Bienvenue

Welcome to my little world

Rabu, 20 Mei 2026

Surat Teguran

 Yogyakarta, 20 Mei 2026
 
Nomor: 31/catatanhariini/20052026
Perihal: Surat Teguran
Lampiran: 1 Teriakan Rindu Dalam Diam
Read More

Senin, 11 Mei 2026

Kami

Yogyakarta, 11 Mei 2026
 
Dia pendengar musik lembut, aku adalah pendengar segala jenis genre tapi cenderung ke musik keras. Tapi pada saat aku bekerja aku mendengarkan musik Paramore, dia ikut mendengarkan. Dan pada saat dia fokus dengan musik jazz lembutnya, aku ikut mendengarkan.
Read More

Jumat, 01 Mei 2026

Secangkir Cerita

Yogyakarta, 1 Mei 2026

Katanya, jatuh cinta itu terasa saat hal-hal sederhana jadi luar biasa. 

Dan aku menghadapinya di hadapan secangkir kopi dan teh vanila yang kamu pesan sore itu. 

Meja ini bukan restoran bintang lima. Tapi duduk berdua denganmu membuatnya terasa lebih dari cukup segalanya. Tidak ada lilin atau bunga tapi ada kamu, dan itu lebih dari istimewa. 

Kita bicara tentang banyak hal yang kalai dipikir-pikir tidak penting-penting amat. Tentang mobilmu yang tiba-tiba suaranya berubah. Tentang kakakmu yang kadang meminta bantuanmu secara random. Tentang kesibukanmu yang kadang aku tidak paham. Dan tentang makanan terlalu asin yang lucunya membuatmu tiba-tiba pilek tapi kamu menyukainya. 

Aku tidak selalu tau harus menanggapinya bagaimana. Kadang cuma mengangguk atau tertawa. Tapi percayalah, meski yang mendengar ini telinga, yang tersenyum justru hatiku, adanya. 

Kata orang, cinta itu tidak selalu butuh pengakuan. Cukup duduk berdua, saling bicara, dan saling menjadi rumah. Dan aku rasa, kalimat itu ada benarnya. 

Karena bersamamu, waktu terasa seperti lagu favorit yang tidak ingin cepat-cepat selesai. Dan suaramu, seperti lirik yang aku tau tidak masuk akal tapi entah kenapa ingin terus kuputar ulang sampai hari berganti. 

Aku senang kamu di sini; di depanku. Dengan gelas kopi hitam yang uapnya mengepul pelan, dan aku yang diam-diam mencintaimu, tanpa perlu penjelasan panjanh. 

Aku selalu pilih teh, kamu selalu pilih makanan berat selain nasi. Dengan cerita yang banyak macamnya. Bahkan kalau kamu mau curhat soal tiba-tiba kamu diminta menemani keponakanmu pun aku akan tetap mendengarkannya. Seperti itu saja aku senang mendengarkannya. 

Karena kamu adalah bahagiaku atau definisi dari bahagia bagiku. Dan menurutmu, apa aku tidak akan menemanimu, kalau menemanimu adalah satu-satunya hal yang sering aku tunggu? Selain siaran bola, tentu. Meski kalau memilih keduana, aku akan tetap memilih menemanimu. 

Duduk bersama tanpa rencana besar atau ambisi dunia itu cukup. Bahagia tidak harus megah. Terkadang, cukup satu orang yang membuat dunia terasa lebih ramah. 




Dan untukmu, kamu adalah orang itu

~
Read More

Sabtu, 14 Februari 2026

Surat Ijin Mencintai (SIM)

Yogyakarta, 14 Februari 2026

Nomor: 30/catatanhariini/14022026
Perihal: Surat Ijin Mencintai (SIM) 
Lampiran: 1 (Satu) Pertemuan yang Dinantikan
Read More

Selasa, 20 Januari 2026

Petite Fleur

Petite Fleur, toko bunga satu-satunya di distrik ini. Sudah nyaris satu dekade ruko dua lantai itu tidak dipugar oleh pemiliknya, entah karena ketiadaan dana atau memang sengaja ingin menonjolkan sisi tua yang unik di antara bangunan beton. Namun, bagi Theo Keller sendiri, ia tidak begitu peduli dengan perkara itu. 

Kling! Klang! 

Tepat jam dua belas siang, pria itu melewati pintu kaca Petite Fleur yang sufah ia hindari selama delapan tahun. Toko ini terasa lenggang lantaran dua pegawai yang biasa melayani pergi makan siang. Hanya ada seorang wanita berambut sepunggung duduk manis di balik meja kasir. Ia tersenyum begitu ramah, tapi matanya kosong seperti tidak tau ke mana senyum itu ditujukan. 

"Bienvenue!! Anda mencari bunga apa?" Wanita itu bertanya tanpa bergerak dari tempatnya. Theo hanya tersenyum, lupa kalau wanita itu tidak dapat melihatnya. 

"Namaku Iris Delacroix, pemilik toko ini." Wanita bernama Iris itu buru-buru menimpali, merasa sedikit tidak sopan karena bertanya tanpa menyebutkan nama. "Apakah Anda sedang mencari bunga untuk pasangan Anda?"

Sol sepatu milik Thei yang berketuk di lantai kayu menjawab pertanyaan itu. Sesungguhnya ia sendiri bingung ingin membeli bunga apa untuk wanita itu. 

"Iris, menurutmu...." Theo menoleh pada wanita itu. "Bunga apa yang paling membuatmu bahagia?"

Iris terdian, ekspresinya terlihat kaget untuk beberapa detik. Namun, wanita itu terkejut bukan karena pertanyaan yang ia terima. Melainkan karena suara bariton itu membangkitkan kenangan manis di ingatannya. 

"Iris?"

"Eh?" Iris tersentak tanpa sadar ia diam terlalu lama, "Euh.... Bunga yang membuatku bahagia?" Wanita itu terdiam lagi, tiba-tiba pikirannya kosong, tapi kemudian ia teringat satu bunga yang sering membuatnya bahagia karena selalu dicari. 

"Mawar. Aku suka mawar." Senyum Iris melebar, dadanya berdebar karena bahagia. "Bunga itu selalu membuatku merasa begitu dicintai."

Mendengar itu Theo melangkah menuju deretan bunga mawar yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Sejenak ia terdiam saat melihat pilihan warna bunga yang begitu banyak, tapi akhirnya Theo memilih mawar merah muda karena sangat mirip dengan rona wajah wanita itu. 

"Kalau begitu, aku beli bunga mawar." Kata Theo sesat setelah berada di depan kasir sembari meletakkan buket mawar itu di atas meja. 

Iris lantas membuka laci dan meraba-raba gulunga pita untuk mempercantik buket bunga itu. "Bunga mawar warna apa yang anda pilih?" Tanya Iris sebelum mengambil satu pita.

"Merah muda."

Setelah mengetahui hal itu, Iris mulai bekerja. Gerakannya cukup cekatan, mungkin karena ia sudah tinggal di tempat ini seumur hidupnya jadi ia sudah terbiasa. 

"Tuan?" Suara manis Iris memecah keheningan sementara tangannya terus bergerak, "Apa Tuan mau mendengat kisahku sambil menunggu?"

Theo terpaku menyadari wajah wanita itu berubah begitu lembut. 

"Dulu orangtuaku meninggal dengan hanya mewarisi hutang dan tempat ini." Iris mulai bercerita tanpa diminta. "Nyaris setiap hari komplotan truand datang dan memaksaku meninggalkan tempat ini. Aku sangat ketakutan. Waktu itu aku hanya gadis belasan tahun yang tidak tau apa-apa, tapi aku juga tidak ingin menyerahkan tempat ini. Bagaimana pun ini rumahku."

Iris menarik napas sejenak. "Hingga pada suatu hari, komplotan truand itu datang dengan peringatan terakhirnya. Mereka mengancam dan memukuliku, aku bahkan nyaris diperkosa karena bersikukug, tapi hari itu juga seseorang menyelamatkanku."

Iris tersipu dan Theo masih terkesiap. "Ia datang tiba-tiba, melindungiku dari orang-orang jahat itu dan berkata kalau semua akan baik-baik saja. Kejadian itu berlangsung begitu cepat. Setelah ia memastikan aku aman, ia pun pergi begitu saja. Setelah ia memastikan aku aman, ia pun pergi begitu saja. Setelah itu tidak ada lagi komplotan truand yang datang dan beberapa hari kemudian kutemukan banyak sekali uang di kotak surat. Uang yang aku butuhkan untuk membangun toko bunga ini kembali."

Buket mawar itu telah selesai diberi pita. Iris tersenyum pada Theo seolah-olah ia bisa merasakan di mana pria itu berdiri dan menyodorkan pesanannya. 

"Tapi Tuan, aku tidak pernah melupakan suara pria itu." Kata Iris dengan penekanan di setiap katanya. 

"Tidak Akan Pernah."

Theo mengambil buket itu dan menggenggamnya erat, segera ia meletakkan uang yang lebih dari cukup untuk membayar bunga itu di atas meja tanpa banyak bicara. Tapi saat ia sudah ingin vervalik pergi, suara Iris menahannya. 

"Tuan, bolehkah aku tau namamu?"

Theo diam sejenak. "Theo Keller"

Wajah Iris berseri, ronanya semakin tampak merah muda sama persis seperti bunga dalam genggaman Theo. 

"Maukah Tuan berjanji datang kembali?"

Iris mengadung kelingking ke udara, menanti Theo menyambutnya. Namun Theo tidak lagi memiliki kelingking. Ia telah menyerahkan kedua jari kecil itu sebagai harga atas kesetiaan pada Marga Keller, kelompok yang memegang wilayah ini dengan tangan besi. 

Bagi Theo, kehilangan itu bukan hal yang perlu disesali. Hidup di jalanan telah lama mengajarinya bahwa tubuh hanyalah alat, dan kesetiaan sering kali dibayar dengan darah. 

Ia telah terbiasa menjadi bagian dari dunia yang gelap, tempat membunuh dan dibunuh terasa seperti rutinitas yang tidak terelakkan. Bahkan, diam-diam ia merasa bangga, karena namanya masih cukup berharga untuk dihargai mahal oleh para petinggi marga. 

"Iris," Theomenyodorkan kembali buket bunga di tangannya pada Iris, dan wanita itu refleks menyambutnya dalam pelukan. "Bunga ini untukmu."

Theo tersenyum lebar; bahagia karena ternyata dirinya masih hidup dalam ingatan wanita itu. 

"Hiduplah terus dalam kebahagiaan."

Kling! Klang! 

Pintu kaca Petite Fleur kembali terdengar dibuka-tutup. Bersama dengan kepergian Theo dari toko bunga itu. Ya, hidup harus terus berlanjut. 

-♡
Read More

Minggu, 28 Desember 2025

Tentang Tuan dan Senja

Yogyakarta, 28 November 2025

Tuan, 
Tolong katakan pada senja, terima kasih untuk waktu yang telah ia berikan padaku. Dua puluh menit yang lalu ia menemaniku di pubcak bukit sembari menyisipkan puisi tentang semak yang mencintai dedaunan. Kepak elang di ujung cakrawala bilang puisi itu sudah basi, tapi aku menyukainya karena semesta kecul itu selalu berhasil membuatku mengingat semua tentangmu dengan berbagai cara. 

Tuan, 
Tolong katakan pada senja, aku akan kembali esok hari. Jika tidak, mungkin lusa. Mungkin juga keeseokan harinya lagi. Aku sudah meninggalkan janji di tumpukan batu itu, ada namamu di sana, ditutupi lumut tapi masih jelas terasa. Seseorang bilang padaku, bangunlah rumah di atas perbukitan itu agar terbebas dari banjir di bawah sana. Maka dari itu, kutinggalkan namamu di sana, sejenak untuk mengingatkan bebatuan bahwa di sanalah rumah hatiku berada. 

Tuan, 
Tolong katakan pada senja, jangan merindukanku karana aku tidak pernah merindukannya. Apa yang datang, pasti akan pergi. Siklus itu sama persis dengan siklus yang biasa kamu sebut kehidupan sementara aku menyebutnya kematian. Iya, cra kita memandang semesta memang berbeda, kamy selalu menjadi Tuan Optimis sementara aku si Gadus Tukang Nyinyir. Tawamu bertahun yang lalu di kedai itu mengingatkanku pada terjangan angin yang biasa kuhadapi di pendakianku, menerjangku dengan perasaan kalah yang tidak berkesudahan. Kamu selalu memenangkan segalabya, termasuk hidupku. 

Tuan, 
Tolong katakan pada senja, aku tidak mengharapkan apapun darinya. Cukuplah aku tau dia ada, setia di bukit itu dan aku sudah puas dengan semua yang ada di hidupkh saat ini. Bila senja tanya mengapa, tersenyumlah padanya, peluk senja dengan tangan-tangan kokohmu itu, dan ucapkan terima kasih padanya. 

Karena hanya ialah satu-satunya penghubung hatiku dan hatimu. 


Read More

Sabtu, 27 Desember 2025

Pagi(ku)

Yogyakarta, 27 Desember 2025

Malam Bintang. Sudah lama sekali ya dari terakhir aku menuliskan surat untukmu. Bukan, bukan karena aku melupakanmu. Tentu saja tidak mungkin aku melupakan cinta pertamaku. Maafkan kami ya Bintang. Untuk membagi waktu istirahat saja sekarang aku bingung, Bintang. Aku kembali ke rutinitas yang kalau duli akan kamu marahi karena merusak tubuh. 

Aduh Bintang. Sopan sekali aku membuka surat ini dengan keluhan. Maaf belum menanyakan kabarmu. Bagaimana kabarmu? Pasti sangat bahagia bersama Langut dan banyak sahabatmu yang sudah menyusulmu. Sampai lama sekali juga kamu tidak mampir di mimpiku. Aku sangat sangat sangat merindukanmu, Bintang. 

Bintang, Bulan akhir-akhir ini sakit. Tapi sekarang sudah membaik. Dan seperti biasa. Aku bukan manusia yang baik dalam berekspresi atau menunjukkan kepedulianku. Aku menjadi galak dengan alasan disiplin agar Bulan lekas sembuh. Sama kan seperti saat bersamamu dulu. Ah, ingat sekali aku memarahimu karena kamu tidak mau makan padahal ya memang mungkin badanmu sesakit itu. Maaf ya Bintang, emang kayak sudah default nya aku. 

Malam ini aku ingin bercerita tentang dua Pagi-ky. Iya, Bintang Pagi-ku yang membawaku pada siang terik dan Pagi-ku yang sekarang. Pagi yang dulu sering aku ceritakan saat aku berkunjung ke tempat baru-mu itu tidak membawaku ke malam yang tenang, Bintang. Bulan beberapa kali menasehatiku tentangnya, tapi namanya juga aku. 

Pagi-ku yang lalu memberiku siang yang sangat terik dan malam badai. Bulan sedih melihatku diberi itu semua. Sampai ada kesalahan Pagi yang tidak bisa aku maafkan. Pagi itu menduakanku, Bintang. Kamu tau sendiri kan seberapa bencinya aku diperlakukan seperti itu. Bulan bilang aku harus bersyukur karena tau ini semua sebelum terlalu jauh. 

Berbeda dengan Pagi-ku yang sekarang, Bintang. Semoga. Memang aku belum mengenal sepenuhnya. Bulan bilang dia menyukai Pagi-ku yang ini. Kata Bulan, dia mengenal pribadi Pagi-ku yang baru ini. Tapi memang sangat berbeda dengan Pagi yang lain. Mungkin Bintang juga mengenalnya. 

Bintang, semiga Pagi-ku kali ini adalah pilihan yang tepat ya. Semoga dia mengajakku melewati malam dengan baik, ya. Tenang Bintang, aku sudah belajar banyak hal tentang melewati malam. Beli. Sebanyak Bulan dan Bintang sih. Tapi sudah cukup untukku melewati malam. 

Ah iya Bintang, aku mau pamer juga. Aku sudah mulai berani menghadapi ulat bulu. Tadi di tempat barumu ada ulat bulu dan aku berhasil membersihkan tanpa berteriak. Aku merasa hebat. Setelah lebih dari 20 tahun ya Bintang, ya. 

Bintang, ini sudah halaman ke tiga aku menuliskan ceritaku padamu. Minta tolonglah Langit untuk membacakan surat ini. Tidurlah yang tenang ya Bintang. Mempirlah di mimpiku malam ini. Agar aku bisa bercerita versi lebih lengkapnya. Aku sangat merindukanmu. 

Read More

Rabu, 05 November 2025

20 Hal tentang Imos


Hehehe. 
Lama aku tidak berselancar di blog. Kemudian ah aku bingung mau pakai kemudian atau tiba-tiba. Baik aku pakai tiba-tiba saja. Tiba-tiba aku melihat tulisan ini di blog salah satu tempatku berselancar. Karena aku memang orangnya suka ikut-ikutan, yaudahlah aku gas aja. 
Read More

Selasa, 07 Oktober 2025

Pertemuan Itu

 Clara Montrosee tidak tau apa stocking oranye dan one piece t-shirt bercorak garis-garis vertikal merupakan perpaduan tepat untuk sebuah pesta vintage. Akan tetapi, itu yang dikatakan sebuah majalah fashion padanya bertahun-tahun yang lalu, maka ia menurut saja δΈ€ bahkan ketika ia harus melangkah ke trotoar licin Bleecker Street dengan lampu Neon berkedip di atas kepalanya.
Read More

Kamis, 07 Agustus 2025

Seandainya Pongah itu Kita Buang ke Laut Saja

 Putih adalah warna kesukaan Niralyn selain merah muda. Namun, ketika ia melihat pria itu mengenakan kemeja berwarna putih, mencukur rambutnya hingga cepak, dan menghilangkan bulu-bulu di wajahnya begitu bersih serta rapi - seperti yang selalu ia bayangkan dalam benaknya, entah mengapa Nira merasa risih.
Read More

Bienvenue

Welcome to my little world

Diberdayakan oleh Blogger.

Temukan Aku di...

Followers

© Bienvenue, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena