Welcome to my little world

Senin, 11 Mei 2026

Kami

Yogyakarta, 11 Mei 2026
 
Dia pendengar musik lembut, aku adalah pendengar segala jenis genre tapi cenderung ke musik keras. Tapi pada saat aku bekerja aku mendengarkan musik Paramore, dia ikut mendengarkan. Dan pada saat dia fokus dengan musik jazz lembutnya, aku ikut mendengarkan.
 
 
Dia suka makanan pedas, aku tidak. Akhirnya aku sering berusaha memasak dan memakan makanan yang ada hint pedasnya. Pelan-pelan, aku bisa makan yang cukup pedas, dan dia mengimbangi mulai bisa mengurangi makanan yang dulu lihat sambal atau cabenya saja sudah membuatku kepedasan tanpa harus merasakannya.
 
Dia tidak pernah mengaturku untuk bagaimana caraku berpakaian, karena dia juga lebih suka berpakaian dengan ala kadarnya. Untuk dihormati, kita harus terlebih dahulu menghargai diri sendiri. Lalu karena menghargainya, dan karena memang ada benarnya, aku mengurangi berpakaian terbuka. Dia menganggapku berharga, jadi apapun yang berharga seharusnya tidak diumbar kemana-mana. Dan dia juga mulai merapikan diri ketika pergi kemana-mana. Tidak harus berkemeja, kaos pun tidak apa-apa selama dia tetap rapi. Kami tidak berusaha menjadi orang lain, tetapi kami mau berubah menjadi pasangan masing-masing. Kami menjadi diri kami yang lebih baik dari sebelumnya.
 
Dia suka mendengarkan podcast. Hampir semua macam podcast dia dengarkan. Mulai dari podcast yang hahahihi saja, podcast tentang konspirasi, tentang perjalanan hidup orang. Semua dia dengarkan. Kemudian dia suka bercerita. Dia akan bercerita kalau menemukan hal yang menarik di podcast itu. Atau saat kita jalan lalu ada hal yang mengingatkannya akan suatu obrolan di podcast dia akan bilang "Kamu tau? Aku pernah dengar bahwa rumah yang ada di ujung gang ini pernah menjadi tempat berkumpulnya suatu sekte" kemudian aku akan tertawa menanggapinya karena mukanya pasti lucu saat bercerita. 
 
Kalau aku, aku suka menonton. Apa saja. Bahkan sekarang aku mulai baik-baik saja saat menonton film horor. Untungnya dia juga suka menonton. Jadi kami sering nonton berdua. Kami pernah menonton Stitch, Avatar, dan banyak film lokal yang sebenarnya hanya memanfaatkan tiket promo dan kami bosan makanya kami menonton. Selama ini kami tidak pernah menonton film cinta-cintaan karena aku takut ketahuan gampang mengantuk saat filmnya tidak mengagetkan.
 
Untungnya lagi dia tidak pernah memaksaku menonton film romance sebagaumana aku tidak pernah memaksanya menonton film 'sadisvie' (bahasanya untuk film penuh darah; dari kata sadis dan movie). Jadi, dia, dengan segala kelakiannya, katanya tidak setega itu menonton film Saw atau film apa pun yang ada adegan penyiksaan yang vulgar. Aku selalu menertawakannya. Kami akan menonton film-film itu sendiri kalau kami ingin menontonnya. Seperti saat aku ingin menonton film Final Destination. Saling mengerti tidak harus berusaha menyenangi semua yang disenangi orang yang dicintai. Kami masih bisa saling mencintai tanpa aku harus menjadi suka romance seperti dia, atau dia menjadi suka film sadis seperti aku.
 
Aku penggemar game. Ketika aku bermain game katanya sudah seperti komandan perang yang sedang mempertahankan wilayahnya. Kalau kalah aku akan merengek dan dia akan menertawaiku, tapi maaf yaa aku lebih sering menang. Meski tidak jarang kadang aku menyerah duluan. Tapi aku tidak pernah menggunakan cheat. Ya kalau emang kalah ya kalah aja, kalau cheat itu gak ada senang-senangnya ketika menang.
 
Kalau aku sudah larut dalam gameku, dia akan menemaniku dengan membaca artikel di HP nya, atau dia ikut bermain game bola nya. Kami berbeda, tidak harus sama. Tetapi masih bisa saling menemani bahkan untuk hal yang berbeda.
 
Aku selalu tidur lebih cepat dari dia, sementara dia justru terbiasa begadang. Kadang-kadang, dia akan tidur lebih cepat dari biasanya atau aku yang ikut menemaninya begadang. Aku akan berusaha dengan membuat coklat, lalu bekerja meski pekerjaanku tidak mengharuskanku lembur. Lalu aku akan berkata, "Gak apa, biar besok aku nyantai di sekolah. Lagian aku juga gak bisa tidur."
 
Bohong saja kalau di sekolah aku bisa santai. Karena rutinitas sekolah kan gitu aja mau dicicil ngerjain malamnya pun. Hanya saja di sini aku tidak tau dia tau ini atau tidak.
 
Kami pernah bertengkar. Dari kami bersama, dia sudah mengatakan bahwa tidak bisa menjamin kalau hidup kami akan dipenuhi bahagia dan tawa saja. Ada kalamya dia akan marah, atau aku yang akan marah.
 
Dia pendiam, aku tukang ngomel. Dia yang sabar, aku yang cepat marah. Dia yang tertawa, aku yang menceritakan lelucon untuknya. Dia yang memelukku, aku yang bermanja-manja.
 
Tetapi pada saat dia marah, aku akan berusaha diam. Sulit, tetapi kalau saling ngotot, itu selalu memperburuk keadaan. Aku tau, dia kalau marah, berarti aku memang berbuat salah atau dia yang sedang lelah. Kalau sedang jauh, aku akan memberinya waktu sendiri. Kalau dekat, aku akan membuatkannya kopi. Besok harinya, biasanya dia akan meminta maaf karena sudah marah. Lalu kami akan berbicara seperti biasa lagi. Kalau aku yang marah, dia akan berusaha diam mendengarkanku. Karena dia juga tau, kalau ikut ngotot, akan bertambah panjang.
 
Bukan berarti kami tidak pernah bertengkat. Tentu saja pernah. Berdebat siapa salah siapa benar. Tapi, kenapa harus selalu dibuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah, kalau pada akhirnya itu akan melukai salah satunya?  Kenapa tidak yang salah menyadari kalau dia salah dan yang benar tidak terlalu menyalahkan?
 
Dari sana kami belajar, semua masalah harus diusahakan sebelum tidur. Jadi tidak ada yang memendamnya. Tidak selalu berhasil. Tapi kami berjanji untuk terus mengusahakannya.
 
Jelas, kami berbeda pada banyak hal. Tapi tidak harus salah satu mengikuti yang lainnya. Kami hanya harus berkompromi. Karena alasannya sesederhana kami saling mencintai. Jika cinta kami sama, kenapa harus meributkna semua yang beda? 

0 komentar:

Welcome to my little world

Diberdayakan oleh Blogger.

Temukan Aku di...

Followers

© Bienvenue, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena