Welcome to my little world

Tampilkan postingan dengan label #30hariMenulisSuratCinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #30hariMenulisSuratCinta. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Juni 2017

Pamit

Hari ini adalah hari dimana aku menyadari bahwa semua sudah tidak lagi sama. Tidak sama bagiku dann tentu saja tidak sama bagimu.
Read More

Rabu, 31 Mei 2017

Aku Lucu Ya?

#30HariMenulisSuratCinta
Yogyakarta, 31 Mei 2017

Halo, lagi-lagi aku menyapamu.Tidak ada jawaban lagi kan? Apa kabar kamu? Lagi, tidak ada jawaban juga kan? Seperti biasa memang. Harusnya aku sudah hafal, harusnya aku sudah bosan dengan itu. Tapi entah mengapa aku masih senang saja menyapamu tanpa jawab ini,masih sabar menunggu kamu menyapaku. Hah, pathetic. Seperti suratku sebelumnya, aku masih menjadi Bulan yang berevolusi hanya padamu, disaat kamu hanya memandang sang Mentari.
Read More

Minggu, 21 Mei 2017

Bulan yang Berhenti Berevolusi

#30HariMenulisSuratCinta
Yogyakarta, 20 Mei 2017

Seperti bulan yang hanya berevolusi pada bumi. Begitu pula aku hanya berputar-putar di sekelilingmu. Tak pernah tau caranya berhenti, tak pernah tau caranya berpindah dan tak pernah tau alasan mengapa aku disini. Kau mungkin heran, tapi aku tentu lebih heran lagi.
Read More

Sabtu, 20 Mei 2017

Kita Bukan CInta dan Rangga

#30HariMenulisSuratCinta
Yogyakarta, 19 Mei 2017

Kamu bukan Rangga dan aku bukan Cinta. Aku tau kamu menyadari hal ini, tapi aku ingin menyampaikan kalimat di bawah ini untuk kamu.
Read More

Kamis, 18 Mei 2017

Untuk Para Putri yang Selalu Menemani

#30HariMenulisSuratCinta
Yogyakarta, 18 Mei 2017

Halo, sebelum membaca lebih lanjut, surat kali ini bukan untukmu lagi. Aku ingin menuliskan hal-hal lain. Mungkin aku sudah agak bosan menulis untukmu. makanya aku menulis tentang hal-hal lain. Tidak melulu tentangmu, ya waktu hampir semua tentangmu.

Oke, saatnya aku berubah menjadi Pocahontas (Padahal dulu aku jadi Abu)

Read More

Selasa, 16 Mei 2017

Penerima yang Masih Sama

#30HariMenulisSuratCinta
Yogyakarta, 16 Mei 2017

Aku suka menulis tentangmu, tanpa kamu minta pun aku tetap mau menulis tentangmu. Aku selalu bersemangat jika itu tentangmu. Tidak selamanya membahagiakan memang. Tapi setidaknya bersama kata-kata yang belum rapi ini, kenanganmu akan tetap rapi tersimpan
Read More

Minggu, 07 Mei 2017

Kamu adalah Idolaku

#30HariMenulisSuratCinta
Yogyakarta, 7 Mei 2017
Teruntuk the one and only Mario Stevadit
Halo, Mario Stevano Aditya Haling salam kenal. Aku adalah salah satu penggemarmu. Mungkin aku tak punya apa-apa tentang hidupmu, bahkan aku tak punya koleksi-koleksi foto tentang dirimu. Tidak seperti penggemar-penggemarmu yang lain. Kalau pun surat ini sampai ke tanganmu, aku tidak berharap kamu akan membacanya. Aku tau bagaimana sibuknya dirimu. Mulai dari kuliah-acara gathering- membuat video cover- dan pasti ada kesibukan lainnya. Ya, tapi kalu kamu sempat membacanya aku akan sangat bahagia. Mungkin membaca surat ini sambil meminum teh hijaumu.
Read More

Senin, 24 April 2017

Kamu

#30HariMenulisSuratCinta
Yogyakarta, 24 April 2017

Tiba-tiba sore ini terpikir untuk menulis surat untukmu yang lama tak pernah kusebut lagi. Aku tau ini pathetic, karena kamu bukanlah siapa-siapa. Bukan pacar, bahkan aku sudah menyiapkan diri untuk tidak lagi bertegur sapa dan bertukar kabar denganmu, mungkin untuk selamanya. Kamu Cuma kisah di masa lalu yang sayangnya tak terselesaikan dengan sempurna. Apalagi kamu telah bersamanya, denga ikatan yang menggunakan nama Tuhan. Sungguh tak pantas aku masih menyimpan asa di hatiku untukmu.
Read More

Rabu, 05 April 2017

Aku Tidak Rindu Kamu

#30HariMenulisSuratCinta
Yogyakarta, 5 April 2017
Hai, selamat pagi Kamu. Apa kabar? Aku rindu menanyakan kabarmu. Iya, haha menanyakan kabarmu. Karena aku tau pasti tak akan kudapat jawabannya. Seperti yang lalu lalu.
Read More

Senin, 06 Maret 2017

Aku Bukan Juliet

#30HariMenulisSuratCinta
Yogyakarta, 6 Maret 2017
Hai, kamu Romeo. Haha, aku tau kamu Romeo. Tapi boleh tidak aku tak usah jadi Juliet? Tunggu, jangan salah paham. Jangan buruk sangka. Bukannya aku tak mau mendampingimu atu tak mau jadi pasanganmu. Hanya saja aku tak ingin kisah kita berakhir tragis seperti Romeo dan Juliet.
Read More

Kamis, 23 Februari 2017

Surat Untuk Hati

#30HariMenulisSuratCinta

Yogyakarta, 23 Februari 2017

Dear, Hati

Apa kabarmu? Masih sakit? Semoga kau baik-baik saja. Jangan sampai patah lagi dan lagi. Istirahatlah yang cukup dari rasa pilu agar kau bisa segera bangkit kembali bekerja mendampingi aku.

Hati, kumohon padamu. Mulai detik ini mulailah dengarkan aku. Jika dengan matamu kau sudah melihat keganjilan. Mulai serahkan tugas padaku untuk berpikir hal yang realistis. Janganlah kau terlalu baik, Hati. Tidak semua makhluk di luaran sana memikirkan kamu. Mereka pun menggunakan pikirannya namun sedikit melibatkan  hatinya. Tapi kamu, selalu bekerja sendiri tanpa aku. Pemilik kita disebut makhluk yang lugu pada akhirnya. Kamu tau? Itu karena kamu tidak mengijinkan aku untuk ikut bekerja bersamamu.

Hati, kini aku berjanji akan selalu menjagamu. Kau harus mengizinkan  aku mendampingimu setiap saat. Kamu harus mendengarkan aku. Aku hanya tidak ingin kau merasakan pilu lagi, sakit lagi, dan patah lagi. Aku sayang padamu. Aku tak ingin melihatmu menangis dan membiru.

Hati, lepaskanlah genggamanmu dari hati miliknya. Kau hanha dibawa lari kesana kemari terseok tanpa ia sedikitpun memandang ke arahmu. Dia tidak peduli lagi, Hati. Sudah. Cukup. Dia, lepaskanlah. Aku akan membantumu menemukan  hati lain yang lebih baik dari miliknya. Yang tidak akan mengkhianati kesetiaanmu dan tidak akan menghancurkanmu dalam genggamnya. Percayalah aku mampu membantumu.

Hati, janganlah kau ragu lalu menghakimi dirimu sendirilah yang buruk. Tidak. Kau setia, kau berhak mendapat bahagia. Dia khianat, dia tidak berhak mendapatkan setia darimu tentunya. Semudah itu bukan?

Maka, lepaskanlah segala hal yang akan menyakitimu. Genggam tanganku untuk mendampingimu bekerja demi pemilik kita. Semoga pilumu yang kemarin adalah pilumu yang terakhir. Aki harap kau segera meraih bahagia. Bersama aku dan pemilik kita tentunya. Salam sayangku.

Dari aku, otak. Dengan segala pikirannya.

~

Hari ke 20

Read More

Selasa, 21 Februari 2017

Ayah Separuh Hidupku

#30HariMenulisSuratCinta
Yogykarta, 21 Februari 2017

Mungkin kata pun tak akan pernah bisa menggambarkan betapa aku mencintaimu. Untaian ronta pinta tak akan pula menjadikan bagimu beban yang ada. Terjamah doa yang kuucap untuk cinta padamu ayah. Pelajaran berharga tentang kehidupan yang tak bisa dibeli degan apapun. Pengalaman hidup yang tak akan bisa terganti oleh nominal.
Ingin ku kecup keningmu saat lelap tidurmu, tetapi aku malu untuk itu. Inginku membacakan puisihati tentang hidupku denganmu, tetapi kau tak ada waktu. Karena dari pagi hingga senja selalu kau habiskan untuk menghidupiku.
Tidakkah kau lelah? Tidakkah kau bosan? Banyak keluh kesah pasti pasti ingin kau ucapkan. Namun tidak di depanku. Kau hanya mau bercerita dan mencurahkan semua kepada-Nya.
Aku tidak pernah tega membuat hatimu kecewa, sama saja membuat hatiku terluka. Maafkan aku belum bisa membuatmu bangga. Terimakasih atas dukunganmu hingga akhir hayatmu sekarang.
Tuhan, adakah kau ciptakan seseorang seperti ayahku? Pertemukanlah aku dengannya, maka mungkin itu dapat membuat ayahku sedikit merasa bangga disana akan membuat ayahku tersenyum bahagia disurga sana.

Tertanda, putrimu yang paling pandai menghancurkan benda-benda disekitarnya, Ima.
~

Hari ke 19
Read More

Jumat, 17 Februari 2017

Cerita Seorang Sahabat


#30HariMenulisSuratCinta
Yogyakarta, 17 Februari 2017

Hai Son, sahabatku. Jika dan hanya jika kalian berkenan hendak aku memanggil kalian begitu. Sebagaimana aku ingin memanggil kalian begitu.
Apa kabar kalian? Aku sengaja meluangkan waktu untuk membuat ini disela kegiatanku yang mulai memuncak, agar kalian tau, kemanapun aku menuju, apapun yang aku lakukan, kapanpun waktunya, hatiku tetap tertambat pada kalian. Aku tak tau harus bagaimana memulai surat ini. Karena sebagaimana awal nya ketidak sengajaanlah yang mempertemukan kita, dan aku amat berterimakasih kepada ketidaksengajaan yang mempekenalkan aku pada kalian. Akan ku lakukan apapun agar kubisa berada di wisuda, pernikahan, maupun khitanan anak kalian nantinya. Haha
Son, aku mengutip dari cerita-cerita yang pernah aku baca “no one understand me quite like you do” adalah intrepretasiku atas bagaimana cara kita saling memahami dan mengerti satu sama lain tanpa perlu terucap kala permintaan, dan aku menyayangi kalian sebagaimana aku menganggap kalian adalah kakak-adikku. Karena taka da yang lebih menyenangkan ketika aku menggenggam jemari kecil anakku nanti dan mengetuk pintu rumahmu lalu mengucap salam lalu melihat anak-anak kita berbagi gelak tawa seperti kita.
Son, sepuluh tahun atau dua pulu tahun lagi jika raga masih mengikat jiwa kita, tak akan pernah ku sia-siakan waktu untuk bertemu dengan kalian. Kelak kita bertemu lagi berbagi perih dan tawa yang sama. Namun bukanlah tentang pemilihan ketua kelompok musik, perpisahan, atau membahas materi pramuka yang akan disampaikan nanti yang mempertemukan kita dulu. Sebagaimana dulu kita duduk berurutan dan bersampingan di “North Side Of NiCe”
Tidak ada orang lain yang mengerti sebagaimana besar rasa saling mengasihi kita. Mereka hanya tau bahwa kita sekumpulan remaja saling sindir, saling nyinyir, dan saling ejek. Mereka tak perlu tau berapa banyak derai air mata yang kita bagi bersama, seberapa erat genggaman kita kala kita jalan bersama di jalan raya, berapa banyak kita salig berebut mentraktir, bagi mereka hanya kekonyolan dan ketidakbergunaanlah yang kita lalui.
Aku ingat kita pernah mengikat janji akan bertemu saat libur semester setidaknya sekali. Tapi maaf karena begitu banyak kegiatan dadakan sehingga libur semester berakhir kita belum bertemu juga. Maafkan aku. Tapi aku hanya ingin kalian tahu, nama kalian dapat dipastikan akan bertengger di skripsiku kelak. Aku berjanji.
Terimakasih banyak sahabatku, RINSON, karena menerimaku sebagaimana aku, mau berbagi waktu, tangis, tawa, sindirian, ejekan, batagor, cilok, esteh, mie ayam, jajanan kantin make, kelas 9c, basecamp, nyanyian, kucing, bus, PePeh, dan semua masa putih-biru bersamaku.

Dari aku, Ima. Yang paling sering bikin kalian sebal dan berujung bilang “terserah kamu aja im” sama semua tingkahku.
~
Hari ke 18
(Hari ke 18 aku pilih buat RINSON soalnya selama putih-biru ku aku absen 18)
Read More

Jumat, 03 Februari 2017

Sudah Terlambat

#30HariMenulisSuratCinta
Yogyakarta, 3 Februari 2017

Mengapa tak pernah bicara tentang keberadaan sebuah rasa? Mengapa tak utarakan cinta dan justru memilih untuk menyimpannya dalam-dalam?
Ada yang kamu korbankan untuk bahagiaku yang ternyata sementara. Ada yang kamu relakan, walau semestinya kita bisa bersama. Ada yang kamu sembunyikan, padahal kamu-lah senyata-nyatanya kebahagiaan itu.
Hanya jika cinta terungkap sejak mula, barangkali kita sedang tersenyum dalam satu pigura. Kini, ketika lelahmu rebah di kedua tangannya, adalah saatnya bagiku untuk menerima. Bahkan di saat muaramu ialah kedua matanya, aku masihh memeluk diri sendiri dalam hampa. Sebab itu, pergilah. Asalkan kamu ingat bahwa disini kita pernah saling mengaku rasa.
Kutitipkan engkau pada Tuhan Yang Maha Tahu, sebab tak selamanya aku merasa bahwa aku mampu. Hanya jika semesta mengizinkan, kita akan miliki kisah yang selama ini masih jadi impian. Sementara dari sini mataku tak akan lepas darimu.
~


Hari ke 17
Read More

Rabu, 01 Februari 2017

Far Away

#30HariMenulisSuratCinta
Yogyakarta, 1 Februari 2017


Melihatmu dari kejauhan seperti membuat daerah pertahanan. Bertahan sampai batas yang tidak ditentukan. Melihatmu dari kejauhan seperti menghadirkan suatu pertemuan tanpa kamu harus melihatku. Melihatmu dari kejauhan sebenarnya hanya ingin mengurangi rinduku perlahan-lahan dan tidak membiarkan perasaan itu hilang. Dan dari dulu hingga sekarang, bukannya selalu begitu?
Melihatmu dari kejauhan sambil terus mengulang kebisuan. Melihatmu dari kejauhan, itulah caraku mencintaimu diam-diam. Ribuan orang bilang, ini suatu kesalahan. Namun setiap rasa yang krasakan jatuhnya lebih besar dibanding semua keraguan yang kupikirkan.
Melihatmu dari kejauhan caraku mencintaimu seperti Tuhan yang lebih banyak memperhatikan dari kejauhan, yang lebih banyak menjaga dari kejauhan dari tempat yang tak ketahuan. Hanya saja kamu belum pernah tahu keberadaanku. Ya, mungkin karena terlalu sering memperhatikan, jadi lebih tau dibanding kamu.
Melihatmu dari kejauhan kadang menyenangkan dan kadang menyedihkan. Tapi aku selalu mengerjakannya dengan ketulusan, tanpa menyesal karena ada kerugian. Mencintaimu seperti pergi ke dunia mimpi dan membawa banyak peri yang mengajariku berlari dengan satu kaki atau menari dengan pelangi, yang tak pernah kulakukan setiap hari sebelum bertemu mimpi dan para peri.
Dengan melihatmu dari kejauhan, hatiku tak pernah mau pulang. Karena di situ tempatmu yang membuatku merasa tenang dan nyaman. Melihatmu dari kejauhan, mungkin hanya itu sekarang yang bisa kulakukan. Tapi ketika waktu sudah penuh dengan kebisuan, dan dimana harus ada perhentian, mungkin kita aka nada di dalam suatu pertemuan yang disatukan Tuhan
~

Hari ke 16
Read More

Senin, 23 Januari 2017

Kalau Kamu Tak Sanggup Lebih Baik Pergi Saja

#30HariMenulisSuratCinta

Yogyakarta, 23 Januari 2017

Aku menuntutmu mencintaiku seolah-olah belum pernah ada yang menyakitimu. Lepaskanlah luka-lukamu yang dulu, lepaskanlah bersama masa lalumu. Jadi, jangan mencintai orang yang baru dengan hati lamamu.

Aku menuntutmu untuk memberikan hati dan pikiran baru. Aku bukan dia, dia, atau dia. Fisikku tidak sama, sidik jariku pun tidak sama, apalagi sifat-sifatku. Kamu tidak bisa mengharapkan aku memiliki kebiasaan seperti dia. Tapi aku memiliki tanggung jawab untuk membahagiakanmu lebih besar dari dia, dia, atau dia.

Aku yang bersedia menerimamu yang sekaranh, bukan mereka. Aku yang bersedia bersamamu berlama-lama mendengarmu bercerita, atau menemanimu keliling kota. Aku. Bukan. Mereka

Jadi, berhenti membandingkan. Mulailah melihatku.

Aku mencintaimu, sekarang. Kamu. Kamu, yang sekarang. Bukan kamu yang dulu meski aku menerima masa lalumu apa pun itu. Tapi jangan hidup di masa lalumu. Kalau menginginkan bahagia baru.

Aku bukan siapa pun di masa lalumu. Jangan hidup di masa lalu. Hiduplah bersamaku

-Dari aku, yang sekarang ada bersamamu

~

Hari ke 15

Read More

Selasa, 17 Januari 2017

Teman Kita Pernah Bercerita

#30HariMenulisSuratCinta

Yogyakarta, 17 Januari 2017

Teman kita yang pernah bercerita.

Ada dua orang yang selalu tidak sabar menunggu pagi. Keduanya ingin terus bertemu lagi, untuk saling mengagumi. Merasakan hangatnya percakapan, merasakan bagaimana ternyata seseorang bisa membenci malam karena itu artinya perpisahan.

Menyenangkan

Dua orang itu pernah menjadi dua orang yang saling jatuh cinta,tapi tidak ada yang berani mengatakannya. Itu berlangsung lama, terlalu lama. Sampai salah satu bosan menunggu dan satu lagi masih takut kalau satunya tidak memiliki perasaan yang sama.

Dua orang yang saling jatuh cinta tetapi tidak pernah bersama. Kata teman-teman, dua orang itu adalah kita.

~

Hari ke 14

Read More

Selasa, 10 Januari 2017

Aku Menulis ini Untukmu

#30HariMenulisSuratCinta

Yogyakarta, 10 Januari 2017

Aku menulis ini untukmu. Untuk semua tawa yang sudah kau buat dan untuk ingatanku yang sudah kau ikat.

Akubtidak menyesali semuanya meski pada akhirnya kita tidak bisa bersama. Kamu sudah pernah membuatku tertawa, itu sangat cukup, lebih dari cukup. Dan aku juga menikmati setiap perbincangan kita, menikmati proses menunggu pagi setiap hari agar selalu bisa berbincang denganmu lagi, menikmati ceplas-ceplosnya kamu, menikmati komentarmu tentang berbagai hal yang kamu lihat. Kita pernah memiliki waktu yang sangat menyenangkan, berdua.

Aku menulis ini untukmu. Untuk semua perbincangan kita yang bisa aku ingat dan untuk perpisahan kita yang pernah membuat mataku sembab.

Aku masih akan menyimpanmu di bergiga-giga byte memori di kepalaku. Suatu saat mungkin akan tertumpuk dengan memori baru tentang orang lain, bahagia lain, atau peristiwa lain. Tapi memori itu di sana, tetap di sana, karena aku tidak pernah menghapusnya. Dan mungkin akan muncul begitu saja seperti sudah diciptakan otomatis ketika mendengar musik kita berdua atau film yang pernah kita tonton. Tapi kenangan hanya kenangan, bukan? Tidak pernah menjadi masa depan.

Aku menulis ini untukmu. Untuk semua kalimat yang pernah atau belum aku ucapkan dan untuk perpisahan kita meski kita tidak pernah menginginkannya.

Karena kalau Tuhan berkata tidak, seberapa jatuh cintanya kita berdua Tuhan akan memisahkannya. Jadi, ini. Kita harus menerimanya. Seberapapun pahitnya.

Suatu hari nanti, kalau Tuhan berkenan, mungkin kita akan dipertemukan lagi bersama kebahagiaan kita sendiri-sendiri. Mungkin itu cara Tuhan mengajarkan kepada kita, bahwa kebahagiaan itu bukan satu jalan, bukan satu orang, tapi ada banyak jalan, dan ada banyak orang yang mungkin memiliki kesempatan yang sama untuk membuat kita bahagia.

Bahagia selalu datang tepat waktu. Mungkin kita yang selalu terburu-buru mengartikan kalau bahagianya sudah datang, sementara menurut Tuhan belum. Hnya sebuah batu loncatan untuk belajar membina hubungan, sebelum orang yang benar-benar diciptakan untuk kita didatangkan
~

Hari ke 13

Read More

Minggu, 08 Januari 2017

First Alphabet

#30HariMenulisSuratCinta

Yogyakarta, 9 Januari 2017

The first letter of alphabet. Bolehkan aku menyebutmu itu? Aku terlalu enggan menyebut nama aslimu, rasanya asing. Ya, aku merasa asing menyebut namamu meskipun aku tak pernah berhenti menyebutmu dalam setiap ceritaku.

Aneh mungkin, ketika disaat yang bersamaan aku merasa sakit dab bahagia. Karena satu orang yang sama. Mungkin kamu tau, mengenai aku yang memujamu setengah mati, dan aku yang kesakitan olehmu. Namun kini, seperti ada rasa lain yang berbeda saat kita dipertemukan lagi. Sebentar, jangan tertawa dan merasa puas dulu. Siapa bilang aku menyukaimu? Tidak. Aku hanya merasa nyaman berada didekatmu, dengan segala perhatianmu, dan dengan semua tingkahmu.

Aku ini bukn perempuan yang terbiasa dengan kata lembut dan senyum yang mengukir di bibir. Aku lebih banyak diam, tertawa hana pada yang ku kenal dekat, serta bertingkah seenaknya tanpa memikirkan orang lain. Aku melakukan semuanya padamu, kan? Tanpa wajah bersahabat saar kamu mengajakku bicara, sering sekali.

Aku banyak mendengar cerita tentangmu. Tentang sikapmu yang dewasa, bertanggung jawab, baik, dan segudang pujian lainnya. Di hadapan mereka, aku berusaha menyangkal itu semua. Namun kini harus kukatakan bahwa aku menyetujui ucapan mereka. Kamu memang bertanggung jawab dan pribadi yang baik, serta dewasa. Kamu memang supel dan tanpa mengenal lelah. Kamu tahan banting meski aku sering bertingkah seenaknya.

Sebentar, mungkin ada satu hal yang tidak aku setujui dari ucapan orang tentangmu. Wajahmu tidak ganteng. Hei. Mereka salah bicara. Tapi harus kuakui bahwa wajahmu itu lucu. Aku menyukainya, wajah yang selalu terlihat mengantuk dan mata yang sipit hampir tidak terlihat, serta pipi yang nyaris gembil. Aduh, aku bahkan tertawa membayangkan wajahmu sambil menulis ini.

Mungkin surat ini datang terllu cepat untukmu. Secepat hubungan yang aneh dan menggelikan jika dipikir. Namun kamu memang membuatku nyaris lupa dengan kesakitan dan kekecewaanku karenanya. Dan harus lagi terua kuakui bahwa aku memang menyukaimu. Dengan segala kelucuanmu dan segala pujian tentangmu.

Terimakasih, ya. Untuk soaokmu yang hadir tiba-tiba dengan segudang ketiba-tibaan lain. Aku punya satu permintaan khusus untukmu. Jangan ubah cara berpikirmu yang lucu itu. Aku menyukainya. Sungguh
~

Hari 12

Read More

Minggu, 20 November 2016

Surat Terlambat

#30HariMenulisSuratCinta
Yogyakarta, 20 November 2016

Aku tidak ingin lagi kehabisan waktu. Kamu tau dan aku pun tau bahwa kita membuang terlalu banyak waktu untuk saling berpura-pura. Menganggap tidak ada yang salah dengan keadaan kita yang tanpa kata seperti ini. Mungkin kamu telah terbiasa membungkam mulutmu, ataupun mematikan rasamu akan aku. Tapi aku kehilanganmu, Kak.
Aku kehilangan pecinta Chelsea yang menggilai si Biru itu. Aku kehilangan kamu yang bahkan isi twitter dan instagram nya penuh dengan lambang dan wajah pemain Chelsea. Aku kehilangan kamu yang bawel setengah mati memintaku berubah menjadi lebih baik. Aku kehilangan kamu yang dengan sabar menungguku membuka hati meskipun hanya separuh untukmu.
Sebut aku ini tidak tau diri. Sebab aku yang bukan apa-apa ini menolakmu dan menarikmu pergi dari kehidupanku. Sebab aku yang tidak menarik ini mencoba menghancurkan hatimu berulang kali.
Hei Kamu, aku ingin kamu tau. Aku rindu bertukar kabar denganmu. Aku rindu begadang bersama untuk menonton Chelsea bertanding. Aku rindu kamu yang penuh kejutan dan manis.
Menyesal? Mungkin ini yang kurasakan saat ini. Tapi apa kamu tau alasannya? Aku merasa tidak pantas disampingmu, kamu bagaikan magnet dengan jutaan pesona. Sedangkan aku hanya sebah batang besi di antara tumpukan besi lainnya.
Mungkin ini sudah terlambat. Surat ini kutulis begitu terlambat. Kamu mungkin telah bersanding dengan yang lain saat ini. Namun aku merasa aku harus mengutarakan isi hatiku padamu. Gengsi? Ya, aku merasakannya. Namun aku tidak mau menyesal terlalu lama.
Hei Kamu, tetap jadi penggemar Chelsea yang heboh ya. Tetap bertahan di bidang seni yang kamu geluti. Tetap jadi guru tari modern yang baik untuk para juniormu. Aku merindukanmu, Kamu.
~


Hari ke 11
Read More

Welcome to my little world

Diberdayakan oleh Blogger.

Temukan Aku di...

Followers

© Bienvenue, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena