Welcome to my little world

Selasa, 10 November 2020

My Super-Duper Superhero

 Yogyakarta, 10 November 2020

Kepada Una.


Una, aku baru saja selesai menonton Working Woman film tentang seorang Ibu yang harus bekerja keras dan membagi waktu antara pekerjaan dan kehidupan keluarganya. Ibu itu tetap bisa mengurus anak-anaknya dan di saat itu juga bisnisnya berjalan lancar. Di sana kulihat Ibu itu sangat siuk bahkan tidak ada waktu untuk beristirahat.

Aku jadi ingat, apa yang aku tanyakan pada Una, sekitar beberapa bulan yang lalu di supermarket. Apa aku dulu sering dibelikan berbagai macam susu yang ada di etalase supermarket itu? Una tertawa. Una ingat tidak Una jawab apa?

"Jangankan susu. Namanya anak Una. Apa aja Una turutin. Biskuit makanan kamu aja bermacam-macam cuma karena boneka hadiahnya itu, padahal kamu tidak suka mengunyah dari kecil."

Aku diam, tersenyum, menggandeng tangan Una erat-erat.

Sejujurnya, Un. Aku tidak terlalu ingat masa kecilku. Tapi tentu aku ingat bagaimana kebaikan-kebaikan Una. Tentu Una yabg tiap sore terlihat sangat lelah pulang kerja dan akan berlari dari dalam rumah menyambut Una, lantas kita membeli Esmoni di toko kelontong ujung gang. Tentang tiap sore kita ke rel kereta, hanya untuk menyuapiku tanpa aku harus menangis karena aku happy menonton kereta yang lewat. Tentang bapak yang membawa tustel dan Una yang mengarahkan gayaku.

Aku tidak ingat banyak.
 
Tapi aku ingat satu hal penting. Tentang Una yang tersenyum melihatku saat aku berlarian mengejar teman-temanku. Lantas aku menabrak dinding dan Una berlari menggendongku yang menangis keras sekali dengan dahi yang sudah berdarah di siang bolong itu.
 
Apa Una masih ingat?
 
Waktu berlalu cepat sekali. Semua berubah, rumah berpindah, usiaku bertambah, Bapak meninggal. Namun sampai sekarang Una tetap sama.
 
Mengkhawatirkanku meski usiaku sudah menginjak kepala dua. Mengutamakan kepentinganku di atas diri Una. Menyenangkanku meski dibayar dengan peluh berjuta-juta.
 
"Kepentingan orang tua itu, pasti kalah sama kepentingan anak. Bapakmu dulu juga seperti itu. Nanti kamu juga seperti itu dengan  anakmu."

Percayalah Un. Bagiku, Una seperti Mommy di film Working Woman itu. Bahkan lebih berjuta, bermilyun, dan bertrilyun kali lebih hebat dari Mommy di dalam kotak itu. Sungguh!

Bagaimana tidak? Una cuma bisa geleng kepala kalau aku buat masalah di dapur. Una yang rela memutar balik saat berangkat kerja karena kendaraanku macet padahal Una sudah hampir sampai. Una yang kebingungan kalau aku bingung sendiri dan sok memecahkan masalah sendiri (yang nyatanya tetap butuh orang tua). Una yang sabar kalau aku mulai ceroboh. Una yang tidak bisa bilang apa-apa kalau aku sudah mulai menangis.

Una aku bertaruh. Tidak akan ada orang lain yang bisa melebihi Una membahagiakan aku. Tidak akan ada orang lain yang lebih hebat dari Una mengasihi aku. Tidak akan ada orang yang mengalahkan Una, dalam segala hal menyangkut diriku, dan keluarga kita.

Hanya Una.

Una, di akhir catatan ini, aku ingin mengutip kata-kata dari quote yang kemarin aku baca.

"No matter how many times we argue, How many times I don't understand you, and how many times I get scolded by you.

I still think that you are the best and the greatest Mom in the whole wide world.

I LOVE YOU.

 Ya, cinta adalah ketika Una membuatku tersenyum, dan Una tidak berhenti melakukannya.
 
Terimakasih.
 
My Super-Duper-Superhero
 
~
 
Peluk hangat.
 
Una's little daughter♡ 

0 komentar:

Welcome to my little world

Diberdayakan oleh Blogger.

Temukan Aku di...

Followers

© Bienvenue, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena