Petite Fleur, toko bunga satu-satunya di distrik ini. Sudah nyaris satu dekade ruko dua lantai itu tidak dipugar oleh pemiliknya, entah karena ketiadaan dana atau memang sengaja ingin menonjolkan sisi tua yang unik di antara bangunan beton. Namun, bagi Theo Keller sendiri, ia tidak begitu peduli dengan perkara itu.
Read More
Kling! Klang!
Tepat jam dua belas siang, pria itu melewati pintu kaca Petite Fleur yang sufah ia hindari selama delapan tahun. Toko ini terasa lenggang lantaran dua pegawai yang biasa melayani pergi makan siang. Hanya ada seorang wanita berambut sepunggung duduk manis di balik meja kasir. Ia tersenyum begitu ramah, tapi matanya kosong seperti tidak tau ke mana senyum itu ditujukan.
"Bienvenue!! Anda mencari bunga apa?" Wanita itu bertanya tanpa bergerak dari tempatnya. Theo hanya tersenyum, lupa kalau wanita itu tidak dapat melihatnya.
"Namaku Iris Delacroix, pemilik toko ini." Wanita bernama Iris itu buru-buru menimpali, merasa sedikit tidak sopan karena bertanya tanpa menyebutkan nama. "Apakah Anda sedang mencari bunga untuk pasangan Anda?"
Sol sepatu milik Thei yang berketuk di lantai kayu menjawab pertanyaan itu. Sesungguhnya ia sendiri bingung ingin membeli bunga apa untuk wanita itu.
"Iris, menurutmu...." Theo menoleh pada wanita itu. "Bunga apa yang paling membuatmu bahagia?"
Iris terdian, ekspresinya terlihat kaget untuk beberapa detik. Namun, wanita itu terkejut bukan karena pertanyaan yang ia terima. Melainkan karena suara bariton itu membangkitkan kenangan manis di ingatannya.
"Iris?"
"Eh?" Iris tersentak tanpa sadar ia diam terlalu lama, "Euh.... Bunga yang membuatku bahagia?" Wanita itu terdiam lagi, tiba-tiba pikirannya kosong, tapi kemudian ia teringat satu bunga yang sering membuatnya bahagia karena selalu dicari.
"Mawar. Aku suka mawar." Senyum Iris melebar, dadanya berdebar karena bahagia. "Bunga itu selalu membuatku merasa begitu dicintai."
Mendengar itu Theo melangkah menuju deretan bunga mawar yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Sejenak ia terdiam saat melihat pilihan warna bunga yang begitu banyak, tapi akhirnya Theo memilih mawar merah muda karena sangat mirip dengan rona wajah wanita itu.
"Kalau begitu, aku beli bunga mawar." Kata Theo sesat setelah berada di depan kasir sembari meletakkan buket mawar itu di atas meja.
Iris lantas membuka laci dan meraba-raba gulunga pita untuk mempercantik buket bunga itu. "Bunga mawar warna apa yang anda pilih?" Tanya Iris sebelum mengambil satu pita.
"Merah muda."
Setelah mengetahui hal itu, Iris mulai bekerja. Gerakannya cukup cekatan, mungkin karena ia sudah tinggal di tempat ini seumur hidupnya jadi ia sudah terbiasa.
"Tuan?" Suara manis Iris memecah keheningan sementara tangannya terus bergerak, "Apa Tuan mau mendengat kisahku sambil menunggu?"
Theo terpaku menyadari wajah wanita itu berubah begitu lembut.
"Dulu orangtuaku meninggal dengan hanya mewarisi hutang dan tempat ini." Iris mulai bercerita tanpa diminta. "Nyaris setiap hari komplotan truand datang dan memaksaku meninggalkan tempat ini. Aku sangat ketakutan. Waktu itu aku hanya gadis belasan tahun yang tidak tau apa-apa, tapi aku juga tidak ingin menyerahkan tempat ini. Bagaimana pun ini rumahku."
Iris menarik napas sejenak. "Hingga pada suatu hari, komplotan truand itu datang dengan peringatan terakhirnya. Mereka mengancam dan memukuliku, aku bahkan nyaris diperkosa karena bersikukug, tapi hari itu juga seseorang menyelamatkanku."
Iris tersipu dan Theo masih terkesiap. "Ia datang tiba-tiba, melindungiku dari orang-orang jahat itu dan berkata kalau semua akan baik-baik saja. Kejadian itu berlangsung begitu cepat. Setelah ia memastikan aku aman, ia pun pergi begitu saja. Setelah ia memastikan aku aman, ia pun pergi begitu saja. Setelah itu tidak ada lagi komplotan truand yang datang dan beberapa hari kemudian kutemukan banyak sekali uang di kotak surat. Uang yang aku butuhkan untuk membangun toko bunga ini kembali."
Buket mawar itu telah selesai diberi pita. Iris tersenyum pada Theo seolah-olah ia bisa merasakan di mana pria itu berdiri dan menyodorkan pesanannya.
"Tapi Tuan, aku tidak pernah melupakan suara pria itu." Kata Iris dengan penekanan di setiap katanya.
"Tidak Akan Pernah."
Theo mengambil buket itu dan menggenggamnya erat, segera ia meletakkan uang yang lebih dari cukup untuk membayar bunga itu di atas meja tanpa banyak bicara. Tapi saat ia sudah ingin vervalik pergi, suara Iris menahannya.
"Tuan, bolehkah aku tau namamu?"
Theo diam sejenak. "Theo Keller"
Wajah Iris berseri, ronanya semakin tampak merah muda sama persis seperti bunga dalam genggaman Theo.
"Maukah Tuan berjanji datang kembali?"
Iris mengadung kelingking ke udara, menanti Theo menyambutnya. Namun Theo tidak lagi memiliki kelingking. Ia telah menyerahkan kedua jari kecil itu sebagai harga atas kesetiaan pada Marga Keller, kelompok yang memegang wilayah ini dengan tangan besi.
Bagi Theo, kehilangan itu bukan hal yang perlu disesali. Hidup di jalanan telah lama mengajarinya bahwa tubuh hanyalah alat, dan kesetiaan sering kali dibayar dengan darah.
Ia telah terbiasa menjadi bagian dari dunia yang gelap, tempat membunuh dan dibunuh terasa seperti rutinitas yang tidak terelakkan. Bahkan, diam-diam ia merasa bangga, karena namanya masih cukup berharga untuk dihargai mahal oleh para petinggi marga.
"Iris," Theomenyodorkan kembali buket bunga di tangannya pada Iris, dan wanita itu refleks menyambutnya dalam pelukan. "Bunga ini untukmu."
Theo tersenyum lebar; bahagia karena ternyata dirinya masih hidup dalam ingatan wanita itu.
"Hiduplah terus dalam kebahagiaan."
Kling! Klang!
Pintu kaca Petite Fleur kembali terdengar dibuka-tutup. Bersama dengan kepergian Theo dari toko bunga itu. Ya, hidup harus terus berlanjut.
-♡