Bienvenue

Welcome to my little world

Selasa, 20 Januari 2026

Petite Fleur

Petite Fleur, toko bunga satu-satunya di distrik ini. Sudah nyaris satu dekade ruko dua lantai itu tidak dipugar oleh pemiliknya, entah karena ketiadaan dana atau memang sengaja ingin menonjolkan sisi tua yang unik di antara bangunan beton. Namun, bagi Theo Keller sendiri, ia tidak begitu peduli dengan perkara itu. 

Kling! Klang! 

Tepat jam dua belas siang, pria itu melewati pintu kaca Petite Fleur yang sufah ia hindari selama delapan tahun. Toko ini terasa lenggang lantaran dua pegawai yang biasa melayani pergi makan siang. Hanya ada seorang wanita berambut sepunggung duduk manis di balik meja kasir. Ia tersenyum begitu ramah, tapi matanya kosong seperti tidak tau ke mana senyum itu ditujukan. 

"Bienvenue!! Anda mencari bunga apa?" Wanita itu bertanya tanpa bergerak dari tempatnya. Theo hanya tersenyum, lupa kalau wanita itu tidak dapat melihatnya. 

"Namaku Iris Delacroix, pemilik toko ini." Wanita bernama Iris itu buru-buru menimpali, merasa sedikit tidak sopan karena bertanya tanpa menyebutkan nama. "Apakah Anda sedang mencari bunga untuk pasangan Anda?"

Sol sepatu milik Thei yang berketuk di lantai kayu menjawab pertanyaan itu. Sesungguhnya ia sendiri bingung ingin membeli bunga apa untuk wanita itu. 

"Iris, menurutmu...." Theo menoleh pada wanita itu. "Bunga apa yang paling membuatmu bahagia?"

Iris terdian, ekspresinya terlihat kaget untuk beberapa detik. Namun, wanita itu terkejut bukan karena pertanyaan yang ia terima. Melainkan karena suara bariton itu membangkitkan kenangan manis di ingatannya. 

"Iris?"

"Eh?" Iris tersentak tanpa sadar ia diam terlalu lama, "Euh.... Bunga yang membuatku bahagia?" Wanita itu terdiam lagi, tiba-tiba pikirannya kosong, tapi kemudian ia teringat satu bunga yang sering membuatnya bahagia karena selalu dicari. 

"Mawar. Aku suka mawar." Senyum Iris melebar, dadanya berdebar karena bahagia. "Bunga itu selalu membuatku merasa begitu dicintai."

Mendengar itu Theo melangkah menuju deretan bunga mawar yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Sejenak ia terdiam saat melihat pilihan warna bunga yang begitu banyak, tapi akhirnya Theo memilih mawar merah muda karena sangat mirip dengan rona wajah wanita itu. 

"Kalau begitu, aku beli bunga mawar." Kata Theo sesat setelah berada di depan kasir sembari meletakkan buket mawar itu di atas meja. 

Iris lantas membuka laci dan meraba-raba gulunga pita untuk mempercantik buket bunga itu. "Bunga mawar warna apa yang anda pilih?" Tanya Iris sebelum mengambil satu pita.

"Merah muda."

Setelah mengetahui hal itu, Iris mulai bekerja. Gerakannya cukup cekatan, mungkin karena ia sudah tinggal di tempat ini seumur hidupnya jadi ia sudah terbiasa. 

"Tuan?" Suara manis Iris memecah keheningan sementara tangannya terus bergerak, "Apa Tuan mau mendengat kisahku sambil menunggu?"

Theo terpaku menyadari wajah wanita itu berubah begitu lembut. 

"Dulu orangtuaku meninggal dengan hanya mewarisi hutang dan tempat ini." Iris mulai bercerita tanpa diminta. "Nyaris setiap hari komplotan truand datang dan memaksaku meninggalkan tempat ini. Aku sangat ketakutan. Waktu itu aku hanya gadis belasan tahun yang tidak tau apa-apa, tapi aku juga tidak ingin menyerahkan tempat ini. Bagaimana pun ini rumahku."

Iris menarik napas sejenak. "Hingga pada suatu hari, komplotan truand itu datang dengan peringatan terakhirnya. Mereka mengancam dan memukuliku, aku bahkan nyaris diperkosa karena bersikukug, tapi hari itu juga seseorang menyelamatkanku."

Iris tersipu dan Theo masih terkesiap. "Ia datang tiba-tiba, melindungiku dari orang-orang jahat itu dan berkata kalau semua akan baik-baik saja. Kejadian itu berlangsung begitu cepat. Setelah ia memastikan aku aman, ia pun pergi begitu saja. Setelah ia memastikan aku aman, ia pun pergi begitu saja. Setelah itu tidak ada lagi komplotan truand yang datang dan beberapa hari kemudian kutemukan banyak sekali uang di kotak surat. Uang yang aku butuhkan untuk membangun toko bunga ini kembali."

Buket mawar itu telah selesai diberi pita. Iris tersenyum pada Theo seolah-olah ia bisa merasakan di mana pria itu berdiri dan menyodorkan pesanannya. 

"Tapi Tuan, aku tidak pernah melupakan suara pria itu." Kata Iris dengan penekanan di setiap katanya. 

"Tidak Akan Pernah."

Theo mengambil buket itu dan menggenggamnya erat, segera ia meletakkan uang yang lebih dari cukup untuk membayar bunga itu di atas meja tanpa banyak bicara. Tapi saat ia sudah ingin vervalik pergi, suara Iris menahannya. 

"Tuan, bolehkah aku tau namamu?"

Theo diam sejenak. "Theo Keller"

Wajah Iris berseri, ronanya semakin tampak merah muda sama persis seperti bunga dalam genggaman Theo. 

"Maukah Tuan berjanji datang kembali?"

Iris mengadung kelingking ke udara, menanti Theo menyambutnya. Namun Theo tidak lagi memiliki kelingking. Ia telah menyerahkan kedua jari kecil itu sebagai harga atas kesetiaan pada Marga Keller, kelompok yang memegang wilayah ini dengan tangan besi. 

Bagi Theo, kehilangan itu bukan hal yang perlu disesali. Hidup di jalanan telah lama mengajarinya bahwa tubuh hanyalah alat, dan kesetiaan sering kali dibayar dengan darah. 

Ia telah terbiasa menjadi bagian dari dunia yang gelap, tempat membunuh dan dibunuh terasa seperti rutinitas yang tidak terelakkan. Bahkan, diam-diam ia merasa bangga, karena namanya masih cukup berharga untuk dihargai mahal oleh para petinggi marga. 

"Iris," Theomenyodorkan kembali buket bunga di tangannya pada Iris, dan wanita itu refleks menyambutnya dalam pelukan. "Bunga ini untukmu."

Theo tersenyum lebar; bahagia karena ternyata dirinya masih hidup dalam ingatan wanita itu. 

"Hiduplah terus dalam kebahagiaan."

Kling! Klang! 

Pintu kaca Petite Fleur kembali terdengar dibuka-tutup. Bersama dengan kepergian Theo dari toko bunga itu. Ya, hidup harus terus berlanjut. 

-♡
Read More

Minggu, 28 Desember 2025

Tentang Tuan dan Senja

Yogyakarta, 28 November 2025

Tuan, 
Tolong katakan pada senja, terima kasih untuk waktu yang telah ia berikan padaku. Dua puluh menit yang lalu ia menemaniku di pubcak bukit sembari menyisipkan puisi tentang semak yang mencintai dedaunan. Kepak elang di ujung cakrawala bilang puisi itu sudah basi, tapi aku menyukainya karena semesta kecul itu selalu berhasil membuatku mengingat semua tentangmu dengan berbagai cara. 

Tuan, 
Tolong katakan pada senja, aku akan kembali esok hari. Jika tidak, mungkin lusa. Mungkin juga keeseokan harinya lagi. Aku sudah meninggalkan janji di tumpukan batu itu, ada namamu di sana, ditutupi lumut tapi masih jelas terasa. Seseorang bilang padaku, bangunlah rumah di atas perbukitan itu agar terbebas dari banjir di bawah sana. Maka dari itu, kutinggalkan namamu di sana, sejenak untuk mengingatkan bebatuan bahwa di sanalah rumah hatiku berada. 

Tuan, 
Tolong katakan pada senja, jangan merindukanku karana aku tidak pernah merindukannya. Apa yang datang, pasti akan pergi. Siklus itu sama persis dengan siklus yang biasa kamu sebut kehidupan sementara aku menyebutnya kematian. Iya, cra kita memandang semesta memang berbeda, kamy selalu menjadi Tuan Optimis sementara aku si Gadus Tukang Nyinyir. Tawamu bertahun yang lalu di kedai itu mengingatkanku pada terjangan angin yang biasa kuhadapi di pendakianku, menerjangku dengan perasaan kalah yang tidak berkesudahan. Kamu selalu memenangkan segalabya, termasuk hidupku. 

Tuan, 
Tolong katakan pada senja, aku tidak mengharapkan apapun darinya. Cukuplah aku tau dia ada, setia di bukit itu dan aku sudah puas dengan semua yang ada di hidupkh saat ini. Bila senja tanya mengapa, tersenyumlah padanya, peluk senja dengan tangan-tangan kokohmu itu, dan ucapkan terima kasih padanya. 

Karena hanya ialah satu-satunya penghubung hatiku dan hatimu. 


Read More

Sabtu, 27 Desember 2025

Pagi(ku)

Yogyakarta, 27 Desember 2025

Malam Bintang. Sudah lama sekali ya dari terakhir aku menuliskan surat untukmu. Bukan, bukan karena aku melupakanmu. Tentu saja tidak mungkin aku melupakan cinta pertamaku. Maafkan kami ya Bintang. Untuk membagi waktu istirahat saja sekarang aku bingung, Bintang. Aku kembali ke rutinitas yang kalau duli akan kamu marahi karena merusak tubuh. 

Aduh Bintang. Sopan sekali aku membuka surat ini dengan keluhan. Maaf belum menanyakan kabarmu. Bagaimana kabarmu? Pasti sangat bahagia bersama Langut dan banyak sahabatmu yang sudah menyusulmu. Sampai lama sekali juga kamu tidak mampir di mimpiku. Aku sangat sangat sangat merindukanmu, Bintang. 

Bintang, Bulan akhir-akhir ini sakit. Tapi sekarang sudah membaik. Dan seperti biasa. Aku bukan manusia yang baik dalam berekspresi atau menunjukkan kepedulianku. Aku menjadi galak dengan alasan disiplin agar Bulan lekas sembuh. Sama kan seperti saat bersamamu dulu. Ah, ingat sekali aku memarahimu karena kamu tidak mau makan padahal ya memang mungkin badanmu sesakit itu. Maaf ya Bintang, emang kayak sudah default nya aku. 

Malam ini aku ingin bercerita tentang dua Pagi-ky. Iya, Bintang Pagi-ku yang membawaku pada siang terik dan Pagi-ku yang sekarang. Pagi yang dulu sering aku ceritakan saat aku berkunjung ke tempat baru-mu itu tidak membawaku ke malam yang tenang, Bintang. Bulan beberapa kali menasehatiku tentangnya, tapi namanya juga aku. 

Pagi-ku yang lalu memberiku siang yang sangat terik dan malam badai. Bulan sedih melihatku diberi itu semua. Sampai ada kesalahan Pagi yang tidak bisa aku maafkan. Pagi itu menduakanku, Bintang. Kamu tau sendiri kan seberapa bencinya aku diperlakukan seperti itu. Bulan bilang aku harus bersyukur karena tau ini semua sebelum terlalu jauh. 

Berbeda dengan Pagi-ku yang sekarang, Bintang. Semoga. Memang aku belum mengenal sepenuhnya. Bulan bilang dia menyukai Pagi-ku yang ini. Kata Bulan, dia mengenal pribadi Pagi-ku yang baru ini. Tapi memang sangat berbeda dengan Pagi yang lain. Mungkin Bintang juga mengenalnya. 

Bintang, semiga Pagi-ku kali ini adalah pilihan yang tepat ya. Semoga dia mengajakku melewati malam dengan baik, ya. Tenang Bintang, aku sudah belajar banyak hal tentang melewati malam. Beli. Sebanyak Bulan dan Bintang sih. Tapi sudah cukup untukku melewati malam. 

Ah iya Bintang, aku mau pamer juga. Aku sudah mulai berani menghadapi ulat bulu. Tadi di tempat barumu ada ulat bulu dan aku berhasil membersihkan tanpa berteriak. Aku merasa hebat. Setelah lebih dari 20 tahun ya Bintang, ya. 

Bintang, ini sudah halaman ke tiga aku menuliskan ceritaku padamu. Minta tolonglah Langit untuk membacakan surat ini. Tidurlah yang tenang ya Bintang. Mempirlah di mimpiku malam ini. Agar aku bisa bercerita versi lebih lengkapnya. Aku sangat merindukanmu. 

Read More

Rabu, 05 November 2025

20 Hal tentang Imos


Hehehe. 
Lama aku tidak berselancar di blog. Kemudian ah aku bingung mau pakai kemudian atau tiba-tiba. Baik aku pakai tiba-tiba saja. Tiba-tiba aku melihat tulisan ini di blog salah satu tempatku berselancar. Karena aku memang orangnya suka ikut-ikutan, yaudahlah aku gas aja. 
Read More

Selasa, 07 Oktober 2025

Pertemuan Itu

 Clara Montrosee tidak tau apa stocking oranye dan one piece t-shirt bercorak garis-garis vertikal merupakan perpaduan tepat untuk sebuah pesta vintage. Akan tetapi, itu yang dikatakan sebuah majalah fashion padanya bertahun-tahun yang lalu, maka ia menurut saja 一 bahkan ketika ia harus melangkah ke trotoar licin Bleecker Street dengan lampu Neon berkedip di atas kepalanya.
Read More

Kamis, 07 Agustus 2025

Seandainya Pongah itu Kita Buang ke Laut Saja

 Putih adalah warna kesukaan Niralyn selain merah muda. Namun, ketika ia melihat pria itu mengenakan kemeja berwarna putih, mencukur rambutnya hingga cepak, dan menghilangkan bulu-bulu di wajahnya begitu bersih serta rapi - seperti yang selalu ia bayangkan dalam benaknya, entah mengapa Nira merasa risih.
Read More

Rabu, 02 Juli 2025

Love Glow Like A Lighted Candle

Luca Vale tau bahwa lembayung senja tidak akan pernah menunggunya di pesisir pantai tempatnya berlibur itu. Jadi, ia hanya punya satu hal untuk dilakukan selain memaki waktu yang berjinjit melewati hari-harinya yang pendek dan padat; membuat lagu. Ini bukan masalah imajinasi yang terlanjur menyesakkan jiwa, bukan juga karena mengisi waktu luang di antara hiruk pikuk kehidupan metropolitan yang tengah ia jalani.
 
Luca hanya sedang jatuh cinta.
 
Sesederhana menyalakan lilin di tengah ruang hati yang gelap. Luca memahami cinta itu dengan cara yang orang lain tidak pernah rasakan sebelumnya.
 
Yah, tentu ini bukan kali pertamanya Luca jatuh cinta. Baginya, itu sudah jutaan kali jatuh cinta, sudah berkali-kali bibirnya tersentuh bibir wanita, memeluk mereka dengan kehangatan nyata serta cinta yang menggebu-gebu. Namun cinta kali ini berbeda. Ada sisi magis yang tidak bisa Luca jelaskan dengan kata-kata bahkan ia nalar dengan pikiran-pikiran jeniusnya yang selalu dipuji semua orang di sekitarnya.
 
Luca lalu bertanya-tanya, apakah ini sungguh cinta? Cinta mana mungkin sesederhana ini. Dia selalu disuguhi film-film romantis serta kisah-kisah cinta yang menunjukkan betapa jatuh cinta adalah sesuatu yang membakar jiwa hingga mampu mendorong seseorang melakukan hal-hal yang mustahil. Cinta di mata Luca adalah gempa bumi, menjungkirbalikkan perasaan, membuat seseorang tidak bisa berpikir jernih, dan mengganggu ritme kehidupan. Hanya saja, itu bukan pertanda yang Luca rasakan, karena sekarang, Luca hanya merasa....
 
Hampa...
 
Tenang dan damai.
 
Ini mengherankan. Luca bahkan sudah lupa kapan terakhir kali ia merasakan hal seperti ini. Ia percaya, satu-satunya hal yang meninggalkan jejak seperti itu hanyalah pelukan Ibunya yang kini telah tiada; hal itu pun sudah sangat lama terjadi.
 
Ah, mungkin ini bukan cinta, bisik sisi lain diri Luca; skeptis akan perasaannya sendiri. Mungkin ini hanyalah rasa kekaguman semata atau apalah itu. Perasaan ini mungkin saja akan menghilang lebih cepat dari separuh periode bulan purnama, setelah itu ia akan kembali menjadi luca yang biasanya -dinamis mengikuti ritme kehidupan. Hanya saja, perasaan ini terlalu nyata jika hanya disebut kekaguman semata; terlalu menyeluruh hingga ke sumsum tulang jika hanya perasaan yang akan menghilang secepat ia datang. Lalu, jika ia bukan cinta, maka perasaan apa ini?
 
Ah, sudahlah. Luca pun berhenti bertanya-tanya, pun berhenti menduga-duga juga skeptis tentang perasaan ganjil ini Ia memutuskan untuk menerima kondisi hatinya sekarang dengan kedua tangan terbuka lebar -menikmatinya dengan sepenuh hati di hari-hari panjang juga melelahkannya. Itu lebih mudah dilakukan ketimbang menyusun serentetan alasan untuk menolak perasaan magis itu.
 
Toh, ia bahagia.
 
Memangnya apa lagi yang harus ia lakukan selain menikmatinya?
 
"Jadi, kamu bisa main piano?"
 
Luca tidak tersentak maupun kaget dengan suara pongah yang tiba-tiba menyela dentingan pianonya. Ia justru tersenyum, menarik salah satu sisi bibirnya ke atas, dan terkekeh di dalam hati karena berhasil memikat perhatian wanita itu.
 
"selingan saja. Daripada keyboard kantor nganggur." Sahut Luca sambil menarik jari ke atas keyboard kepunyaan kantor itu kembali. Lagu yang sama berkumandang dari awal, menyebar ke seluruh lantai, dan menyusup di antara kubik-kubik kosong yang ditinggal makan siang oleh pemiliknya.
 
"Apa kamu tidak takut dimarahi Papa?" Wajah wanita itu muncul di sudut mata Luca; rambut panjangnya jatuh di aras bahu membingkai wajah berbentuk hati itu dengan sempurna.
 
"Sudah jadi inventaris kantor nih. Big Boss jarang pakai juga kan?"
 
"iya juga...' wanita itu menganggukkan kepala, menarik kursi terdekat, dan ikut duduk di sebelah Luca. "Lagu instrumental siapa ini? Max Richter?"
 
"Laguku," jawab Luca datar. Ia masih tenggelam dengan nada-nada yang ia ciptakan sendiri, hingga mengabaikan mata kenari yang melebar di sampingnya.
 
"Ha? Beneran?" itu pertanyaan yang tidak perlu Luca jawab; ia memilih untuk diam dan melanjutkan.
 
"Keren banget," komentar wanita itu lagi masih dengan ekspresi yang sama. "Aku gak bisa main piano," imbuhnya lagi.
 
"Gak minta diajarin aja sama Big Boss?" Kini giliran Luca yang bertanya.
 
"Seumur gini? Gak ah. Lagian juga gak terlalu minat/"
 
"Emmh... Oke deh."
 
ukan bukan karena Luca tidak tau harus berkomentar apa hingga ia hanya bisa memberi gumaman tidak jelas seperti itu. Luca hanya ingin menikmati momen ini sejenak; kehangatan dan perasaan damai ketika wanita itu berada dalam jarak pandangnya serta cinta yang magis ini. Yap, hingga detik ini, ia tidak pernah meminta lebih dari itu, karena momen ini terasa tepat tanpa perlu semesta menjelaskan itu semua.
 
Untuk beberapa saat hanya lagu instrumental dari tarian tangan Luca yang mengisi suara di antara mereka. Wanita itu pun sepertinya memilih diam. Hingga akhirnya deretan denting terakhir berkumandang dan lagu selesai. Tepuk tangan menyambut Luca dan pria itu pun tersenyum lebih lebar.
 
"Ih, sumpah ya keren banget," kata wanita itu lagi, sungguh-sungguh.
 
"Terima kasih," balas Luca, ia menoleh dan kini menatap wanita itu lebih jelas.
 
"Judulnya apa?" Luca suka rasa ingin tahu wanita itu yang tinggi. Mengingatkan Luca akan dirinya saat masih kecil, yang begitu penasaran ada dunia lain selain gedung pencakar langit dan semua mainan-mainan canggih yang dimilikinya dulu.
 
"Love Glows Like A Lighted Candle" jawab Luca hikmat, judul lagu itu muncul begitu saja di kepalanya bersamaan dengan selesainya lagu yang ia ciptakan. Mungkin karena tidak ada yang mendeskripsikan perasaanyya sekarang lebih dari itu.
 
Wanita itu mengerjap, "Kok sama seperti dengan bayanganku?" Luca mengangkat satu alisnya, meminta wanita itu menjelaskan lebih lanjut pernyataannya. "Iya, tadi pas dengerin lagu itu aku ngebayangin bawa lilin nyala, terus rasanya tenang, damai, dan...."
 
"Hangat"
 
Luca terkekeh, "itu juga hyang aku rasain."
 
"Eh..." Mata wanita itu menyipit, senyum tidak lepas dari wajahnya. "Kamu... sedang jatuh cinta ya?"
 
"Iya.." jawab Luca enteng tanpa terpikir dua kali, "Aku sedang jatuh cinta" tegasnya lagi.
 
Wanita itu terkesima, matanya berbinar. Luca memandangnya dengan penuh perhatian, bagaimana ekspresi wajah itu berubah-ubah tanpa ada satu raut pun yang dipaksakan. Kejujuran dan kepolosannya. Luca menyukai itu dengan caranya sendiri.
 
"Wah.. Sama siapa?"
 
"Kamu."
 
Luca masih tersenyum, sementara ekspresi wanita itu kembali berubah menjadi lebih kaku dan penuh rasa keterkejutan. Entah di mana isi kepala Luca  saat ini, jawaban itu terlontar dengan sendirinya seperti nada-nada yang muncul di kepalanya tiap kali memikirkan wanita itu. Ia tidak berniat menutupi perasaannya, jika kesempatan itu datang, pria itu tidak akan ragu-ragu untuk mengambilnya.
 
Beberapa detik berlalu, mereka saling menatap dalam hening yang hanya dapat dipahami oleh diri mereka masing-masing. Seperti rentetan film lama yang di putar berulang kali, momen pertemuan pertama mereka berkelebat tanpa henti.
 
Lift kantor yang macet, trjebak dalam perjalanan ke lantai tujuh belas, detik-detik menegangkan, sinyal yang hilang. Luca berusaha tenang agar wanita yang terjebak bersamanya tidak panik. tapi hal itu sepertinya tidak perlu karena wanita itu lebih tegar dari yang Luca sangka. Nadanya yang tenang saat mengungkapkan ide agar mereka bisa terbebas dari ruangan sempit itu membuktikannya. Luca kagum, ia heran sekaligus terkesima, ia belum pernah bertemu dengan wanita itu di kantor. Mungkinkah pegawai baru?
 
Akhirnya, karena tidak menentukan ide lain selain menunggu seseorang menyelamatkan mereka mengobrol pun menjadi satu-satunya kegiatan yang dapat mereka lakukan. Untuk sesaat Luca berharap lift tersangkut lebih lama dari seharusnya karena berbicara dengan wanita itu ternyata begitu menyenangkan. Namun dia jam kemudian tim mekanis berhasil mengeluarkan mereka dan memutus kisah-kisah luar biasa yang tertukar di ruangan sempit itu. Kemudian, satu-satunya hal yang Luca ingat saat semua itu berakhir adalah perasaan hangat yang tertinggal di dadanya, serta langkah jenjang wanita itu setengah berlari memeluk seseorang yang Luca kenal dengan baik yang sudah menanti wanita itu dengan cemas di luar lift, lalu menangis ketakutan dalam dekapan...
 
Tunangannya.
 
"Claire?"
 
Sepersekian detik kemudian mereka kembali ke dunia nyata. Rentetan kejadian masa lalu itu buyar seperti kabut di pagi hari. Claire menoleh ke belakang, mendapati dua orang pria yang paling ia cintai di dunia ini melangkah menujunya.
 
"kamu ngapain ke kantor?"
 
Wanita bernama Claire itu berdiri; Luca pun berdiri. Luca mundur sejenak, mengambil jarak aman agar tidak ada prasangka yang tercipta.
 
"Eh, mau ketemu Papa saja." jawab Claire spontan.
 
"Lah, aku?" Pria di samping Papa Claire menyela, menggoda Claire dengan ekspresinya.
 
"Hehe, Kak Nathan juga dong," imbuh wanita itu sembari merangkul lengan tunangannya. Nathan Vale.
 
Bahkan tanpa diminta pun Luca Vale tau kalau kehadirannya tidak dibutuhkan. Perlahan Luca menyingkir, tersenyum, dan mengangguk singkat kepada kedua orang tersebut dan kembali ke ruangannya sendiri. Ia bisa merasakan ekor mata wanita itu mengikuti gerakannya, sorot mata menyesal dan permohonan maaf. Namun Luca tidak membutuhkan itu. Luca tidak pernah menyesali setiap detik yang ia habiskan dalam menikmati perasaan hangat dan magis itu.
 
Meski akhirnya nyala lilin itu harus padam dan hatinya kembali gelap untuk waktu yang lama. Luca percaya suatu hari nanti, akan ada cahaya lilin yang datang. Menyinari hatinya dan membuat hidupnya utuh dan penuh.
 
Ya, suatu hari nanti.
 
♡ 
Read More

Selasa, 06 Mei 2025

Mengingatmu (lagi)

 Yogyakarta, 6 Mei 2025
 
Beberapa malam ini aku sering melihatmu lumayan aktif di grup tempat kita dulu sering mengobrol. Dan ya, itu membuatku agak canggung juga untuk ikut obrolan. Aku masih belum begitu nyaman hanya dengan melihat namamu saja. Padahal kita sudah berapa tahun berpisah. Padahal kamu juga sudah menemukan wanitamu yang baru juga.
 
Karena beberapa malam ini sering melihat namamu, akhirnya dengan kesadaran penuh aku membaca ulang hampir semua percakapan kita. Artinya dengan kesadaran penuh juga aku menyakiti hatiku sendiri. Dan berakhir pada kembalinya rusak jadwal tidurku. Memang hebat sekali aku ini.
 
Hai Kamu, Kakak. Bagaimana kabarmu di sangat jauh sana? Kita semakin jauh ya sekarang. Dulu kita hanya ratusan kilometer, sekarang menjadi ribuan kilometer. Kak, aku merasa semakin jauh juga kesempatanku untuk meminta maaf. Yang awalnya aku berpikir tentang kesempatan dekat denganmu lagi itu aku mengganti harapanku dengan kesempatan meminta maaf denganmu. Itu pun sekarang sudah sangat sulit. Ditambah lagi gengsiku yang luar biasa.
 
Kak, semalam setelah aku membaca ulang percakapan kita lebih kebagian yang saat itu membuatku menyerah akanmu. Itu membuatku berpikir. Apakah pada saat itu aku yang bersalah karena kurang peduli terhadapmu? Karena memang aku sadar sebagai manusia pun aku tergolong manusia terlalu cuek. Mungkin pada saat itu seharusnya aku sering menanyakan bagaimana keadaanmu. Kamu bukan tipe orang yang akan sukarela bercerita jika tidak ditanya. Dan kebetulan aku tipe yang belum tentu sehari sekali menanyakan bagaimana kabarmu. Sangat cocok bukan? Bagaimana bisa kita tidak salah paham kalau begitu? Lucunya kita.
 
Kemudian, lanjut sampai di titik yang kamu menunjukkan kepedulianmu padaku walaupun kita sudah tidak bersama saat itu. Sayangnya, saat itu aku bingung. Selain bingung, saat itu aku juga masih merasa sakit dengan segala tindakmu saat itu. Kemudian aku menanyakan kepada teman dekatku bagaimana aku harus merespon. Sejujurnya, aku tidak ingin membalas dengan kata yang kurang mengenakkan seperti saat itu. Bahkan setelah aku mengirimkan langsung aku merasa menyesal. Tetapi temanku pun berkata aku masih terlalu baik padamu. Katanya, kamu menyakitiku terlalu dalam, jadi tidak pantas mendapatkan perhatianku lagi. Kemudian aku menurutimya begitu saja, tanpa berpikir. Setelah kubaca kembali, ternyata semua hal menjadi terbalik. Aku lah kemudian yang menjadi tokoh antagonis tersebut.
 
Kak, maafkan aku atas apapun yang aku lakukan. Maafkan aku saat itu sudah menjadi manusia yang sangat tidak peka akan semua yang kamu alami. Maafkan aku sudah memutus komunikasi. Kamu bilang kalau hari ke depan masih panjang kan? Hehe, maaf hari panjang itu tidak bisa berlanjut lagi. Karena semua hal yang aku lakukan.
 
Terimakasih Kak sudah pernah mengisi hari-hariku. Semoga setelah ini kita bisa berkomunikasi tanpa canggung lagi ya. Bahagia terus Kak dengan siapapun itu. Jangan pernah merasa sendiri lagi ya. Cheeeerss!!!!🍻
Read More

Kamis, 01 Mei 2025

Saturn Cycle


 
Saturnus membutuhkan waktu dua puluh sembilan tahun untuk kembali ke titik di angkasa di mana planet itu berada pada saat kita dulu dilahirkan. Sampai hal itu terjadi, semua tampak mungkin, impian-impian kita jadi kenyataan, dan dinding-dinding apa pun yang mengelilingi kita masih dapat dirubuhkan. Ketika Saturnus menyelesaikan siklus ini, romantisme apa pun akan berakhir. Pilihan-pilihan bersifat pasti dan nyaris tidak mungkin berubah arah [1]
 
 Dan tepat pada hari ini, aku telah menyelesaikan siklus Saturnus-ku yang pertama.
 
“Jadi, kapan kau mau menikah?”
 
“Mom…”
 
“Este, apa kamu tidak malu tiap kali temu keluarga, Granny menyindirmu dengan panggilan spinster[2]?”
 
Aku memutar kedua bola mataku yang kini terlihat lebih jelas dan bulat setelah melakukan eyelid surgery dua tahun lalu. Momma bilang mataku  terlalu sipit dan zaman sekarang wanita yang punya mata seperti itu tidak populer, jadi ia memaksaku menguras tabungan untuk melakukan operasi plastik tak berguna itu.
 
“Mom, aku tidak peduli apa yang Granny atau keluarga kita katakan tentangku. Aku bisa mengurus hidupku sendiri,” jawabku sembari melipat kedua tangan di depan dada. Kulirik jam dinding di apartemenku was-was karena kehadiran Momma bukanlah yang aku harapkan—pukul tujuh malam dan ia  datang ke sini hanya untuk mengingatkan tentang umurku yang bertambah juga pernikahan. Cih, sungguh menyenangkan.
 
“Apa kauingin aku mengatur kencan buta untukmu?”
 
“Mom!” aku berseru nyaring dengan wajah risih; muak ditawari hal yang sama jutaan kali. Dulu, pernah sekali aku menurut, tapi Momma malah memberiku duda tua menjijikan yang belakangan ini baru kuketahui adala kolega bisnis Dadda.
 
“Kalau begitu, kaucarilah sendiri!” sahut Momma sama frustasinya. “Kau tak ingin dijodohkan, tapi sampai sekarang pun tak satu orang pria yang kaukenalkan. Sebenarnya apa maumu?”
 
Aku terdiam. Membuang muka ke tembok sembari mengenang banyak luka. Tidakkah kau ingat, Mom, aku pernah memperkenalkan seseorang padamu? Dan kau bilang pilihanku itu tak pantas. Keluarga Marlowe punya standar yang tinggi, mana mungkin menerima seorang musisi serabutan ke dalam keluarga. Kau memaki pria yang kucintai itu dengan kata-kata kasar, kau buat hatinya mendera begitu juga aku. Hingga akhirnya kami berpisah dan ia mengutukku karena perlakuan Momma telah membuatnya merasa sangat terhina.
 
Sejak itu, Mom. Mencintai pria lain adalah ketakutan terbesarku.
 
“Celeste Marlowe…” Momma memanggilku dengan lebih lembut, lalu duduk merapat dan menggenggam jemariku. “Kau tahu, aku dan Dadda begitu menyayangimu. Kau putri kami satu-satunya dan kami tak ingin kau menikahi pria sembarangan seperti musisi sinting waktu itu.”

Oh, tak kusangka Momma ternyata masih mengingat pria pertama dan terakhirku itu. Padahal, kejadian itu telah berlangsung lebih dari lima tahun yang lalu.
 
 “Hungaria begitu luas, Este, pasti ada banyak pria baik juga mapan yang mau menjadi suamimu.” Tangan Momma terangkat dan menyantuh wajahku, aku diam saja meski hatiku ingin menepis tangan yang dulu pernah menamparku begitu keras. “Kau cantik, berpendidikan, dan berasal dari keluarga yang baik. Kau bekerja di perusahaan ternama dan berada di posisi hebat untuk wanita seusiamu. Kau wanita kelas A. Mudah saja bagimu untuk menemukan pengganti pria itu.”
 
“Mom, aku sudah melupakannya.” Aku memiringkan kepala, mencoba menghindari sentuhan tangan Momma.
 
“Kalau begitu panjangkan lagi rambutmu.” Kini tangan Momma beralih pada rambut hitamku yang berpotongan pixie, menyisipi riapnya lembut meski kutahu ia ingin sekali menjambak rambutku dan berteriak di depan wajahku ‘anak tak tahu untung’ sama seperti dulu. “Kau tak pernah memanjangkannya sejak putus dari pria itu. Aku rindu rambut panjangmu yang indah.”
 
“Mom, lebih baik Momma pulang dan tinggalkan aku sendiri.” Akhirnya kutepis tangan Momma, mendorong bahunya lalu berdiri dan berjalan menuju jendela yang mengarah langsung ke lautan lampu kota Budapest. “Ada hal penting yang harus kulakukan sekarang,” imbuhku mencari-cari alasan.
Kudengar Momma mendesah, ia menatapku prihatin sebelum akhirnya berkata, “Baiklah, aku akan pulang sekarang.” Wanita yang kelihatannya selalu penuh keanggunan itu berdiri dan menatapku untuk yang terakhir kalinya. “Tapi aku akan kembali lagi dengan membawa beberapa foto dari biro jodoh milik kenalanku.”
 
Mendengar itu aku langsung membuang muka ke luar jendela; mengabaikan Momma serta langkah kakinya yang pergi meninggalkanku sendirian.

Hah...
 
Aku bertolak pinggang, mengalihkan pandanganku dari lautan lampu menuju langit kelam tanpa bintang di atas sana. Hari ini, dua puluh sembilan tahun yang lalu Siklus Saturnus-ku dimulai. Banyak hal yang terjadi di hidupku, Saturnus membawaku pada mimpi-mimpi masa muda yang kini terasa seperti racauan aneh orang sinting, juga pada masalah-masalah besar yang banyak mengubah arah hidupku. Di titik ini, segalanya berakhir dan aku pun mengenang kembali perjalanan panjang hidupku yang rasanya begitu menggelikan seperti film komedi tengah malam. Tapi aku tahu, ketika segala sesuatunya telah berakhir, di waktu yang sama ada banyak hal baru dimulai…

Ting! Tong!
 
Aku tersentak tatkala suara bel membuyarkan lamunanku. Sontak aku berlari menuju pintu dengan senyum merekah tak tertahankan karena sudah tahu pasti siapa yang menantiku di sana—kedatangan yang sebenarnya sudah kutunggu-tunggu sejak tadi meski kehadiran Momma yang tak terduga merusak suasana hatiku.
 
Happy birthday, Cee!”
 
Suara manis itu menyambut cuping telingaku sesaat setelah aku membuka pintu, seperti ada gempuran rasa bahagia yang luar biasa suasana hatiku langsung berubah drastis. Senyumku pun tertarik semakin lebar hingga rasanya bibirku nyaris sobek tatkala mendapati sosok mungil itu berdiri di hadapanku dengan membawa kue ulang tahun berukuran sedang dengan banyak lilin menyala di atasnya.
 
Thank you, Ellie,” balasku sembari meniup seluruh lilin dalam sekali embusan napas panjang.
 
“Ayo, masuk!” ajakku sembari mengambil kue di tangan gadis berambut panjang itu dengan satu tangan sementara tanganku yang lain meraih jemarinya.
 
Dalam hitungan detik, kue itu sudah kuletakan begitu saja di atas meja ruang tamu, lalu langsung menarik tubuh Elara Vienne ke dalam pelukanku—mencari-cari ketenangan yang selalu kudapatkan saat bersamanya.
 
“Ellie…” bisikku lembut, bisa kurasakan gadis itu kaget dengan tindakanku tapi sesaat kemudian ia pun balas memeluk pingganggku erat—selalu mengerti apa yang paling aku butuhkan seperti sekarang ini.
 
“Aku bahagia bersamamu.”
 
Tawa gadis itu berkumandang, ada bahagia yang sama terselip di antaranya. Ia mengangguk dan meletakan kepalanya di bahuku dengan rasa nyaman seolah-olah semua terasa tepat.
 
Tidak.
 
Semua memang terasa tepat.
 
“Aku juga bahagia, Cee,” balasnya sembari mengecup lembut pipiku dan detik itu pula Siklus Saturnus-ku kembali di mulai. Dan kali ini, aku tak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama seperti sebelumnya.
Akan kutentang dunia untuk mempertahankan apa yang telah kumiliki sekarang.
 
 
~
 
[1] Dikutip dari buku Selingkuh karya Paulo Ceolho, hal. 46 alinea keenam
 
[2] Seorang wanita yang belum menikah, terutama wanita yang sudah tidak muda lagi dan tampaknya tidak akan pernah menikah
Read More

Minggu, 09 Maret 2025

MENYERAH

 Yogyakarta, 30 Mei 2023
 
Aku pernah berkata, "bertahanlah semampumu" dan mungkin memang ini semampumu. Aku tidak akan memaksamu untuk tetap tinggal. Untuk apa aku memaksakan kalau ujungnya itu hanya membuat luka untuk kita berdua.
Read More

Bienvenue

Welcome to my little world

Diberdayakan oleh Blogger.

Temukan Aku di...

Followers

© Bienvenue, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena