Welcome to my little world

Tampilkan postingan dengan label random. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label random. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Februari 2026

Surat Ijin Mencintai (SIM)

Yogyakarta, 14 Februari 2026

Nomor: 30/catatanhariini/14022026
Perihal: Surat Ijin Mencintai (SIM) 
Lampiran: 1 (Satu) Pertemuan yang Dinantikan
Read More

Minggu, 28 Desember 2025

Tentang Tuan dan Senja

Yogyakarta, 28 November 2025

Tuan, 
Tolong katakan pada senja, terima kasih untuk waktu yang telah ia berikan padaku. Dua puluh menit yang lalu ia menemaniku di pubcak bukit sembari menyisipkan puisi tentang semak yang mencintai dedaunan. Kepak elang di ujung cakrawala bilang puisi itu sudah basi, tapi aku menyukainya karena semesta kecul itu selalu berhasil membuatku mengingat semua tentangmu dengan berbagai cara. 

Tuan, 
Tolong katakan pada senja, aku akan kembali esok hari. Jika tidak, mungkin lusa. Mungkin juga keeseokan harinya lagi. Aku sudah meninggalkan janji di tumpukan batu itu, ada namamu di sana, ditutupi lumut tapi masih jelas terasa. Seseorang bilang padaku, bangunlah rumah di atas perbukitan itu agar terbebas dari banjir di bawah sana. Maka dari itu, kutinggalkan namamu di sana, sejenak untuk mengingatkan bebatuan bahwa di sanalah rumah hatiku berada. 

Tuan, 
Tolong katakan pada senja, jangan merindukanku karana aku tidak pernah merindukannya. Apa yang datang, pasti akan pergi. Siklus itu sama persis dengan siklus yang biasa kamu sebut kehidupan sementara aku menyebutnya kematian. Iya, cra kita memandang semesta memang berbeda, kamy selalu menjadi Tuan Optimis sementara aku si Gadus Tukang Nyinyir. Tawamu bertahun yang lalu di kedai itu mengingatkanku pada terjangan angin yang biasa kuhadapi di pendakianku, menerjangku dengan perasaan kalah yang tidak berkesudahan. Kamu selalu memenangkan segalabya, termasuk hidupku. 

Tuan, 
Tolong katakan pada senja, aku tidak mengharapkan apapun darinya. Cukuplah aku tau dia ada, setia di bukit itu dan aku sudah puas dengan semua yang ada di hidupkh saat ini. Bila senja tanya mengapa, tersenyumlah padanya, peluk senja dengan tangan-tangan kokohmu itu, dan ucapkan terima kasih padanya. 

Karena hanya ialah satu-satunya penghubung hatiku dan hatimu. 


Read More

Sabtu, 27 Desember 2025

Pagi(ku)

Yogyakarta, 27 Desember 2025

Malam Bintang. Sudah lama sekali ya dari terakhir aku menuliskan surat untukmu. Bukan, bukan karena aku melupakanmu. Tentu saja tidak mungkin aku melupakan cinta pertamaku. Maafkan kami ya Bintang. Untuk membagi waktu istirahat saja sekarang aku bingung, Bintang. Aku kembali ke rutinitas yang kalau duli akan kamu marahi karena merusak tubuh. 

Aduh Bintang. Sopan sekali aku membuka surat ini dengan keluhan. Maaf belum menanyakan kabarmu. Bagaimana kabarmu? Pasti sangat bahagia bersama Langut dan banyak sahabatmu yang sudah menyusulmu. Sampai lama sekali juga kamu tidak mampir di mimpiku. Aku sangat sangat sangat merindukanmu, Bintang. 

Bintang, Bulan akhir-akhir ini sakit. Tapi sekarang sudah membaik. Dan seperti biasa. Aku bukan manusia yang baik dalam berekspresi atau menunjukkan kepedulianku. Aku menjadi galak dengan alasan disiplin agar Bulan lekas sembuh. Sama kan seperti saat bersamamu dulu. Ah, ingat sekali aku memarahimu karena kamu tidak mau makan padahal ya memang mungkin badanmu sesakit itu. Maaf ya Bintang, emang kayak sudah default nya aku. 

Malam ini aku ingin bercerita tentang dua Pagi-ky. Iya, Bintang Pagi-ku yang membawaku pada siang terik dan Pagi-ku yang sekarang. Pagi yang dulu sering aku ceritakan saat aku berkunjung ke tempat baru-mu itu tidak membawaku ke malam yang tenang, Bintang. Bulan beberapa kali menasehatiku tentangnya, tapi namanya juga aku. 

Pagi-ku yang lalu memberiku siang yang sangat terik dan malam badai. Bulan sedih melihatku diberi itu semua. Sampai ada kesalahan Pagi yang tidak bisa aku maafkan. Pagi itu menduakanku, Bintang. Kamu tau sendiri kan seberapa bencinya aku diperlakukan seperti itu. Bulan bilang aku harus bersyukur karena tau ini semua sebelum terlalu jauh. 

Berbeda dengan Pagi-ku yang sekarang, Bintang. Semoga. Memang aku belum mengenal sepenuhnya. Bulan bilang dia menyukai Pagi-ku yang ini. Kata Bulan, dia mengenal pribadi Pagi-ku yang baru ini. Tapi memang sangat berbeda dengan Pagi yang lain. Mungkin Bintang juga mengenalnya. 

Bintang, semiga Pagi-ku kali ini adalah pilihan yang tepat ya. Semoga dia mengajakku melewati malam dengan baik, ya. Tenang Bintang, aku sudah belajar banyak hal tentang melewati malam. Beli. Sebanyak Bulan dan Bintang sih. Tapi sudah cukup untukku melewati malam. 

Ah iya Bintang, aku mau pamer juga. Aku sudah mulai berani menghadapi ulat bulu. Tadi di tempat barumu ada ulat bulu dan aku berhasil membersihkan tanpa berteriak. Aku merasa hebat. Setelah lebih dari 20 tahun ya Bintang, ya. 

Bintang, ini sudah halaman ke tiga aku menuliskan ceritaku padamu. Minta tolonglah Langit untuk membacakan surat ini. Tidurlah yang tenang ya Bintang. Mempirlah di mimpiku malam ini. Agar aku bisa bercerita versi lebih lengkapnya. Aku sangat merindukanmu. 

Read More

Rabu, 05 November 2025

20 Hal tentang Imos


Hehehe. 
Lama aku tidak berselancar di blog. Kemudian ah aku bingung mau pakai kemudian atau tiba-tiba. Baik aku pakai tiba-tiba saja. Tiba-tiba aku melihat tulisan ini di blog salah satu tempatku berselancar. Karena aku memang orangnya suka ikut-ikutan, yaudahlah aku gas aja. 
Read More

Selasa, 07 Oktober 2025

Pertemuan Itu

 Clara Montrosee tidak tau apa stocking oranye dan one piece t-shirt bercorak garis-garis vertikal merupakan perpaduan tepat untuk sebuah pesta vintage. Akan tetapi, itu yang dikatakan sebuah majalah fashion padanya bertahun-tahun yang lalu, maka ia menurut saja δΈ€ bahkan ketika ia harus melangkah ke trotoar licin Bleecker Street dengan lampu Neon berkedip di atas kepalanya.
Read More

Kamis, 07 Agustus 2025

Seandainya Pongah itu Kita Buang ke Laut Saja

 Putih adalah warna kesukaan Niralyn selain merah muda. Namun, ketika ia melihat pria itu mengenakan kemeja berwarna putih, mencukur rambutnya hingga cepak, dan menghilangkan bulu-bulu di wajahnya begitu bersih serta rapi - seperti yang selalu ia bayangkan dalam benaknya, entah mengapa Nira merasa risih.
Read More

Rabu, 02 Juli 2025

Love Glow Like A Lighted Candle

Luca Vale tau bahwa lembayung senja tidak akan pernah menunggunya di pesisir pantai tempatnya berlibur itu. Jadi, ia hanya punya satu hal untuk dilakukan selain memaki waktu yang berjinjit melewati hari-harinya yang pendek dan padat; membuat lagu. Ini bukan masalah imajinasi yang terlanjur menyesakkan jiwa, bukan juga karena mengisi waktu luang di antara hiruk pikuk kehidupan metropolitan yang tengah ia jalani.
 
Luca hanya sedang jatuh cinta.
 
Sesederhana menyalakan lilin di tengah ruang hati yang gelap. Luca memahami cinta itu dengan cara yang orang lain tidak pernah rasakan sebelumnya.
 
Yah, tentu ini bukan kali pertamanya Luca jatuh cinta. Baginya, itu sudah jutaan kali jatuh cinta, sudah berkali-kali bibirnya tersentuh bibir wanita, memeluk mereka dengan kehangatan nyata serta cinta yang menggebu-gebu. Namun cinta kali ini berbeda. Ada sisi magis yang tidak bisa Luca jelaskan dengan kata-kata bahkan ia nalar dengan pikiran-pikiran jeniusnya yang selalu dipuji semua orang di sekitarnya.
 
Luca lalu bertanya-tanya, apakah ini sungguh cinta? Cinta mana mungkin sesederhana ini. Dia selalu disuguhi film-film romantis serta kisah-kisah cinta yang menunjukkan betapa jatuh cinta adalah sesuatu yang membakar jiwa hingga mampu mendorong seseorang melakukan hal-hal yang mustahil. Cinta di mata Luca adalah gempa bumi, menjungkirbalikkan perasaan, membuat seseorang tidak bisa berpikir jernih, dan mengganggu ritme kehidupan. Hanya saja, itu bukan pertanda yang Luca rasakan, karena sekarang, Luca hanya merasa....
 
Hampa...
 
Tenang dan damai.
 
Ini mengherankan. Luca bahkan sudah lupa kapan terakhir kali ia merasakan hal seperti ini. Ia percaya, satu-satunya hal yang meninggalkan jejak seperti itu hanyalah pelukan Ibunya yang kini telah tiada; hal itu pun sudah sangat lama terjadi.
 
Ah, mungkin ini bukan cinta, bisik sisi lain diri Luca; skeptis akan perasaannya sendiri. Mungkin ini hanyalah rasa kekaguman semata atau apalah itu. Perasaan ini mungkin saja akan menghilang lebih cepat dari separuh periode bulan purnama, setelah itu ia akan kembali menjadi luca yang biasanya -dinamis mengikuti ritme kehidupan. Hanya saja, perasaan ini terlalu nyata jika hanya disebut kekaguman semata; terlalu menyeluruh hingga ke sumsum tulang jika hanya perasaan yang akan menghilang secepat ia datang. Lalu, jika ia bukan cinta, maka perasaan apa ini?
 
Ah, sudahlah. Luca pun berhenti bertanya-tanya, pun berhenti menduga-duga juga skeptis tentang perasaan ganjil ini Ia memutuskan untuk menerima kondisi hatinya sekarang dengan kedua tangan terbuka lebar -menikmatinya dengan sepenuh hati di hari-hari panjang juga melelahkannya. Itu lebih mudah dilakukan ketimbang menyusun serentetan alasan untuk menolak perasaan magis itu.
 
Toh, ia bahagia.
 
Memangnya apa lagi yang harus ia lakukan selain menikmatinya?
 
"Jadi, kamu bisa main piano?"
 
Luca tidak tersentak maupun kaget dengan suara pongah yang tiba-tiba menyela dentingan pianonya. Ia justru tersenyum, menarik salah satu sisi bibirnya ke atas, dan terkekeh di dalam hati karena berhasil memikat perhatian wanita itu.
 
"selingan saja. Daripada keyboard kantor nganggur." Sahut Luca sambil menarik jari ke atas keyboard kepunyaan kantor itu kembali. Lagu yang sama berkumandang dari awal, menyebar ke seluruh lantai, dan menyusup di antara kubik-kubik kosong yang ditinggal makan siang oleh pemiliknya.
 
"Apa kamu tidak takut dimarahi Papa?" Wajah wanita itu muncul di sudut mata Luca; rambut panjangnya jatuh di aras bahu membingkai wajah berbentuk hati itu dengan sempurna.
 
"Sudah jadi inventaris kantor nih. Big Boss jarang pakai juga kan?"
 
"iya juga...' wanita itu menganggukkan kepala, menarik kursi terdekat, dan ikut duduk di sebelah Luca. "Lagu instrumental siapa ini? Max Richter?"
 
"Laguku," jawab Luca datar. Ia masih tenggelam dengan nada-nada yang ia ciptakan sendiri, hingga mengabaikan mata kenari yang melebar di sampingnya.
 
"Ha? Beneran?" itu pertanyaan yang tidak perlu Luca jawab; ia memilih untuk diam dan melanjutkan.
 
"Keren banget," komentar wanita itu lagi masih dengan ekspresi yang sama. "Aku gak bisa main piano," imbuhnya lagi.
 
"Gak minta diajarin aja sama Big Boss?" Kini giliran Luca yang bertanya.
 
"Seumur gini? Gak ah. Lagian juga gak terlalu minat/"
 
"Emmh... Oke deh."
 
ukan bukan karena Luca tidak tau harus berkomentar apa hingga ia hanya bisa memberi gumaman tidak jelas seperti itu. Luca hanya ingin menikmati momen ini sejenak; kehangatan dan perasaan damai ketika wanita itu berada dalam jarak pandangnya serta cinta yang magis ini. Yap, hingga detik ini, ia tidak pernah meminta lebih dari itu, karena momen ini terasa tepat tanpa perlu semesta menjelaskan itu semua.
 
Untuk beberapa saat hanya lagu instrumental dari tarian tangan Luca yang mengisi suara di antara mereka. Wanita itu pun sepertinya memilih diam. Hingga akhirnya deretan denting terakhir berkumandang dan lagu selesai. Tepuk tangan menyambut Luca dan pria itu pun tersenyum lebih lebar.
 
"Ih, sumpah ya keren banget," kata wanita itu lagi, sungguh-sungguh.
 
"Terima kasih," balas Luca, ia menoleh dan kini menatap wanita itu lebih jelas.
 
"Judulnya apa?" Luca suka rasa ingin tahu wanita itu yang tinggi. Mengingatkan Luca akan dirinya saat masih kecil, yang begitu penasaran ada dunia lain selain gedung pencakar langit dan semua mainan-mainan canggih yang dimilikinya dulu.
 
"Love Glows Like A Lighted Candle" jawab Luca hikmat, judul lagu itu muncul begitu saja di kepalanya bersamaan dengan selesainya lagu yang ia ciptakan. Mungkin karena tidak ada yang mendeskripsikan perasaanyya sekarang lebih dari itu.
 
Wanita itu mengerjap, "Kok sama seperti dengan bayanganku?" Luca mengangkat satu alisnya, meminta wanita itu menjelaskan lebih lanjut pernyataannya. "Iya, tadi pas dengerin lagu itu aku ngebayangin bawa lilin nyala, terus rasanya tenang, damai, dan...."
 
"Hangat"
 
Luca terkekeh, "itu juga hyang aku rasain."
 
"Eh..." Mata wanita itu menyipit, senyum tidak lepas dari wajahnya. "Kamu... sedang jatuh cinta ya?"
 
"Iya.." jawab Luca enteng tanpa terpikir dua kali, "Aku sedang jatuh cinta" tegasnya lagi.
 
Wanita itu terkesima, matanya berbinar. Luca memandangnya dengan penuh perhatian, bagaimana ekspresi wajah itu berubah-ubah tanpa ada satu raut pun yang dipaksakan. Kejujuran dan kepolosannya. Luca menyukai itu dengan caranya sendiri.
 
"Wah.. Sama siapa?"
 
"Kamu."
 
Luca masih tersenyum, sementara ekspresi wanita itu kembali berubah menjadi lebih kaku dan penuh rasa keterkejutan. Entah di mana isi kepala Luca  saat ini, jawaban itu terlontar dengan sendirinya seperti nada-nada yang muncul di kepalanya tiap kali memikirkan wanita itu. Ia tidak berniat menutupi perasaannya, jika kesempatan itu datang, pria itu tidak akan ragu-ragu untuk mengambilnya.
 
Beberapa detik berlalu, mereka saling menatap dalam hening yang hanya dapat dipahami oleh diri mereka masing-masing. Seperti rentetan film lama yang di putar berulang kali, momen pertemuan pertama mereka berkelebat tanpa henti.
 
Lift kantor yang macet, trjebak dalam perjalanan ke lantai tujuh belas, detik-detik menegangkan, sinyal yang hilang. Luca berusaha tenang agar wanita yang terjebak bersamanya tidak panik. tapi hal itu sepertinya tidak perlu karena wanita itu lebih tegar dari yang Luca sangka. Nadanya yang tenang saat mengungkapkan ide agar mereka bisa terbebas dari ruangan sempit itu membuktikannya. Luca kagum, ia heran sekaligus terkesima, ia belum pernah bertemu dengan wanita itu di kantor. Mungkinkah pegawai baru?
 
Akhirnya, karena tidak menentukan ide lain selain menunggu seseorang menyelamatkan mereka mengobrol pun menjadi satu-satunya kegiatan yang dapat mereka lakukan. Untuk sesaat Luca berharap lift tersangkut lebih lama dari seharusnya karena berbicara dengan wanita itu ternyata begitu menyenangkan. Namun dia jam kemudian tim mekanis berhasil mengeluarkan mereka dan memutus kisah-kisah luar biasa yang tertukar di ruangan sempit itu. Kemudian, satu-satunya hal yang Luca ingat saat semua itu berakhir adalah perasaan hangat yang tertinggal di dadanya, serta langkah jenjang wanita itu setengah berlari memeluk seseorang yang Luca kenal dengan baik yang sudah menanti wanita itu dengan cemas di luar lift, lalu menangis ketakutan dalam dekapan...
 
Tunangannya.
 
"Claire?"
 
Sepersekian detik kemudian mereka kembali ke dunia nyata. Rentetan kejadian masa lalu itu buyar seperti kabut di pagi hari. Claire menoleh ke belakang, mendapati dua orang pria yang paling ia cintai di dunia ini melangkah menujunya.
 
"kamu ngapain ke kantor?"
 
Wanita bernama Claire itu berdiri; Luca pun berdiri. Luca mundur sejenak, mengambil jarak aman agar tidak ada prasangka yang tercipta.
 
"Eh, mau ketemu Papa saja." jawab Claire spontan.
 
"Lah, aku?" Pria di samping Papa Claire menyela, menggoda Claire dengan ekspresinya.
 
"Hehe, Kak Nathan juga dong," imbuh wanita itu sembari merangkul lengan tunangannya. Nathan Vale.
 
Bahkan tanpa diminta pun Luca Vale tau kalau kehadirannya tidak dibutuhkan. Perlahan Luca menyingkir, tersenyum, dan mengangguk singkat kepada kedua orang tersebut dan kembali ke ruangannya sendiri. Ia bisa merasakan ekor mata wanita itu mengikuti gerakannya, sorot mata menyesal dan permohonan maaf. Namun Luca tidak membutuhkan itu. Luca tidak pernah menyesali setiap detik yang ia habiskan dalam menikmati perasaan hangat dan magis itu.
 
Meski akhirnya nyala lilin itu harus padam dan hatinya kembali gelap untuk waktu yang lama. Luca percaya suatu hari nanti, akan ada cahaya lilin yang datang. Menyinari hatinya dan membuat hidupnya utuh dan penuh.
 
Ya, suatu hari nanti.
 
♡ 
Read More

Kamis, 01 Mei 2025

Saturn Cycle


 
Saturnus membutuhkan waktu dua puluh sembilan tahun untuk kembali ke titik di angkasa di mana planet itu berada pada saat kita dulu dilahirkan. Sampai hal itu terjadi, semua tampak mungkin, impian-impian kita jadi kenyataan, dan dinding-dinding apa pun yang mengelilingi kita masih dapat dirubuhkan. Ketika Saturnus menyelesaikan siklus ini, romantisme apa pun akan berakhir. Pilihan-pilihan bersifat pasti dan nyaris tidak mungkin berubah arah [1]
 
 Dan tepat pada hari ini, aku telah menyelesaikan siklus Saturnus-ku yang pertama.
 
“Jadi, kapan kau mau menikah?”
 
“Mom…”
 
“Este, apa kamu tidak malu tiap kali temu keluarga, Granny menyindirmu dengan panggilan spinster[2]?”
 
Aku memutar kedua bola mataku yang kini terlihat lebih jelas dan bulat setelah melakukan eyelid surgery dua tahun lalu. Momma bilang mataku  terlalu sipit dan zaman sekarang wanita yang punya mata seperti itu tidak populer, jadi ia memaksaku menguras tabungan untuk melakukan operasi plastik tak berguna itu.
 
“Mom, aku tidak peduli apa yang Granny atau keluarga kita katakan tentangku. Aku bisa mengurus hidupku sendiri,” jawabku sembari melipat kedua tangan di depan dada. Kulirik jam dinding di apartemenku was-was karena kehadiran Momma bukanlah yang aku harapkan—pukul tujuh malam dan ia  datang ke sini hanya untuk mengingatkan tentang umurku yang bertambah juga pernikahan. Cih, sungguh menyenangkan.
 
“Apa kauingin aku mengatur kencan buta untukmu?”
 
“Mom!” aku berseru nyaring dengan wajah risih; muak ditawari hal yang sama jutaan kali. Dulu, pernah sekali aku menurut, tapi Momma malah memberiku duda tua menjijikan yang belakangan ini baru kuketahui adala kolega bisnis Dadda.
 
“Kalau begitu, kaucarilah sendiri!” sahut Momma sama frustasinya. “Kau tak ingin dijodohkan, tapi sampai sekarang pun tak satu orang pria yang kaukenalkan. Sebenarnya apa maumu?”
 
Aku terdiam. Membuang muka ke tembok sembari mengenang banyak luka. Tidakkah kau ingat, Mom, aku pernah memperkenalkan seseorang padamu? Dan kau bilang pilihanku itu tak pantas. Keluarga Marlowe punya standar yang tinggi, mana mungkin menerima seorang musisi serabutan ke dalam keluarga. Kau memaki pria yang kucintai itu dengan kata-kata kasar, kau buat hatinya mendera begitu juga aku. Hingga akhirnya kami berpisah dan ia mengutukku karena perlakuan Momma telah membuatnya merasa sangat terhina.
 
Sejak itu, Mom. Mencintai pria lain adalah ketakutan terbesarku.
 
“Celeste Marlowe…” Momma memanggilku dengan lebih lembut, lalu duduk merapat dan menggenggam jemariku. “Kau tahu, aku dan Dadda begitu menyayangimu. Kau putri kami satu-satunya dan kami tak ingin kau menikahi pria sembarangan seperti musisi sinting waktu itu.”

Oh, tak kusangka Momma ternyata masih mengingat pria pertama dan terakhirku itu. Padahal, kejadian itu telah berlangsung lebih dari lima tahun yang lalu.
 
 “Hungaria begitu luas, Este, pasti ada banyak pria baik juga mapan yang mau menjadi suamimu.” Tangan Momma terangkat dan menyantuh wajahku, aku diam saja meski hatiku ingin menepis tangan yang dulu pernah menamparku begitu keras. “Kau cantik, berpendidikan, dan berasal dari keluarga yang baik. Kau bekerja di perusahaan ternama dan berada di posisi hebat untuk wanita seusiamu. Kau wanita kelas A. Mudah saja bagimu untuk menemukan pengganti pria itu.”
 
“Mom, aku sudah melupakannya.” Aku memiringkan kepala, mencoba menghindari sentuhan tangan Momma.
 
“Kalau begitu panjangkan lagi rambutmu.” Kini tangan Momma beralih pada rambut hitamku yang berpotongan pixie, menyisipi riapnya lembut meski kutahu ia ingin sekali menjambak rambutku dan berteriak di depan wajahku ‘anak tak tahu untung’ sama seperti dulu. “Kau tak pernah memanjangkannya sejak putus dari pria itu. Aku rindu rambut panjangmu yang indah.”
 
“Mom, lebih baik Momma pulang dan tinggalkan aku sendiri.” Akhirnya kutepis tangan Momma, mendorong bahunya lalu berdiri dan berjalan menuju jendela yang mengarah langsung ke lautan lampu kota Budapest. “Ada hal penting yang harus kulakukan sekarang,” imbuhku mencari-cari alasan.
Kudengar Momma mendesah, ia menatapku prihatin sebelum akhirnya berkata, “Baiklah, aku akan pulang sekarang.” Wanita yang kelihatannya selalu penuh keanggunan itu berdiri dan menatapku untuk yang terakhir kalinya. “Tapi aku akan kembali lagi dengan membawa beberapa foto dari biro jodoh milik kenalanku.”
 
Mendengar itu aku langsung membuang muka ke luar jendela; mengabaikan Momma serta langkah kakinya yang pergi meninggalkanku sendirian.

Hah...
 
Aku bertolak pinggang, mengalihkan pandanganku dari lautan lampu menuju langit kelam tanpa bintang di atas sana. Hari ini, dua puluh sembilan tahun yang lalu Siklus Saturnus-ku dimulai. Banyak hal yang terjadi di hidupku, Saturnus membawaku pada mimpi-mimpi masa muda yang kini terasa seperti racauan aneh orang sinting, juga pada masalah-masalah besar yang banyak mengubah arah hidupku. Di titik ini, segalanya berakhir dan aku pun mengenang kembali perjalanan panjang hidupku yang rasanya begitu menggelikan seperti film komedi tengah malam. Tapi aku tahu, ketika segala sesuatunya telah berakhir, di waktu yang sama ada banyak hal baru dimulai…

Ting! Tong!
 
Aku tersentak tatkala suara bel membuyarkan lamunanku. Sontak aku berlari menuju pintu dengan senyum merekah tak tertahankan karena sudah tahu pasti siapa yang menantiku di sana—kedatangan yang sebenarnya sudah kutunggu-tunggu sejak tadi meski kehadiran Momma yang tak terduga merusak suasana hatiku.
 
Happy birthday, Cee!”
 
Suara manis itu menyambut cuping telingaku sesaat setelah aku membuka pintu, seperti ada gempuran rasa bahagia yang luar biasa suasana hatiku langsung berubah drastis. Senyumku pun tertarik semakin lebar hingga rasanya bibirku nyaris sobek tatkala mendapati sosok mungil itu berdiri di hadapanku dengan membawa kue ulang tahun berukuran sedang dengan banyak lilin menyala di atasnya.
 
Thank you, Ellie,” balasku sembari meniup seluruh lilin dalam sekali embusan napas panjang.
 
“Ayo, masuk!” ajakku sembari mengambil kue di tangan gadis berambut panjang itu dengan satu tangan sementara tanganku yang lain meraih jemarinya.
 
Dalam hitungan detik, kue itu sudah kuletakan begitu saja di atas meja ruang tamu, lalu langsung menarik tubuh Elara Vienne ke dalam pelukanku—mencari-cari ketenangan yang selalu kudapatkan saat bersamanya.
 
“Ellie…” bisikku lembut, bisa kurasakan gadis itu kaget dengan tindakanku tapi sesaat kemudian ia pun balas memeluk pingganggku erat—selalu mengerti apa yang paling aku butuhkan seperti sekarang ini.
 
“Aku bahagia bersamamu.”
 
Tawa gadis itu berkumandang, ada bahagia yang sama terselip di antaranya. Ia mengangguk dan meletakan kepalanya di bahuku dengan rasa nyaman seolah-olah semua terasa tepat.
 
Tidak.
 
Semua memang terasa tepat.
 
“Aku juga bahagia, Cee,” balasnya sembari mengecup lembut pipiku dan detik itu pula Siklus Saturnus-ku kembali di mulai. Dan kali ini, aku tak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama seperti sebelumnya.
Akan kutentang dunia untuk mempertahankan apa yang telah kumiliki sekarang.
 
 
~
 
[1] Dikutip dari buku Selingkuh karya Paulo Ceolho, hal. 46 alinea keenam
 
[2] Seorang wanita yang belum menikah, terutama wanita yang sudah tidak muda lagi dan tampaknya tidak akan pernah menikah
Read More

Jumat, 07 Maret 2025

Kita. Mereka

Yogyakarta, 12 Mei 2023

Orang yang membicarakan orang lain saat bersamamu, juga membicarakanmu saat kamu tidak ada. Jangan membicarakan orang lain saat bersamanya. 

Orang sering tidak nyaman kalau kamu berbeda, jadi inginnya kamu sama seperti mereka. Mereka lupa, kalau mereka pin tidak bisa sama seperti kamu. 
Berubahlah hanya karena kamu menjadi lebih baik. Bukan karena orang lain yang mengubahmu. 

Orang mungkin akan menasehatimu, membicarakanmu di belakang, mencelamu ketika kamu mempunyai mimpi sendiri yang tidak sesuai mimpi atau kemauan mereka. 
Jika kamu memang menginginkannya, jangan berhenti. Itu mimpimu, bukan mimpi mereka. Hidupmu bukan hidup mereka. 

Orang mungkin bahagia dan sukses ketika kita menjalani sesuatu. Hanya karena mereka sukses di sana, bukan berarti kita jiga akan sukses ketika melakukannya. Rezeki dan kemampuan orang berbeda-beda. 
Lakukan saja yang kamu suka, yang kamu bisa, dari apa yang kamu punya. Yang kamu sukai akan membuatmu tidak mudah berhenti. Yang kamu bisa akan memperbesar peluang keberhasilanmu. Yang kamu punya akan mengurangi ketergantunganmu pada hal lainnya. 

Orang akan membeli apa, terserah mereka, bukan urusanmu, urusan kita. Hanya karena mereka punya, bukan berarti ego kita harus membeli sama atau lebih dari mereka.
Beli yang sesuai kemampuan kita saja, karena memang itulah hidup kita. Kita. Bukan mereka. 

Orang punya kehidupan sendiri. Jangan merepotkan mereka. Jika mau berhutang tapi tidak diberi, itu hak mereka, uang mereka. Kalau butuh bantuan tapi tidak dibantu, jangan emosi, mereka juga punya keperluan sendiri, kerepotan sendiri. Kamu bukan orang paling sengsara di dunia. Orang terdekatmu juga memliki masalahnya. 
Jangan selalu berharap pada orang lain. Bukan saja mereka memiliki urusan, keperluan, keluarga, dan hidup mereka sendiri, tapi juga agar kita bisa mandiri. Hidup kita, tanggung jawab kita. 

Orang punya kelebihan sendiri. Kecantikan kita akan berbeda dengan kecantikan lainnya, meski dengan make-up yang sama dengan selebgram favorit kita. Muka, kulit, kemampuan finansial, semua sudah berubah. Tidak perlu seperti mereka. Kamu sudah cantik dengan dirimu sendiri. Setiap kulit dan bentuk mika pun keperluannya tidak sama. Kamu tidak akan bisa menjadi sama seperti siapa saja. Kamu adalah kamu. Tidak ada yang bisa berperan lebih baik menjadi seseorang selain dirinya sendiri. Istimewa dengan semua kelebihan dan kekurangannya. Setiap prang tidak ada yang sama. 

Orang punya kesukaan, sifat, dan karakternya sendiri. Yang suka bercanda tidak akan nyaman menjadi pendiam, yang pendiam tidak bisa dipaksakan menjadi apa yang kita mau. Kita pun tidak akan mau menjadi seseorang yang kita tidak nyaman menjalaninya. Selama mereka mencoba terbaik untuk bersosialisasi dengan caranya sendiri, tidak merugikan, biarkan saja. Dunia milik bersama. Bukan hanya milik satu karakter saja. 

Pada akhirnya, kita adalah kita. Mereka adalah mereka. Tetap bersama, tanpa memaksa mengubah salah satunya, atau terpaksa menjadi salah satunya. Tetaplah menjadi kita, tanpa merugikan mereka. Dan juga sebaliknya. 


~
Read More

Kamis, 06 Maret 2025

Paralyzed

Mataku mengerjap dua kali, sulit dipercaya. Pipiku bertemu dengan kain tipis yang membalut tubuhnya. Kepalaku melekat di dadanya hingga leher, sedang puncak kepalaku menjadi tumpu untuk dagunya. Lengannya merengkuh tubuhku, pun dengan tanganku yang menyusur punggungnya. Aku menengadah, dia masih bercinta dengan mimpinya. Mungkin tentang masa depan bersamaku.
Read More

Selasa, 11 Februari 2025

Kue Pasir

Pernahkah kamu memakan kue pasir?

 

Read More

Sabtu, 01 Februari 2025

Pesta Lepas Lajang

Mia memainkan gelas champagne-nya di sebelahku, sementata aku berulang kali mengecup ujung kepalanya. Ia tampak cantik malam ini, di pesta lepas lajang kami. Meski namanya lepas lajang, tetap saja calon istriku ini memintaku pergi bersamanya. 

Ruangan VIPklub ternama ini hanya diisi lima orang sahabat -enam denganku- yaitu Mia, dua wanita, Vera dan Manda, serta dua pria, Dimas dan Rio. Mia sesekali tertawa, terutama jika teman-temannya melontarkan lelucon yang sebenarnya aku tidak mengerti. Ia tertawa, namun lebih banyak terdiam. Terdiam dengan mata yang menerawang. 

Aku tidak tau apa yang dipikirkannya, atau pura-pura tidak tau. Atau tidak mau tau. Artinya, sebenarnya aku tau. Aku tau kemana arah mata coklat tuanya itu terarah. 

"let's break up" bisikku. Masih mengusap rambutnya. 

Ia seketika menghentikan gerak gelasnya. Menatapku tidak percaya. 

"I know I'm not the only one, Mia. I am not someone you love." Lanjutku lantas mengarahkan daguku ke arah Dimas, yang masih asik menceritakan leluconnya. "You love him, right?"

"Vin-"

Aku mengecup dahunya, untuk terakhir kali. "Let's break up, okay?" Putusku dan tersenyum pahit. Lantas beranjak pergi dari ruangan itu. 
Read More

Jumat, 18 Agustus 2023

Sweet Heart

1. Sweet

swΔ“t/

adjective

adjective: sweet; comparative

adjective: sweeter; superlative

adjective: sweetest;

•1

having the pleasant taste characteristic of sugar or honey; not salty,sour, or bitter.

“a cup of hot sweet tea”

synonyms:

sugary, sweetened, saccharine; More

 

•2

(of a person or action) pleasant and kind or thoughtful.

“a very sweet nurse came a long”

synonyms:

likeable, pleasant, agreeable, friendly, nice, kind, thoughtful, considerate

 

 

-oOo-

Read More

Jumat, 10 Februari 2023

Little Angel

Yogyakarta, 9 Februari 2023

Hai, lama tidak bersua ya. Aku menangis sangat deras pagi ini. Sudah sangat lama aku tidak menangis seperti itu. Kemudian aku bingung antara merasa lega karena semua kesedihan sudah tercurah atau merasa bertambah sedih. Sungguh pagi ini rasanya sangat menyakitkan, ingun sekali kulewati saja pagi ini. Apa bisa aku menghilang dulu hari ini dan kembali lagi esok pagi tanpa ada kesedihan ini.

Aku merasa lega bisa menangis sebanjir itu. Karena berarti aku akhirnya mengetahui bagaimana keadaanmu sebenarnya. Bukan keadaan yang hanya 'katanya'. Aku lega akhirnya bisa bertemu denganmu walaupun ini juga tanda perpisahan kita. Aku lega aku bisa memeluk orang-orang terdekatmu. Aku lega kita semua bisa berbagi kekuatan, saling merangkul bersama, saling menguatkan, saling membanjiri, dan semua sangat terlihat kekompakannya. Haru sekali melihatnya. Ternyata semua sangat menyayangimu.

Aku sedih. Aku sangat sedih. Aku benar-benar merasakan kesedihan itu. Untuk pertama kalinya aku mengalami hal seperti ini. Aku sudah beberapa kali mengalami kehilangan tapi ini masih baru untukku. Ini berbeda. Aku selalu berpikir "Ah, kamu akan sembuh setelah ini." atau "mungkin minggu depan kita bisa bermain bersama lagi." Ah ternyata aku salah. Aku memang bertemu lagi denganmu setelah sekian lama. Iya 'bertemu' dengan ragamh yang sudah terbujur dingin. Iya, bertemu denganmu untuk terakhir kalinya. Bertemu denganmu untuk mengucapkan selamat tinggal untuk selamanya. Sampai bertrmu lagi di dimensi selanjutnya.

Hai Little Angel, sekarang sudah nyaman semua. Kamu sudah tidan harus disuntik di tangan seperti yang selalu kamu ceritakan hampir setiap kita bertemu. Tidur nyenyak ya Our Little Angel. Bahagia di dunia barumu ya sayangku. Jangan khawatirkan kami di sini. Biarlah kami menangisimu sekarang. Kami janji, kami akan tersenyum lagi besok. Senyum yang tanpa melupakan semua tentangmu. Satu hal yang harus kamu ingat; kami akan selalu menyayangimu dan merindukanmj.

Are you way up in the sky?
Laughing, smiling, looking down
Saying "one day we'll meet in the clouds"
- (Clouds, Befoee You Exist)
Read More

Rabu, 02 November 2022

Happiness☺

 Aku berbagi bahagia. Aku menyukai diriku.
Read More

Rabu, 05 Oktober 2022

Pak Ray

 Pak Ray termangu. Memandang sepeda motornya yang kini hanya tersisa mesin tanpa ban dengan bola mata terus bergerak tidak fokus. Beberapa detik pikirannya kosong, keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Ini sudah pukul sembilan malam, kepala sekolah menugasinya lembur menyusun dokumen sore tadi. Pria yang baru menginjak usia tiga puluhan itu menurut saja meskipun tau bahwa tugas itu tidak biasanya dan sekarang....dia tidak bisa pulang.

Ada apa ini?

Kresek.

Pak Ray menoleh ke kanan cepat, semak-semak berisik diterpa angin. Udara malam yang dingin menusuk tulang pria itu bagai sengatan lebah. Tapi sayangnya satu-satunya yang dirasakan Pak Ray hanyalah debaran jantungnya yang memburu.

Beberapa detik berlalu dalam hening, Pak Ray mulai mengumpulkan akal sehatnya dan memutuskan untuk pergi ke warung kopi di depan gang sekolah lalu menunggu sampai pagi. Tapi belum sampai dia beranjak, sebuah tangan menerkam mulut dan hidung pria itu dengan selembar kain beraroma lemon lalu sesaat setelahnya... hanya gelap yang menyambut.

BYUR!

"BANGUN!!"

Suara melengking perempuan serta guyuran air panas memabngunkan Pak Ray. Tubuhnya kini hanya berbalut pakaian dalam terikat di sebuah kursi. Rasa panas membakar tubuhnya, di bawah lampu remang-remang kulitnya memerah seperti kepiting. Tapi belum sempat pria itu memroses apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, sebuah pukulan benda tumpul menghantam bagian kanan kepala dan membuat telinganya berdengung.

Pak Ray mengerjap, bingung, dan kesakitan. Suara tawa sahut menyahut di sekitarnya, begitu halus dan mengerikan, tawa perempuan.

"Sakit Pak?" Seseorang mendekati Ray, jarinya yang halus dengann kuku bercat merah mengenggam palu. "kalau begini, bagaimana?"

DUAK!!

Palu menghantam bahu Pak Ray, pria itu sentak mengerang kesakitan. Ia bahkan terlalu ketakutan untuk berkata-kata.

"Bapak tau tidak apa yang telah Bapak perbuat pada kamu semua?" Suara manis yang lain berbisik di belakang kepala Pak Ray, seiring dengan benda dingin yang menyentuh punggungnya. Bulu rona Pak Ray menegang, ia berharap tebakannya salah tentang benda apa itu.

Syaaaat!!

Suara daging disobek menggema di ruangan itu. Banyak tawa tumpang tindih ketika Pak Ray hanya mampu mengerang dengan suara tertahan di kerongkongan. Namun belum selesai otaknya mencerna rasa sakit itu, pukulan kembali meluncur tepat ke kepalanya. Palu pun tidak lagi segan menghantam tubuhnyabertubi-tubi hingga remuk. Sementara ia pun tidak lagi mampu menduga sudah berapa banyak kulit punggungnya terkoyak. Suara tawa yang melengking serta kebahagiaan yang terselip di antaranya mengiringi rasa sakit yang tidak lagi mengerang; bahkan mencicit kesakitan pun ia tidak mampu.

Hingga tiba-tiba saja, semua itu berhenti, meninggalkan tubuh yang bersimbah darah itu dalam keheningan yang mencekam. Sampai akhirnya, aroma bensin menguar di udara.

Pak Ray tau apa yang akan terjadi setelah ini.

Namun disela rasa perih yang ia rasakan ketika cairan bensin disemburkan padanya serta tawa yang makin menjadi, Pak Ray tertegun; ia menduga-duga siapa perempuan-perempuan ini? Siapa yang tega berbuat ini?

Lalu, ketika api disulut dan dilemparkan kearahnya; ditengah-tengah kebakaran api yang membakar tubuhnya dan menerangi seluruh ruangan. Pak Ray akhirnya mengenali murid-muridnya sendiri dan terperanjat hinggu kematian menjemputnya.

Sebenarnya, apa yang telah ia perbuat?
Read More

Kamis, 01 September 2022

Kamu dan Hidupku

Asher berlari kesetanan di sepanjang koridor rumah sakit. Keringat membasahi tubuhnya dengan kalut yang menghambur. Jantungnya menghentak jauh lebih cepat dibanding jejak kakinya. Lelaki itu terhenti di satu pintu. Terengah, tangannya menggeser pegangannya asar dan memasuki ruangan itu.
Read More

Jumat, 26 Agustus 2022

Almost Lover

 ...
You'll know I'll always love you
You'll know I'll always care
And no matter how far I may go,
In my thoughts,
You'll always be there
(Beyonce- Hard ti Say Goodbye)
Read More

Selasa, 26 April 2022

BUKU HARIAN KUNING


Heyu, wasap bruuhh. akhirnya setelah ribuan purnama dan banyak gerhana dibuatin juga buku harian ini. Padahal janjinya udah dari jaman Kak Mika, Kak Miko hidup sampai sekarang tinggal kenangan aja. Emang janji tu gak enak ya. Manis diucapan aja nyatanya sepait vaksin, lebih pahit mungkin. Untung aku sabar, coba kalau tidak. Udah aku tinggalkan dari dulu.
Read More

Jumat, 04 Februari 2022

Paper Stars

Louve mengerjapkan matanya dua kali. Jarinya meraup rambut ikal yang menjuntai ke belakang. Mengerlingkan pada detik yang melangkah seenaknya. Jam sepuluh malam. Ia menghela napas pelan. Sejak kapan ia tertidur di sana?
 
Ia menatap lembaran kertas warna-warni di meja kerjanya. Beberapa sudah digunting melintang, sementara yang lainnya masih dalam bentuk persegi bertumpuk satu sama lain. Toples kaca di samping seakan berdiri apik dengan butiran kertas yang dibentuk binrang. Tangannya meraih guntinng dan memotong kertas menjadi dua strip tipis. Ia mengambil nafas dalam dan memejamkan mata. Membenamkan diri dalam fragmen tiga tahun yang lalu.
 
Jari-jarinya tidak perlu penglihatan untuk melipat potongan itu.
 
~o~
 
Malam belum nampak ujungnya, namun kenop pintu apartemen sudah ditarik dari luar. Louve menapaki teras apartemen, meninggalkan sepatu dengan heelsnya. Ia menarik napas lega, lalu mengernyitkan dahi. Aroma yang masuk dalam penciumannya sangat tidak biasa. Apalagi jika itu berasal dari apartemennya.
 
Sejak kapan rumahnya jadi berbau manis seperti ini? Seingatnya, ia belum mengisi ulag parfum ruangan. Atau dari tubuhnya? Tapi masa iya? Ia mendekatkan hidung ke ketiaknya — mungkin berharap tubuhnya mengeluarkan wewangian cake agar ia dapat mengekstrak bulu ketiaknya dan dijual— daaan... euhhh jelas bukan dari tubuhnya!

"Ed....?" panggilnya keras-keras. Perlahan kakinya menjajaki ruangan. Louve diam-diam merutuki dalam hati. Mana mungkin Edward ada di dalam. Pria itu masih berada di Praha untuk mengurus ekspansi bisnisnya atau apalah itu. Otak Louve tidak pernah sampai jika lelaki itu mulai bercerita bisnis. Jadi tidak mungkin kan Edward menjadi amuba, membelah diri, lantas menggelinding menuju apartemennya? Pffft.

Baunya semakin kuat tercium dan Louve semakin sibuk mengira-ngira siapa yang memasak. Ed? Mom? Alice? Pencuri? Louve meragukan pilihan terakhir. Memangnya ada pencuri yang masuk dalam apartemen, dan repot-repot memasak? Karena lapar? Atau sebagai permintaan maaf sudah mencuri LED TV?

"Mom?"..
"Ed?"..
"Halooo...? Ed? Mom?"

Louve sampai di ruang makan, dan tercengang. Meja makannya penuh dengan peralatan makan yang tertata rapi. Beberapa makanan sudah tersaji, termasuk pasta panggang kesukaannya. "Ed...?"

Pria yang dipanggilnya sejak tadi itu, membawa cake cokelat dengan topping figur dirinya dalam bentuk clay di dua tangannya. Ia berdiri di depan meja makan, bersebrangan dengan Louve di ujung ruangan. Matanya mengerjap dua kali, "Loh. Louve? Kok sudah pulang?"

Dahi Louve mengernyit. Bukankah pertanyaan itu seharusnya ia tanyakan pada Edward? "Ada meeting di luar, jadi aku langsung pulang dan kamu, kenapa kamu di sini? Praha-nya gimana? Terus ini ada apa?"

Edward, masih membawa cake di tangannya, meringis. Jika tangan kanannya sedang bebas, ia pasti akan menggaruk tengkuknya canggung, —seperti anak kecil yang ketahuan mencuri permen—. Ia kemudian tersenyum. Sejenis senyuman yang dibenci Louve senyuman dengan satu sudut bibir ditarik ke atas  dengan aksen sediki angkuh, "Hmm... sebenarya aku ingin membuat kejutan untukmu. Tapi kamu sudah pulang sebelum persiapannya selesai, Louve."

Huh? Lalu itu salahku Ed?
 
Edward meletakkan kuenya di ujung meja, merogoh ceruk celemek —oh iya, baru kali ini Louve melihat Edward menggunakan celemek!—dan memasang dua pasang lilin berangka, "Happy birthday, Louve!"
 
"Astaga.... Aku lupa!"
 
"Yap, aku tau Louve. Aku tau...." cengiran angkuhnya melebar. Louve rasanya bingung, antara seang karena kejutan Edward, atau sebal dengan garis lengkung asimetris bibinya. "Come on, Louve..... Tiup lilinnya dan kita bisa makan. Aku lapar."
 
Louve membelalakkan mata dan mendengus
Edward!
 
"Ah iya! Ini hadiah untukmu." ujar Edward setelah Louve meniup lilin.
 
Louve benar-benar tidak mengerti Edward hari ini. Edward habis terbentur Charlis Bridge? Atau di Praha, ia sudah di cuci otak? Sejak kapaaaan seorang Edward punya waktu membuat cake? dengan hiasan-hiasan seperti itu pula! Eh, memangnya ini, Edward sendiri yang buat? Dan sejak kapan, Edward memberi kado? Ah, It's Edward. Manusia paling sibuk dan business-oriented! Biasanya juga Louve yang menyiapka pesta kecil seperti ini.
 
"Apa ini Ed?" tanya Louve, sembari memainkan kadi Edward. Okay, sepertinya Edward tidak sepenuhnya dicuci otak. Ini khas Edward. Ia bahkan tidak repot-repot membungkus kadonya. Toples kecil dengan tutup dari busa — seperti tutup wine—  berisi kertas origami berbentuk bintang kecil-kecil, dan warna-warni. Di lehernya diikatkan tali warna hitam dengan kartu kecil yang digantungkan. Louve tidak tau maksud pita hitam di sini. Apa Edward sedang berkabung untuk hari ulang tahunnya? 
 
Happy birthday Louve!
All my wishes for you and us in here
-Edward-
 
"Hmmm... itu bintang kertas. Jadi aku membuatnya khusus untukmu. Kalau kamu membukanya, di sana aku sudah menulis harapan-harapanku ke kamu. It's so many wishes" jelas Edward. Sementara Louve masih terkejut dengan fakta Edward membuat barang kecil-kecil itu sendiri. "Kamu tau kan, cerita kalau kita menulis harapan di kertas dan melipatnya menjadi bintang, maka harapan itu akan terkabul? Kamu tau kan? Kamu tidak tau, ya? Emhh... aku mendengarnya dari Shang. Ingat kan, teman kuliahku yang dari Beijing? Jadi, aku pikir, di sela kesibukanku, aku ingin membuatnya juga— "

"Well, okay.... Stop, Ed." Louve tergelak kecil mendengar Edward mengoceh. Ini pun juga khas dari seorang Edward, ketika ia merasa malu untuk menjelaskan. Edward bukan tukang bicara, tapi ia akan berbicara banyak kalau mulai merasa canggung.... dan malu, "Jadi, kamu sendiri yang menulis dan memasukkan keinginan-keinginanmu di sini?"
 
Edward mengangguk. Menggaruk tengkuknya canggung. Pipi dan telinganya memerah.

Louve membuka toplesnya dan mengambil satu bintang. Ia membuka lipatannya "I wish I'll be able to spend so many more birthdays with you," baca Louve keras, dan rasanya Edward ingin menghilang dari muka bumi, atau bersatu dengan udara, atau mencair ke dalam tanah, atau apapun saking malunya. Sungguh, Louve ingin tertawa terbahak atau menunjuk-nunjuk pipi merah pada Edward, atau apalah untuk sekedar menikmati momentum itu.

Namun tidak. Louve hanya berdeham —separuh ingin menahan gelaknya— dan berkata "Bagaimana cara membuatnya? Ajarkan aku....."

Raut Edward berubah cerah. Setidaknya bahasannya beralih. Sedikit. "Okay, Louve!"

Tangan Louve bergetar saat ia menulis secarik kertas tipis. I wish I could forget you. Melipatnya hingga menjadi simpul datar, membentuk pentagon hingga lipatan terujung, lantas menekan tiap sisinya. Bintang kertas kecil terbentuk sempurna.

Ia menggenggam bintang sempurna itu lemah, seakan takut jemari merusaknya. "I wish I could forget you," bisiknya, meyakinkan doanya dengan nada bergetar dan bintang itu terjatuh, berkumpul dengan harapan-harapan lain toples.

Louve membuat bintang yang lain, dengan harapan yang sama. Menjatuhkannya di antara bintang lain. Bahkan hingga bintangnya yang kesekian, ia masih tidak mampu menatap bintang kertas dalam toples itu. Karena harapan yang terlimpah di sana adalah ketika cinta masih membumbung tinggi. Ia terlalu takut. Terlalu menyakitkan.

Harapan di antara bintang-bintangnya selalu serupa, untuk melupakan. Yang ia tidak sadar adalah, cina selalu punya caranya sediri untuk membuatnya ingat. Seperti bagaimana burung yang tidak pernah lupa dengan rumahnya.

Louve menutup mata sekali lagi, membiarkan kenangan keluar dari pandora dalam otaknya.

~o~

"Kamu lupa, Ed?!" nada Louve meninggi. "Ini ulang tahun pernikahan kita, Ed!"

Louve tidak mengerti harus berkata apalagi pada suaminya. Ia sudah mencoba untuk mengerti business-oriented dalam otak Edward. Lupa dengan janji-janjinya, ia selalu memaafkan. Lupa dengan hari ulang tahunnya, ia maklumi. Lupa dengan hari pernikahan mereka? Ia tidak habis akal.

Itu adalah hari yang paling ia nanti, dan itu bukanlah apa yang menurut Edward penting untuk ditulis dalam agendanya.

Louve sudah menyiapkan segalanya dari pagi. Bahkan belajar memasak Sup Kanada dengan Mama Edward sejak jauh hari. Hari itu ia mengambil cuti kerja, untuk mengerjakan semuanya. Dan Edward... tidak pulang dan baru sampai rumah nyaris subuh. Ia sudah menghubungi, namun tidak ada yang dijawab.

Entahlah. Louve tidak bisa berkomentar.

"Maaf, Louve. Tugas kantor sedang banyak sekali... dan aku tertidur di kantor. Sorry, Louve..." ucap Edward, separuh memohon.

Louve tidak tau. Mungkin tidak mau tau. Entahlah.

Ia menghempaskan tubuhnya di pinggir ranjang. Dua tangan berpangku pada lutut, menelungkup wajahnya. Terdiam sejenak, lantas menatap Edward, menyerah "You know, Ed? I'm tired?"

"Louve?"

"Memangnya apa yang aku inginkan, terlalu muluk?" tanya Louve. "Aku hanya minta satu, untuk kamu mengingat hari ini, Ed. Apa terlalu berlebihan?"

Edward tidak menjawab. Dan Louve tidak mau repot melongok, bagaimana Edward menatapnya, "You can go, Ed. Pergi dan urus semua urusan bisnismu. Aku tidak peduli."

"Louve, please... I'll make up."

"Aku capek, Ed..." ujar Louve memotong ucapan Edward. Kali ini, mata mereka bertemu. Segalanya, termasuk wajah, suara, ekspresi, tingkah Edward membuatnya naik pitam. Sejujurnya cinta selalu memberi maaf. Tapi kadang, emosi menggelapkan jalannya. "Kamu tau pintu keluar, Ed. I'm not.... happy with you."

Tentu saja itu tidak benar, dan ia tau, perkataan itu menyakitkan bagi Edward. Tapi untuk beberapa saat, ia ingin melakukannya.

Edward mematung. Beberapa saat kemudian, Edward membuka lemari pakaian. Mengeluarkan koper dan memasukkan pakaian sembarangan. Louve masih tidak bereaksi. Edward menghela napas dan berbalik meninggalkan kamar. "Aku pergi, Louve."

Louve mendengar suara langkah kaki Edward, gesekan roda koper dan pintu apartemen mereka yang ditutup keras.
o
o
~o~
o
o

 
Terluka tidak selalu berdarah.

Karena Louve tau, ada pisau yang menancap di dadanya. "Maaf, Ed..." Tubuh Louve terjatuh. Memeluk dua tugkainya, ia menanamkan wajah diantaranya. Air mata yang sejak tadi dibendungnya tinggi-tinggi, terjatuh. "Maaf, Ed. Jangan pergi... Maaf..."

Ia tidak tau, mengapa segalanya berubah menjadi seburuk ini.

~o~

Louve menulis dilembaran kertas tipis yang belum dilipat. I wish I could just forget you. Jemarinya lantas menyimpul dan melipatnya. Air matanya dengan lembut meluncur di pipinya.

Ia menatap bentukan bintang di tangannya. Alih-alih menjatuhkannya ke dalam toples, ia malah meremas bintang itu hingga remuk. Lantas menggeludungkan di atas meja. Louve menatap kertas kusut itu dan toples di sampingnya. Ia tidak mengerti, mengapa tangannya tidak mendengarkan otaknya?

Pada lembaran kertas panjang, tangannya tertuju. Louve mencoba menulis kalimat yang sama, untuk berakhir menjadi gumpalan yang sama. Begitu juga dengan beberapa kertas selanjutnya. Untuk beberapa saat, ia termangu. Lalu mengambil kertas lainnya dan meraih pena. Ia memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam.

I wish...

Gerakan tangannya terhenti sejenak. Memberi waktu pada dirinya sendiri, untuk memungut kekuatan. Untuk jujur pada hati. Untuk menepis ego. Separuh bergetar, Ia kembali menulis.

you'd come back

Menatap bintang kertas yang baru saja dilipatnya, Louve menyadari, betapa bodohnya apa yang ia inginkan. Ia menggigit bibir bawahnya, keras-keras. Mengepalkan tangan hingga bintangnya mengernyut, hendak melemparnya ke tong sampah.

Bel apartemennya berbunyi. Jam dua belas malam.

Louve terperanjat. Terengah. Tangannya mengudara, terhenti. Bintang kertasnya jatuh, tepat di antara ratusan bintang dalam toples. Ia langsung melihat dalam toples. Bumi seakan berhenti berputar, ia kehabisan udara untuk bernafas. Yang ia lihat hanyalah satu bintang kertas renyuk berwarna putih di antara puluhan warna lain.

Ketukan di pintu apartemen terdengar.

Louve menyeret kakinya di depan pintu. Detak jantungnya berpacu sementara tangannya menggenggam kenop. Seolah ia tau apa yang tersembunyi di balik ketukan.

Ketukannya terdengar lagi. Satu tarikan nafas panjang dari seorang Louve, dan ia membuka pintu perlahan. Matanya tertumbuk pada pria yang berdiri di depannya.

Ia berada di sana. Rambutnya berantakan. Matanya menyiratkan penyesalan. Keduanya terdiam, pada senyap yang tidak berani mereka pecahkan.

Meraih kedua tangan Louve, Edward memberikan bintang-bintang kertas di telapak tangan Louve. Pandangan Louve mengekor pada apa yang ia genggam. Ia membuka lipatan bintangnya, masih dalam kebisuan. Dengan Edward yang masih berdiri di depannya.

I wish you could forgive me

I wish I could fix my faults

I wish I could hold you again and never let you go

Louve menggigit bibir bawahnya, menahan ceguk di tenggorokanya. Sementara Edward meneguk ludahnya dan berkata lirih "Happy birthday, Louve"

Dua sudut bibir Louve mengembang. Alih-alih membalas ucapan Edward, ia menarik pintu lebar-lebar.

"Welcome home Edward!!"

~o~
Read More

Welcome to my little world

Diberdayakan oleh Blogger.

Temukan Aku di...

Followers

© Bienvenue, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena