuah mimpi yang kuingat jelas sampai sekarang, muncul. Di dalam mimpi itu aku bertemu lagi dengannya dan mengemis meminta maaf. Dia memaafkanku di mimpi itu, tapi wajahnya menatapku jijik. Saat aku bangun, aku menangis sedikit, tau benar kalau karma akan datang padaku.

Luka lainnya kudapat saat tahun keduaku duduk di bangku kuliah. Bapak berpulang ke pangkuan-Nya. Banyak teman yang datang melayat, entah aku bersyukur karena ternyata masih banyak yang orang yang peduli padaku. Tetapi luka kembali tergores ketika beberapa orang kerabat yang mengatakan hal-hal buruk ketika hari duka itu.

Sepeninggalan Bapak, luka di hatiku masih berlanjut dengan dengan jarak yang tercipta antara aku dan Una. Aku tidak bisa mempercayai orang rumah, mengurung diri, dan mencoba untuk menahan luka itu sendiri. Akibat dari luka itu, kehidupan sosialku menurun lagi. Aku merasa tidak lebih berharga dari seorang gadis gendut yang antisosial.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai belajar memahami Una, dan Una pun belajar memahamiku. Aku mencoba untuk membuktikan kalau pilihanku ini akan benar-benar kujalani dengan baik, dan Una sepertiya mulai mengerti. Hubunganku dengan Una jauh lebih baik saat malam tahun baru aku curhat habis-habisan dengan Unaーsesuatu yang tidak pernah aku lakukan sebelumnyaー dan mencoba untuk mempercayai orang tuaku satu-satunya itu. Dan kondisi kami sekarang? Una kii terasa dekat denganku lebih dari yang selama ini aku rasakan. Una adalah wanita luar biasa yang sepertinya baru kukenali dengan sungguh beberapa bulan belakangan ini.

She is my hero. Tidak diragukan lagi.

Tapi tetap saja, hehe, kampus impianku tetap terbayang diimpianku. Sampai sekarang. Tapi aku mulai belajar merelakannya karena aku tau itu hanyalah debu bintang yang Tuhan berikan padaku. Ada mimpi lain yang sepertinya terlihat sangat jelas di depan mataku.

Nah, inilah hatiku ーamore tiga dimensi yang kalian lihat sebagai perumpamaan hatiku ini adalah perasaan penuh luka yang membentuk karakterku sekarang. Hatiku memang buruk rupa, tapi masalahku sekarang justru bukan karena luka-luka itu. Masalah yang kuhadapi sekarang adalah aku mulai gemar memamerkan hatiku yang busuk ini.

Pernah dengar sindrom minta dikasihani dengan mencari perhatian?

Ya, Drama Queen. Itu aku. Di berbagai kesempatan entah di sosial media, atau di chatroom antara dua orang atau lebih, aku jadi semakin gemar memamerkan hatiku yang penuh luka. Berharap mendapatkan komentar tentang betapa hebatnya aku karena bisa bertahan membawa hati seperti ini seumur hidup.

Rasa jumawa yang dulu sempat sirna perlahan muncul kembali, dan aku sadar betul itu berbahaya karena akan mengundang reaksi jelek dari orang-orang sekitarku. Tiap kali aku menceritakan salah satu kisah tentang luka-lukaku kepada orang lain, aku mendapatkan respon dingin, dan detik itulah aku mulai sadar kalau orang-orang tidak menginginkan kisah tentang lukaku.

Aku mulai merasa malu dan menyesali tindakanku itu.

Padahal sejak awal harusnya aku memang merasa malu. Tidak perlu mengumbar luka, karena luka itu menyisakan bekas yang jelek dan buruk rupa seperti keloid yang aku dapatkan saat kecelakaan motor dulu. Kenapa aku justru merasa bangga dengan luka-luka di hatiku itu padahal seperti yang kalian lihat sendiri kalau hatiku begitu busuk?

Rasa sadar akan hal ini menghantarkanku enulis catatan ini. Catatan ini kutulis sebagai peringatan juga jawaban bagi diriku sendiri kalau aku tidak perlu lagi mengumbar luka-luka di hatiku. Tidak ada gunanya, selain membuat luka itu terkoyak kembali dan bernanak serta menyebarkan aroma-aroma busuk ke orang-orang yang mendengarkannya.

Bisa kurasakan, luka-luka yang kusembunyikan ini akan membuatku menjadi sosok yang tidak banyak menceritakan tentang dirinya di dunia maya maupun di dunia nyata. Aku juga akan berhenti mempercayai orang lain bahkan orang-orang terdekatku sendiri karena aku tau mereka tidak ingin mendengarnya. Aku akan menelan sendiri luka-luka itu karena tidak ada seorang pun di duia ini yang mau berbagi luka denganku atau mendengarkan kisah dibaliknya.

Tapi tentu saja, aku akan tetap menuliskannya di sini dan memposting catatan ini di blog. Catatan ini akan menjadi pengakuan pertama dan terakhir tentang nyaris seluruh luka-luka di hatiku. Aku tidak akan menceritakan luka-luka ini pada orang lain selain di blog karena aku tau, aku hanya bisa jujur pada tulisanku. Menulis benar-benar dokter bagi jiwaku dan membantuku untuk tetap warasーaku menulis untuk diriku sendiriー. Aku sungguh berterimakasih pada kegiatan ini karena tana menulis mungkin aku sudah masuk rumah sakit jiwa karena mencoba menghadapi luka-luka itu sendirian.

Terimakasih untuk semua yang membaca catatan ini sampai selesai. Kini kalian tau seperti apa bentuk hatiku yang penuh luka. Aku tidak meminta kalian untuk mengerti karena aku sudah terbiasa di salah pahami. Hehe. Seperti yang aku bilang di awal tadi, aku menulis catatan ini karena sedang gundah dan mencari jawaban atas pertanyaan yang muncul di hidupku. Mungkin aku tidak menemukan jawabannya, tapi sekarang aku memiliki catatan yang sebentar lagi akan tuntas dan hati yang terasa lebih baik.

Maka, izinkan aku untuk menyimpan kembali amore tiga dimensi yang melambangkan hatiku ini ke dalam rongga dadaku. Kalian bisa tinggalkan aku sendiri dan abaikan saja catatan ini tanpa perlu berkomentar karena aku menulis ini tanpa mengharapkan tanggapan selain diriku sendiri.

Aku telah berjanji pada diriku sendiri kalau luka-luka ini tidak akan kuumbar lagi ke khalayak umum karena orang-orang tidak ingin melihat hati sebusuk itu. Aku menulis ini hanya untuk kepuasan pribadi dan pelampiasan terakhirku sebelum aku benar-benar menutup hati.

Sampai kelak suatu hari nanti kutemukan orang lain yang mau berbagi luka denganku, memeluk hati busuk ini dengan lapang dada, dan menerimaku apa adanya, serta mampu membuatku memercayai seluruh luka-luka di hatiku untuk ia sembuhkan. Saat itu juga aku akan menghapus postingan ini karena aku sudah tidak punya lagi luka untuk aku umbar kemana-mana.


3 komentar:

Anonim mengatakan...

aku males baca sung komen aja

Unknown mengatakan...

Wahahahaha hasil s3 marketing mah begini yaa

Adhan.awfr mengatakan...

penghujat, haters dan semua orang yang berbicara buruk tentang kita, sebenarnya mereka ga penting, mereka terlalu banyak waktu luang untuk memikirkan keburukan orang lain tetapi lupa dan tidak sadar keburukannya, jadi orang" seperti itu cuma npc di game atau figuran yang ada hanya untuk jadi pelengkap atau hiburan semata buat kita yang baca hasil pemikiran mereka, jdi tetap semangat apapun yang terjadi meski lelah ga boleh nyerah, masih banyak orang yang harus di buat iri hihihihi

Welcome to my little world

Diberdayakan oleh Blogger.

Temukan Aku di...

Followers

© Bienvenue, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena