Welcome to my little world

Selasa, 09 November 2021

Requiem

New post on requiem-on-water | Dark photography, Hand photography, Rosé  aesthetic 
Tittle        :  Requiem
Author     : @felixavianr
Genre       : Angst, Sad
Cast(s)      : Rio, Bulan, Felia

Discalimer:
All publicy recognizable characters, settings, etc are property of their respective owners. The original characters and plot are the property of author of this story.
This story copyright © 2021 felixavianrl, all right reserved
 
                                                                    
 
 
If forever was a second, would you be glad you were with me?

Makan malam dengannya masih segar di ingatanku. Dengan keramaian pengunjung kedai yang bergunjing entah apa, dan makanan yang mulai mendingin di hadapan kami. Sudut mataku mengintipnya sejenak, saat dia masih menyendokkan nasi, mendendangkan dentingan tidak berirama ketika benda logam itu beradu dengan piring kaca.

"Jadi, bagaimana hubunganmu dengan Bulan?" tanyaku, sambil mengubah dudukku menghadapnya.

Bibirnya berjinjit kecil dan menjawab datar "tidak ada apa-apa." Setelahnya dia sudah mengambil satu sendok yang lain.

"Benarkah?" kejarku, dengan nada menggoda. Sikuku menyerempet lengannya pelan, membuatnya terhenti menikmati makanannya.

Dia memandangi botol-botol soda dihadapan kami sebelum kemudian beralih menatapku, "Kita baik-baik saja, Fel. Memangnya apa yang ingin kamu tau?"

Alih-alih menjawab, aku hanya mengendikkan bahu dan memutar bola mataku ke seluruh ruangan segiempat itu. "Apa saja. Aku jarang bertemu denganmu, Rio...."

Laki-laki berwajah tegas itu pura-pura berpikir keras, walau sebetulnya aku bisa menduga dengan akurat, dia sudah menumpuk segudag cerita untuk dibagikan kepadaku. Dia menyeringai dan mengucapkan satu pikiran yang pertama keluar dari otaknya. "Bulan masih sering cemburu padamu."

Aku terkekeh pelan. "It's old story, Yo. Harusnya kamu bilang padanya, kita hanya sebatas Felia yang selalu minta diantar dan Mario yang baik hati mengantar." Satu suap dariku sebelum melanjutkan masih dengan satu cengiran, "dengan bayaran mahal."

Kali ini gilirannya yang tertawa keras. Bagaimana tidak, aku hanya memintanya mengantarkanku ke service center di pinggiran kota, dan dia memaksaku membayarnya dengan makan malam di kedai samping stastiun ini.

Melihatnya yang masih mengeluarkan suara membahana tanpa acuh pada sekelilingnya, aku hanya bisa menggembungkan pipiku sebal.

Hening sejenak, ketika masing-masing dari kami memilih sibuk menghabiskan makanan dengan porsi untuk empat manusia ini. Beberapa saat kemudian, dia berujar santai, "Aku sempat putus dengannya."

Seketika aku terkesiap menghentikan tanganku, membiarkan sendok dengan gumpalan nasi itu di udara, "What? Kok bisa?"

Satu sudut bibirnya terangkat "Capek"

"Sebentar..." tanganku terangkat memijit pelipis dahi. Tiba-tiba rasanya kepalaku berdenyut, seakan baru usai berputar di dalam cangkir di taman bermain. Aku menatap di manik mata yang tampak geli itu, tidak percaya, "Capek? Kamu udah berhubungan dengannya hampir setahun dan kamu putus hanya karena capek?! Alasan macam apa itu?!"

"Heh, emangnya aku tidak boleh merasa capek?" kilahnya. Dalam hati aku hanya bisa berdecak, dia masih saja membela diri dan tidak mau kalah argumen denganku, seperti biasanya. Aku sudah sangat fasih menyebutkan semua peringainya, termasuk dalam hal ini.

Maksudku, bagaimana bisa dia memutuskan hubungannya dengan Bulan hanya dengan alasan sepele seperti itu? Oke, aku tau. Mungkin ini bukan masalah remeh baginya, mengingat dia harus menjalani hubungan jarak jauh dengan Bulan. Tapi bukankah apa artinya jarak dan waktu kalau harapan mereka jauh lebih bermakna untuk dijalani?

"Bukan begitu...."

Emmm, tunggu, mungkin ini hanya kelakar seseorang yang lebih piawai menjalani hubungan macam ini. Misalnya aku. Bukankah setiap orang dilahirkan dengan keahlian yang berbeda? 

"Oke, lalu?" tanyaku dengan mata menyipit, meminta kelanjutan dari potongan ceritanya.

Dia mengambil nafas sejenak, memenuhi ruang parunya sebelum melanjutkan, "Sebulan kemudian, aku menyadari... ternyata aku sangat rindu padanya. Benar-benar rindu, Fel."

Aku terdiam.

"Dan aku pergi ke rumahnya, dan memintanya kembali," lanjutnya kemudian.

Nafasku tercekat. Retetan cerita picisannya menjadi begitu menegangkan di telingaku. Atau mungkin aku yang terlalu berlebihan memberi reaksi padanya. Aku mengejarnya dengan setengah berbisik, "Dia mau?"

Kedua sudut bibirnya melengkuk seraya jarinya bergesekan dengan dagunya yang kasar. Dia menyeringai bangga, "Tentu saja. Buktinya sekarang kami masih bersama kan?"

Ucapannya yang bernada menyebalkan dikupingku itu seperti oase kecil di tengah gurun. Setidaknya bagiku. Ada kelegaan ketika mengetahui keduanya masih bersama hingga malam itu. Bagi Rio, mungkin putus dari Bulan mengajarkan dia bahwa Bulan adalah perempuan yang berhasil menguasai seluruh ruangan di hatinya. Bahwa dia telah mengalahkan jarak, yang sebetulnya seakan menutup fakta menutup fakta bahwa Bulan adalah segalanya untuknya. Toh, hingga saat ini aku tidak menemukan sekalipun dia 'bermain' dengan perempuan lain.

"Kamu benar-benar mencintainya, Yo?" tanyaku ulang memastikan.

Dia mengangguk mantap, "Sangat," Tangannya kemudian mengacak-acak riap-riap rambutku dan memandangku teduh. Pandangan itu, akan sangat terindukan. "Kamu senang, Fel?"

Alih-alih mempermasalahkan ikalku yang berantakan, aku memilih untuk memberikan senyuman terlebar. "Tentu saja! Jangan lupa megundangku dipernikahan kalian ya! Ingat itu, Rio!"


Sama seperti jernihnya ingatanku akan malam itu, seperti itulah aku mampu mendengar desiran requiem dari lantai bawah kamar Rio. Dentingan piano yang menyayat tubuhku perlahan dan terus-menerus itu mengalun samar, bergantian dengan isak tangis dari wanita di depanku.

Wanita itu duduk di samping ranjang Rio, memunggungiku. Bahunya terangkat berulang kali, seirama dengan sesenggukan yang keluar dari bibir mungilnya. ALih-alih memanggilnya dengan suara paling lirih sekalipun, aku hanya bisa memandangnya dengan nanar.

"Rio... Rio... Jangan pergi...." pintanya tanpa asa, berbisik dengan tangis yang dia tahan hingga ulu hati. Namun kemudian deru pilu darinya memenuhi seantero kamar.

Lagi-lagi aku hanya menggigit bibir bawahku hingga memutih. Aku mengerjapp beberapa saat, menhan nafas agar butiran kristal tidak jatuh dari pelupuk mata. Tanganku kemudian membalik sekali lagi halaman buku harian milik Rio yang sedari tadi aku gapit diam-diam. Jemariku terhenti di halaman terakhir.

If forever was a day, would you talk from your heart?
If forever was an hour, would you take my hand?
If forever was a minute, would you hold me tight?
If forever was a second, would you glad you were with me?
 
Begitu tertulis manis di sana, dengantinta hitam kelam, dengan tulisan tangan sedikit lebih rapi daripada lembaran-lembaran lusuh sebelumnya.

Kecelakaan yang lebih cepat dari kerjapan mata itu, apa sudah kamu duga, Rio? 

Satu kilatan putih sekelebat melewatiku tepat dimanik mata, dengan aroma wangi yag menegakkan bulu-bulu hidung. Hanya sekilas, kemudian lenyap.

Dua sudut mataku mencuri pandang sekali lagi pada wanita yang masih memandang kosong jendela di hadapannya. Satu kelopak dari mawar putih kering yang dia genggam rontok, jatuh di atas lantai bertekstur kayu. Aku kehilangan kosakata. Lidahku kelu, bahkan untuk sekedar menyebut namanya.

Bulan, Rio melihatmu. Tersenyumlah...

Dan untaian requiem itu, masih saja terdengar.

0 komentar:

Welcome to my little world

Diberdayakan oleh Blogger.

Temukan Aku di...

Followers

© Bienvenue, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena