Welcome to my little world

Tampilkan postingan dengan label cerpen ic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen ic. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Februari 2014

Apa Arti Tanggal itu bagi Acha

Hai. Ini cerpen buatan udah tanun 2010 lalu. Tapi baru inget hari ini. Cekidot :p

Pagi itu, pagi yang cerah untuk semua orang. Tapi tidak
untuk seorang Acha. Bagi gadis kecil manis itu, hari ini
adalah hari yang sangat menyedihkan. Karna hari ini dia
harus menyaksikan perceraian kedua orang tuanya. Dan
satu lagi, dia pasti akan berpisah dengan kakak
kesayangannya. Acha memang memiliki kakak bernama
Gabriel. Dia sangat menyayangi Gabriel, begitu juga
sebaliknya, Gabriel juga sangat menyayangi Acha.
“Acha jangan sedih ya. Kakak janji ga akan ninggalin
Acha. Karna kakak sayang Acha. Acha juga sayang kakak
kan? Kalo Acha sayang kakak, Acha jangan sedih lagi ya.”
Ucap Gabriel menghibur Acha.
“Acha juga sayang kakak. Tapi Acha ga pengen orang tua
kita pisah kak. Nanti kalo orang tua kita pisah terus kita
juga pisah. Acha ga mau itu terjadi kak. Acha maunya kita
semua bersatu terus dan selamanya bersatu.” Kata Acha
sedih, dia pun memeluk kakaknya itu dan menangis
dalam pelukan kakaknya itu.
“Acha jangan nangis donk. Kakak juga jadi ikut sedih.
Kakak ga akan ninggalin Acha. Kalo pun kita jauh, tapi
kakak akan selalu ada di hati Acha. Kakak ga akan pergi
dari Acha.” Kata Gabriel mengelus rambut Acha.
“Nak, ayo kita berangkat. Papa udah nunggu di
pengadilan.” Kata mama mereka dari lantai bawah. Mama
dan Papa mereka memang sudah lama berpisah.
“Acha ga mau ikut Ma. Acha ga sanggup kalo harus liat
mama sama papa pisah. Acha jaga rumah aja.” Teriak
Acha.
“Iyel juga. Iyel juga mau di rumah aja. Mau nemenin Acha.
Iyel ga mau liat mama sama papa pisah.” Teriak Gabriel
juga.
“Ga bisa sayang. Kalian harus ikut mama ke pengadilan
sekarang. Kalian ga mau liat papa kalian lagi? Kalian mau
liat mama tambah sedih?” kata mama mereka, yang
sekarang sudah ada di depan pintu kamar Acha.
“Tapi Acha ga mau kalo mama sama papa pisah, terus
Acha sama kak Iyel juga pisah. Acha ga mau keluarga ini
pisah belah kayak yang di film-film itu. Acha ga mau itu
mama.” Isak Acha lagi.
“Mama janji, kalian ga akan pisah. Paling juga kalo pisah
ga jauh kok. Mama janji.” Ucap mama.
“Janji ya ma. Kalo gitu sekarang Acha mau ikut mama ke
pengadilan. Kak Iyel juga harus ikut.” Kata Acha.
Saat di pengadilan. Di sana sudah banyak orang yang
datang. Acha dan Gabriel duduk di bangku paling depan.
“Sekarang bapak Septian Putra dan ibu Rahmi Amalia
resmi bercerai.” Tokk tokk tokk. Ucap hakim itu sambil
memukul meja hijau dengan palunya.
“Dan untuk hak asuh anak. Bapak Septian Putra dapat
mengasuh Raissa Arif. Ibu Rahmi Amalia dapat mengasuh
Gabriel Stevent Damanik.” Lanjut hakim itu.
Semua mata tercengang melihat hal itu. Karena kedua
suami istri itu selalu terlihat harmonis dan sekarang
mereka sudah resmi bercerai. Dan dua anak kecil yang
duduk di sana hanya bisa menerima kenyataan pahit itu.
“Kak, Acha ga mau jauh dari kakak. Acha mau sama kakak
aja. Acha ga mau ikut papa kerja di luar negeri.” Kata
Acha sambil terisak
“Kakak juga ga mau pisah sama Acha. Tapi kakak juga ga
bisa berbuat apapun. Sekarang kita cuma bisa menerima
kenyataan aja Cha.” Kata Gabriel juga sedih.
“Tapi kak. Kita masih bisa ketemu lagikan? Kita masih
bisa main bareng lagikan kak?” kata Acha menatap
kakaknya itu
“Semoga bisa Cha. Kakak ga yakin itu bakalan bisa.” Kata
Gabriel miris
“Acha, Iyel. Sekarang kita pulang dulu yuk.” Kata Mama
lembut
“Iya. Nanti kan kalian masih bisa main bareng. Sekarang
kita pulang yuk.” Kata Papa mereka
“Ga ma. Ga pa. Acha sama kak Iyel mau main ke taman
deket komplek dulu. Sebelum kita pisah, kita pengen
ngehabisin waktu berdua.” Kata Acha
“Iya. Iyel mau main dulu sama Acha.” Kata Gabriel meng-
iyakan
“Ya udah. Nanti pulangnya jangan malem-malem ya.”
Ucap Mamanya dan berlalu meninggalkan ruangan itu.
“Papa duluan ya.” Ucap papa mereka, sebelum papa
meninggalkan ruangan sidang itu, papa sempat mengecup
kening kedua putra-putrinya itu.
Di taman tempat biasa Acha dan Gabriel main. Mereka
hanya duduk di bangku taman itu.
“Acha, kalo Acha beneran pergi sama papa keluar negeri.
Acha masih mau balik ke Jakarta lagi ga?” tanya Gabriel
sambil menatap langit.
“Pasti Kak. Acha ga mau kalo lama-lama pisah dari
kakak. Acha pengen selamanya sama-sama bareng
kakak.” Ucap Acha juga menatap langit.
“Kalo Acha balik ke Jakarta. Terus kakak udah ga ada
gimana Cha? Kalo…” ucap Gabriel terpotong omongan
Acha
“Kakak ngomong apaan si? Kakak janji bakal nunggu
Acha kan? Dan kakak ga mau buat Acha sedih kan? Kakak
jangan ngomong kayak gitu lagi ya.” Ucap Acha mencoba
tersenyum
“Pasti Cha.”
Suasana menjadi sangat hening setelah Gabriel mengucap
kata pasti itu. Mereka hanya memandangi langit yang
sangat cerah pada saat itu. Walau hari itu sangat
mendung untuk hati mereka.
“Ya udah yuk kak. Kita pulang dulu. Nanti dicariin mama
papa lagi.” Ajak Acha.
Di rumah mereka.
“Pokoknya saya mau ajak Acha. Saya mau dia liat dunia
luar. Saya mau menyekolahkan Acha di Paris.” Ucap
Septian ngotot
“Jangan mas. Kasian mereka. Mereka ga akan mau kalo di
pisah.” Ucap Rahmi memohon.
“Mama. Papa. Acha ga mau pisah sama kakak. Acha
mending sekolah di Jakarta tapi ga pisah sama kakak.
Acha mending ga bisa liat dunia di luar sana, asalkan
Acha ga pisah sama kak Iyel.” Teriak Acha sambil
menangis terisak.
“Acha, kalo ini yang terbaik buat Acha. Kak Iyel ikhlas
kok.” Hibur Gabriel.
“Acha ga mau kak. Acha ga mau kalo harus pisah sampe
jauh banget sama kakak.” Kata Acha masih terisak.
“Acha sayang. Papa janji. Kalo kamu udah selesai
sekolahnya. Kamu boleh kembali ke Jakarta. Boleh
bareng-bareng sama Kak Iyel lagi.” Kata Septian.
“Mama. Acha mau tinggal sama mama aja. Acha ga mau
kalo harus ke luar negeri segala.” Rengek Acha semakin
menjadi.
“Acha. Mama sayang sama Acha. Mama mau yang terbaik
buat Acha. Jadi Acha nurut ya sama papa.” Kata Rahmi
masih berluluran air mata (?).
“Iya Acha. Kakak juga mau yang terbaik buat Acha. Jadi
Acha nurut ya sama papa.” Kata-kata Gabriel itu membuat
Acha luruh (?).
“Kalo gitu Acha mau ikut papa. Tapi papa harus janji,
kalo Acha udah selesai sekolah, Acha boleh pulang ke
Jakarta.” Ucap Acha.
“Papa janji. Kalo gitu kamu siapin barang kamu dulu.
Besok kita berangkat.” Kata Septian tersenyum.
Keesokan harinya. Saat Acha hendak berangkat ke
bandara.
“Acha. Hati-hati di jalan ya. Jangan lupain kakak.” Ucap
Gabriel menahan kesedihannya.
“Acha janji ga akan lupain kakak. Acha pasti bakalan
kangen sama kakak. Acha juga ga bakalan lupain mama.
Acha sayang banget sama mama sama kakak.” Kata Acha
memeluk Gabriel.
“Acha. Kakak mau Acha jagain papa ya buat kakak. Acha
juga belajar baik-baik ya di sekolah Acha nanti. Ini kakak
ada kenang-kenangan buat Acha. Gelang yang selalu
kakak pake ini buat Acha sekarang. Kalo Acha kangen
kakak, Acha tinggal pandangin gelang kakak aja.” Kata
Gabriel tulus dan melepas gelang yang selalu di pakainya.
“Kakak… ini kan gelang kesayangan kakak. Sebagai
gantinya, Acha mau kasih boneka kucing kesayangan
Acha buat kakak. Kalo kakak kangen Acha, kakak tinggal
curhat aja sama boneka kucing ini. Pasti kangennya
ilang.” Kata Acha tersenyum.
“Sayang. Taxinya udah dateng sekarang kamu pamitan
sama mama sama kak Iyel dulu sana. Nanti kita langsung
berangkat.” Ucap papa.
“Mama, Kak Iyel. Acha pamit dulu ya. Besok kalo Acha
pulang, Acha bakalan langsung ke sini.” Ucap Acha
berpamitan.
“Iya Acha. Kakak bakalan setia nungguin Acha di taman
biasa.” Ucap Gabriel meneteskan airmata.
“Hati-hati di jalan ya nak.” Kata mama.
“Kalo gitu Acha berangkat dulu ya. Kak Iyel, jaga mama
baik-baik ya. Mama, Acha minta tolong jaga Kak Iyel
baik-baik ya ma.” Kata Acha sebelum berangkat.
“Iya Acha.” Kata mama dan Gabriel kompak.
“Saya dan Acha berangkat dulu.” Kata papa dingin.
Taxi itupun melaju meninggalkan komplek perumahan elit
itu. Gabriel harus merelakan adik kesayangannya itu pergi
meninggalkannya.
“Acha… hati-hati di jalan ya……” teriak Gabriel saat taxi itu
mulai tak terlihat lagi.
~bertahun-tahun kemudian~
Bintang malam katakan padanya.
Aku ingin melukis sinarmu di hatinya
Embun pagi katakan padanya
Biar ku dekap erat waktu dinginmu merenggutnya.
Bintang malam sampaikan padanya
Aku ingin melukis sinarmu di hatinya
Embun pagi katakan padanya
Biar ku dekap erat waktu dinginmu merenggutnya.
Taukah engkau wahai langit.
Aku ingin bertemu membelai wajahnya.
Kan kupasang hiasan angkasa yang terindah.
Hanya untuk dirinya.
Lagu rindu ini kuciptakan.
Hanya untuk bidadari hatiku tercinta
Walau hanya nada sederhana
Izinkan ku ungkap segenap rasa
Dan kerinduan
Lagu itu yang selalu Gabriel nyanyikan saat ia kangen
dengan adiknya. Sudah 10 tahu Acha tidak kembali ke
Jakarta.
“Cha, kapan si kamu balik ke Jakarta. Kakak kangen sama
kamu. Walaupun di sini kakak udah punya adik tiri baru.
Tapi kakak tetep sayang dan kangen banget sama Acha.”
Kata Gabriel miris.
“Kak, Acha itu siapa si? Cewe yang di foto itu ya?” tanya
Ozy adik tiri Gabriel. Ya, memang mama Gabriel telah
menikah dengan seorang laki-laki beranak 1, dua tahun
yang lalu.
“Iya Zy. Dia adik kandung kakak. Dia sekarang sedang
bersekolah di Paris. Dia ikut papa kakak ke sana.
Umurnya sama dengan kamu. Tahun ini dia tepat berumur
17 tahun. Sweet seventeen.” Ucap Gabriel menerawang.
“Mmmmb. Kayak Ozy donk kak. Kapan dia balik ke sini?”
tanya Ozy.
“Ga tau. Kakak juga ga tau dia bakalan balik ke sini atau
ga.” Kata Gabriel menatap boneka kucing Acha.
“Kok gitu sih kak?” tanya Ozy lagi.
“Ya gitu. Satu lagi, kakak juga ga yakin kalo Acha udah
balik ke Jakarta apa kakak bisa ketemu dia lagi atau ga.
Kakak udah capek ngelawan penyakit kakak ini.” Ucap
Gabriel. Memang sejak beberapa tahun lalu Gabriel telah
difonis menderita kanker hati stadium akhir.
“Kakak pasti kuat. Demi ketemu Acha, pasti kakak bisa.”
Kata Ozy memberi semangat ke Gabriel kakak tirinya.
“Iya Zy. Tapi kalo besok kakak udah ga bisa liat Acha,
kakak mau titip Acha ke kamu ya Zy. Rawat dia ya Zy,
anggap dia seperti adik Ozy sendiri. Ozy mau kan? Demi
kakak.” Ucap Gabriel memohon.
“Iya kak. Ozy mau. Tapi kakak juga harus janji sama Ozy,
sama diri kakak sendiri kalo kakak pasti kuat.” Kata Ozy
memberi semangat.
“Ok Zy. Sekarang Ozy keluar dulu ya dari kamar kakak.
Kakak mau tidur dulu. Kakak capek banget tadi main
basket sama temen-temen.” Kata Gabriel.
“Iya kak. Tidur nyenyak ya kakakku sayang.” Kat Ozy dan
berlalu keluar kamar Gabriel.
Pagi harinya. Semua keluarga Gabriel dan Ozy dan
tetangga-tetangga mereka telah berkumpul di rumah
Gabriel dan Ozy. Mereka semua terlihat seperti sedang
berduka. Di depan rumah itu terdapat bendera putih yang
berkibar, tanda kalau ada orang yang meninggal di rumah
itu.
“Kak… bangun kak… Ozy bakal kesepian kalo ga ada
kakak. Kakak kan udah janji bakal kuat. Tapi kenapa
kakak ga nepatin janji kakak? Ayo kak bangun.” Kata Ozy
menggoyang-goyangkan badan orang yang sedari tadi
tertidur dengan ditutupi kain putih.
“Ozy… sabar nak. Kamu harus ngerelain Gabriel. Kalo
kamu ga ngerelain Gabriel, kasian dia di sana. Dia
bakalan lebih senang kalo kamu bisa merelakan dia
pergi.” Ujar mama Rahmi menghibur Ozy.
“Tapi kak Gabriel udah janji sama Ozy. Dia bakalan
nungguin Acha bareng Ozy.” Kata Ozy belum ikhlas
Gabriel meninggal.
“Acha? Jadi Gabriel kuat selama ini karna Acha? Ya
Tuhan. Sebegitu sayangnya Gabriel pada Acha.” Ucap
mama Rahmi lirih.
“Maaf bu, jenazah akan segera di makamkan.” Ujar salah
satu tetangga mereka.
“Iya silahkan pak.” kata papa tiri Gabriel.
Pada malam harinya. Ozy masih tak bisa tidur.
“Ozy, bantu kakak. Tolong pada tanggal 23 Mei tahun
sekian besok kamu datang ke taman dekat komplek. Di
sana kamu bisa bertemu Acha. Dan tolong berikan surat
dan boneka kucing Acha yang kakak taruh di meja kamar
kakak.” Kata bayangan Gabriel berbaju putih bersinar.
“Kakak? Baik kak. Ozy akan turuti kata-kata kakak.” Ucap
Ozy.
“Baiklah. Jaga Acha baik-baik ya Zy. Saatnya kakak pergi
sekarang. Selamat tinggal Acha. Selamat tinggal Ozy.
Selamat tinggal mama. Selamat tinggal papa. Selamat
tinggal rumah kenangan. Selamat tinggal taman bermain.
Selamat tinggal dunia.” Ucap Gabriel dan dia pun
menghilang.
“Kakak…… kakak…… jangan tinggalin Ozy lagi.” Teriak Ozy.
Tepat pada tanggal 23 Mei. Seperti yang dijanjikan Gabriel
ke Ozy.
“Nak, kita langsung ke rumah eyang dulu ya. Kita istirahat
dulu di sana.” Ucap papa Acha saat menuruni pesawat
Paris-Jakarta (?) *kaya bis aja hehe.
“Ga mau pa. Acha mau langsung ke taman tempat Acha
janjian sama kak Iyel. Acha dah kangen berat sama kak
Iyel. Pasti sekarang kak Iyel makin cakep, makin dewasa,
dan yang pasti Acha bakalan makin sayang sama kak
Iyel.” Ucap Acha sambil melihat sekeliling. Suasana di
Jakarta udah banyak berubah. Sekarang Jakarta semakin
ramai, tak seperti saat Acha meninggalkan Jakarta.
“Ya udah kalo gitu. Acha ke taman deket komplek rumah
kita dulu. Papa langsung ke rumah eyang.” Ucap papa
memutuskan.
“Oke pa. Acha nyari taxi dulu ya. Abis itu Acha langsung
ke taman. Don’t miss me dad.” Ucap Acha berlalu dengan
kopernya. Dia sekarang tidak memakai gelang kesayangan
Gabriel. Gelang itu telah putus 1 tahun yang lalu.
Saat di taxi. Acha melihat pemandangan jalan dari
jendela. Acha sekarang sudah berubah menjadi gadis
cantik dan manis. Dia sekarang telah menjadi sarjana ilmu
arkeologi, sangat jauh dari cita-citanya. Saat kecil dia
ingin sekali menjadi penyanyi kalo ga jadi dokter. Tapi itu
tak menghalangi cita-cita Acha sebagai penyanyi. Dia
sering bernyanyi dan berlatih banyak alat musik.
Setelah sampai di taman. Acha memandang sekeliling
taman. Taman yang sering menjadi tempat bermainnya
sekarang jauh berubah. Taman itu menjadi sangat kotor,
bangku-bangku tamannya juga sudah berkarat, banyak
reruntuhan (?) daun kering, dan satu lagi yang membuat
sangat berbeda. Tempat ini menjadi sepi, tak seramai
dulu.
“Huh, akhirnya sampai juga. Kok tempatnya kotor ya. Ah,
ga pa pa lah. Demi ketemu kak Iyel, apa sih yang ga.”
Ucap Acha semangat.
Lama Acha duduk sendiri di taman. Tapi dia tak melihat
seorang pun yang datang ke taman.
“Kak Iyel mana si? Katanya mau nunggu Acha di sini.
Tapi kok sampai sekarang belum datang juga ya. Ah,
mungkin kak Iyel baru sibuk ada kerjaan.” Ucap Acha
sabar. Dia pun akhirnya bersenandung kecil.
When I am down and, oh my soul, so weary
When troubles come, and my heart burdened be
Then, I am still and wait here in the silence
Until you come and sit a while with me.
You raise me up, so I can stand on mountains
You raise me up, to walk on stromy seas
I am strong, when I am on your sholders
You raise me up… to more than I can be.
Senandung Acha pelan. Tanpa ia sadari, matahari telah
berganti menjadi bintang. Dan Gabriel pun belum juga
datang.
“Hai. Kamu Acha ya?” ucap seseorang mengagetkan Acha.
“Kak Iyel.” Kata Acha melemah saat ia tau kalo yang
menyapanya bukan Gabriel.
“Bukan. Aku bukan Kak Iyel. Aku Ozy. Adik tiri Kak Iyel.”
Ucap orang itu yang ternyata Ozy.
“Ooh. Mama Rahmi jadinya udah nikah lagi ya? Terus
kamu ngapain di sini? Kak Iyel mana?” kata Acha sambil
mencari-cari Gabriel.
“Iya, dan aku anak dari suami mama Rahmi yang baru.
Kak Iyel udah pergi Cha. Aku ke sini juga cuma di suruh
Kak Iyel satu tahun yang lalu.” Kata Ozy sedih.
“Pergi kemana? Kapan pulang lagi ke sini? Kalo gitu Acha
mau nunggu Kak Iyel sampe pulang ke sini lagi. Paling
bentar lagi Kak Iyel pulang.” Kata Acha sambil melipat
kedua tangannya dan mengangkat satu kakinya.
“Kak Iyel udah ga bakal pulang lagi Cha. Dia udah pergi
ke rumah Tuhan 1 tahun yang lalu.” Kata Ozy menahan air
matanya.
“Maksud kamu apa? Kak Iyel meninggal gitu? Itu ga
mungkin. Kak Iyel udah janji bakal nungguin Acha sampe
Acha pulang. Dan kak iyel itu orangnya ga pernah ingkar
janji.” Kata Acha ga percaya.
“Iya. Kak Iyel udah meninggal. Dia kena penyakit kanker
hati stadium akhir. Penyakit itu ada di tubuh kak Iyel
udah selama beberapa tahun. Dan berarti dia udah nahan
sakitnya lama Cha. Kak Iyel nitip boneka kucing ini dan
surat ini ke aku, katanya si yang boleh baca cuma kamu.”
Kata Ozy memberikan surat dan boneka dari Gabriel itu.
To: Acha adik kakak tersayang
Maaf Cha. Kakak ga bisa nepatin janji kakak. Kakak udah
lama sakit. Dan sekarang kakak udah ga bisa nahan sakit
kakak. Kakak juga mau minta maaf, boneka Acha kakak
kembaliin. Soalnya kakak udah ga bisa ngerawat boneka
cantik Acha. Emmb, Acha sekarang pasti udah jadi gadis
dewasa yang cantik. Waah rugi banget Kak Iyel ga bisa
liat Acha sekarang.
Acha, Kak Iyel pesen tolong jaga mama sama papa kayak
Acha jaga diri Acha sendiri ya. Sayangi mereka kayak
mereka sayang sama Acha. Dan sayangi juga adik tiri
kakak, Ozy. Dia yang selama ini merawat dan memberi
semangat ke kakak, dia juga yang selama ini banyak
ngebantuin kakak. Anggep dia sebagai pengganti kakak.
Walopun dia anaknya bandel, banyak tingkah tapi dia
baik banget lo Cha.
Udah dulu ya Cha segini aja surat dari kakak tangan kakak
udah pegel, capek banget nulis.
Bye Acha. Selamat tinggal.With love,
Your old brother
22 Mei tahun sekian
GABRIEL STEVENT DAMANIK.
“Kak Iyeeeelll!!!!! Kenapa kakak ga nepatin janji kakak.
Kakak kan udah janji mau nungguin Acha. Mau liat Acha
jadi orang yang sukses. Tapi kenapa kakak Iyel pergi
duluan??!!!” teriak Acha histeris.
“Acha sabar Cha. Ikhlasin kak Iyel. Biarkan dia pergi. Kalo
kamu tangisin dia terus kasian kak Iyel.” Kata Ozy
menenangkan Acha meniru kata-kata mama Rahmi saat
Ozy menangisi Gabriel.
“Ikhlas katamu? Ini kakak aku Zy. Ini kakak kesayanganku
Zy. Dia yang selalu kasih aku semangat kalo aku baru
down . Kamu ga ngerasain itu. Dia ini orang yang selalu
aku tunggu. Dia orang paling spesial di hidupku.
Sekarang dia pergi. Kamu cuma bilang ikhlasin aja. Ga
bisa Zy!!!” bentak Acha ke Ozy.
“Cha, aku ngerasain itu Cha. Dia juga kakak aku. Dia juga
kakak terbaik aku. Dia yang udah bikin aku jadi bisa
ngerasain rasanya punya kakak walo hanya beberapa
tahun aja.” Ucap Ozy menangis sejadi-jadinya dan
memeluk Acha.
“Dia orang paling spesial buat aku Zy. Paling spesial buat
aku Zy.” Kata Acha berulang kali sambil menangis di
pelukan Ozy dan tubuh Acha tiba-tiba melemas, tapi itu
tak dirasakan oleh Ozy.
“Sabar Cha. Kamu pasti bisa ikhlasin kak Iyel. Walo itu
demi kak Iyel. Kakak kita.” Ucap Ozy, tapi tak ada balan
dari Acha.
“Cha… Acha…” ucap Ozy dan membangunkan Acha. Acha
ternyata pingsan dalam pelukan Ozy.
“Mungkin dia terlalu shock mendengar kabar ini. Aku
akan bawa dia pulang.” Kata Ozy sambil menggendong
Acha. Saat Ozy akan menggendong Acha, tiba-tiba HP
Acha berbunyi. Tertulis nama My Dad di sana.
“Aduuh, papanya lagi. Angkat ga ya. Emmb angkat aja
deh.” Kata Ozy kelipukan sendiri.
“Halo Om. Om papanya Acha ya?” tanya Ozy saat
mengangkat telepon.
“Iya ini siapa? Acha mana? Ini Gabriel ya?” tanya papa
Septian runtut.
“Ini Ozy om. Temen Acha. Om, Acha sekarang lagi
pingsan. Om bisa kasih alamat om sekarang ga?” kata
Ozy.
“Acha pingsan? Kenapa dia? sekarang Om ada di jalan
Ny. Saufika no 124. cepet kamu bawa ke sini.” Kata papa
Septian panik.
“Iya Om. Segera Ozy bawa Acha ke sana.” Kata Ozy
langsung menutup telepon dan menelepon taxi.
Saat taxi datang, Ozy langsung memasukkan Acha ke
dalam taxi dan membawanya ke alamat yang diberi oleh
papa Acha tadi.
Setelah sampai di alamat yang disembilan #tuju pensiun,
udah tua.
“Acha kenapa? Kok bisa sampai pingsan begini?” tanya
papa Septian panik.
“Ga tau Om. Sekarang Ozy mau langsung pulang aja. Ozy
udah di tunggu sama orangtua Ozy. Makasih Om.” Kata
Ozy langsung melarikan diri.
Paginya, Acha sudah sadar dari pingsannya. Dia keluar
kamar dengan mata sembab.
“Pagi papa. Tadi malem yang bawa Acha ke sini siapa pa?
semalem maaf Acha buat acara pingsan-pingsanan
segala.” Kata Acha
“Yang bawa kamu ke sini namanya siapa itu. Pake O… Ozz
siapa gitu. Kamu semalem pingsan kenapa?” tanya papa.
“Ha?? Ozy pa? semalem si, mungkin Acha kecapekan aja
pa. Pa, Acha ke kamar lagi aja ya. Acha masih ngantuk.”
Kata Acha bohong. Sebenarnya dia ga mau papanya tau
kalo dia mau nangis mengingat kejadian semalam.
“Iya sudah, kamu ke kamar aja. Tidur nyenyak sayang.”
Kata papa Acha.
Acha hanya tersenyum. Senyum pahit. Saat di kamar, dia
menatap gelang pemberian Gabriel yang telah putus itu.
Acha menatap gelang putus itu dengan sendu (?). dan dia
pun menangis kembali.
“Kakak kenapa tinggalin Acha? Acha sendiri di sini kak.
Acha udah ga punya temen kak. Tapi satu janji kakak
yang kakak tepatin. Kakak selalu ada di hati Acha. Kakak
selalu setia di hati Acha.” Ucap Acha mencoba tabah.
“Acha.” Kata seseorang yang ada di luar cendela.
“Siapa?” kata Acha membuka cendela.
“Acha, ini kakak. Acha jangan sedih lagi ya. Acha ingat
kan pesan kakak. Kakak akan selalu ada di hati Acha.
Sekarang Acha jangan sedih lagi ya. Kakak ga mau liat
adik kakak yang cantiiiik banget ini nangis sedih. Ayo
senyum.” Kata Gabriel dengan busana masih sama dengan
1 tahun yang lalu. Putih bersinar dan wajah pucat pasi.
“Kakak??? Kakak jangan tinggalin Acha lagi. Sekarang
kakak masuk. Acha kangen banget sama kakak. Acha
sayang banget sama kakak.” Ucap Acha yang mencoba
memeluk Gabriel. Tetapi hasilnya nihil. Gabriel tak bisa
disentuhnya.
“Ga akan pernah bisa lagi Cha. Cha tolong jaga papa,
mama, sama Ozy ya Cha. Mereka orang yang selalu bikin
kakak semangat selain kamu Cha. Cha, waktu kakak udah
habis. Kakak pergi dulu ya Cha.” Kata Gabriel dan
menghilang.
“Kakaaaaakk……. Jangan tinggalin Acha.” Teriak Acha
sampai terdengar papanya.
“Kenapa Cha?” tanya papa
“Cari tau aja sendiri. Papa kalo mau tau sekarang telepon
mama dan tanya kabar Kak Iyel gimana.” Ucap Acha
dingin.
“Kenapa sama Gabriel?” tanya papa Septian lagi #bawel
dah ni.
“Telepon mama aja sendiri.” Kata Acha sambil nangis.
Setelah papa Septian menelepon mama Rahmi.
“Cha, sabar nak. Mama Rahmi ga mau kasih tau itu
semua ke kita karna dia memang dilarang memberi tau ke
kita sama suaminya yang baru.” Kata papa Septian
membelai (?) rambut Acha.
“Ya udah pa, sekarang Acha mau ke taman itu dulu.” Ucap
Acha berlalu begitu saja.
Di taman tempat Acha biasa bermain dengan Gabriel. Acha
hanya terlihat duduk terdiam di kursi yang sudah
berkarat.
“Have I sad too much? There’s nothing more I can think of
to say to you. But all you have to do is look at me to
know. That every word is true” senandung Acha lirih dan
meneteskan air mata.
“Apapun kenyataannya kamu harus terima Cha.” Kata Ozy
dari belakang dan berhasil mengagetkan Acha.
“Ozy. Kamu ngapain di sini?” tanya Acha.
“Main. Kak Iyel juga sering ajak aku main ke sini.” Kata
Ozy dengan tatapan kosong.
“Ooo… Ozy, ada yang mau aku tanyain ke kamu.” Kata
Acha menatap Ozy.
“Apa? Tanya aja.” Kata Ozy beralih menatap Acha (?).
“Kamu mau jadi pengganti Kak Iyel buat aku?” tanya
Acha.
“Ga mau. Aku ga mau jadi pengganti Kak Iyel. Dia terlalu
sempurna untuk di gantikan olehku.” Kata Ozy tegas.
“Walo itu pesan dari Kak Iyel?” tanya Acha lagi.
“Aku mau kalo hanya untuk menjadi kakak tirimu. Tapi
aku ga akan mau dan ga akan pernah mau buat gantiin
Kak Iyel di hatimu.” Kata Ozy menatap Acha tajam.
“Dan Kak Iyel tak akan terganti di hatiku. Kalo gitu mulai
sekarang aku panggil kamu dengan sebutan kakak.
Hehehe.” Kata Acha mencoba tersenyum.
“Iya adek baruku. Gitu donk senyum. Mulai sekarang kita
jangan sedih-sedihan lagi ya.” Kata Ozy mengacak-acak
rambut Acha.
Beberapa bulan dari kejadian itu. Acha dan Ozy semakin
akrab. Bahkan papa Septian juga semakin akrab dengan
keluarga baru mama Rahmi. Pada sore itu, di taman
tempat biasa Acha dan Ozy bermain.
“Cha, aku mau ngomong sesuatu.” Kata Ozy tiba-tiba.
“Ngomong aja kak. Mau ngomong kok harus minta izin.”
Kata Acha sambil merangkai bunga, tanpa memperhatikan
Ozy.
“Udah jadi bunganya.” Kata Acha sambil mengangkat
bunganya.
“Acha…… perhatiin aku bentar donk… aku mau ngomong.”
Kata Ozy sedikit kesal.
“Hehehe, maaf kakakku. Iya, sekarang Acha perhatiin. Mau
ngomong apa?” tanya Acha menghadap ke Ozy.
“Dari tadi napa. Bikin kesel aja. Cha, aku ngerasa lama-
lama kita kok makin deket ya?” tanya Ozy, Acha pun
tertawa.
“Ya iyalah. Kitakan kakak adik.” Kata Acha dengan sisa
tawanya.
“Bukan itu Cha. Aku pengen kita lebih dari sekedar kakak
adik.” Kata Ozy, Acha tercengang (o) mendengarnya.
“Lebih dari kakak adik? Terus? Tapi kan kita emang kakak
adik?” kata Acha tak mengerti.
“Kita kan cuma kakak adik tiri. Cha, kamu mau ga jadi
pacarku?” tanya Ozy mengagetkan Acha.
“Ga tau. Acha ga tau harus jawab apa. Acha bingung.
Acha bingung harus bilang apa. Karna kamu itu kakak
Acha. Walo hanya tiri. Tapi Acha juga sayang sama Ozy
lebih dari kakak.” Kata Acha menunduk.
“Jadi, kamu mau jadi pacarku?” tanya Ozy. Acha hanya
mengangguk pelan.
“Tapi apa papa mama kita ga marah?” tanya Acha.
“Mama Rahmi sama papaku udah tau kok. Mereka ga akan
marah.” Kata Ozy tersenyum.
“Berarti sekarang Acha manggilnya udah bukan kakak lagi
donk. Manggilnya boleh Ozy aja donk. Yesss, memang
kakakku cuma satu.” Kata Acha senang.
“Siapa bilang? Kamu ga boleh panggil cuma Ozy Ozy gitu
doank. Panggil pake abang.” Kata Ozy genit.
“Ogah dah. Males, aku panggilnya abang Ojek aja ah…”
kata Acha dan berlari meledek Ozy.
“Heh, Candil. Jangan abang ojek.” Kata Ozy mengejar
Acha. Dan hasilnya adalah terjadinya peristiwa kejar
mengejar antara Ozy dan Acha *beh,ngemeng apa saya.
Semakin hari, semakin cinta, semakin hari, semakin rindu.
Lagu itu yang sangat cocok dinyanyikan untuk Ozy dan
Acha.
“Cha, kamu beneran udah siap tampil? Tangan kamu
dingin banget lo Cha.” Kata Ozy khawatir.
“Acha ga pa pa kok Zy. Ini tanda kalo Acha grogi. Soalnya
ini pertama kali nya Acha tampil di Indonesia.” Kata Acha
tersenyum.
“Ya uda kalo gitu. Kalo gitu Ozy tunggu di belakang
panggung ya.” Kata Ozy.
“Iya.” Jawab Acha singkat.
Tak lama kemudian.
“Para hadirin sekalian. Marilah kita sambut penyanyi
muda berbakat, yang akan menyanyikan sebuah lagu. Ini
lah Raissa Arif.” Ucap sang pembawa acara.
“Terimakasih. Lagu ini saya persembahkan untuk kakak
saya tersayang Gabriel Stevent Damanik yang telah ada di
sampin Tuhan.” Ucap Acha sebelum bernyanyi. Dentingan
piano pun mulai dimainkan Acha. Dan Acha pun mulai
bernyanyi.
Menapak jalan yang menjauh.
Tentukan arah yang kumau.
Tempatkan aku pada suatu peristiwa
Yang membuat hati lara.
Di dekat engkau aku tenang
Sendu matamu penuh tanya
Misteri hidup akankah menghilang
Dan bahagia di akhir cerita.
Cintaaa……
Tegarkan hatiku…
Tak mau sesuatu merenggut engkau.
Naluriku berkata
Tak ingin terulang lagi.
Kehilangan cinta hati
Bagai raga tak bernyawa
Aku……
Junjung petuahmu.
Cintai dia yang mencintaiku.
Hatinya turut berlayar
Kini telah menepi.
Bukankah hidup kita
Akhirnya harus bahagia.
Semua hadirin yang hadir di sana pun tertegun
mendengarkannya. Dan suara tepukan terdengar riuh
memenuhi gedung itu.
“Cha, bagus banget tadi kamu nyanyinya. Jadi penyanyi
aja kamu” Sambut Ozy.
“Papa bangga sama kamu Cha. Tadi itu bagus banget.”
Puji papa Septian.
“Sayang, mama seneng banget kamu tadi nyanyinya
bagus banget. Ini konser terbagus yang pernah mama
liat.” Puji mama Rahmi.
“Acha, Om bangga sekali bisa mengenal Acha. Calon
penyanyi papan atas.” Kata papa tiri Acha.
“Makasih banyak pujiannya. Sebagai hadiahnya Acha mau
minta sesuatu.” Kata Acha.
“Apa Acay?” tanya Ozy. Semua yang ada di sana memang
tau, kalo Ozy sering memanggil Acha dengan sebutan
Acay atau Acha sayang. Sedangkan Acha sering
memanggil Ozy dengan sebutan Ozay atau Ozy sayang.
*wkwkwk, aneh.
“Apa nak?” tanya papa septian.
“Acha mau besok kita ke makam kak Iyel. Kita kirim doa
ke kak Iyel. Terus kita bersihin makam kak Iyel. Setuju
ga?” tanya Acha. Dan mereka semua mengangguk tanda
setuju.
Keesokan harinya, saat di makam. Mereka semua terlihat
khusuk berdoa dan setelah itu mereka membersihkan
makam Gabriel bersama-sama. Saat mau pulang.
“Acay, pulang yuk. Mama sama papa juga udah mau
pulang.” Ajak Ozy.
“Kalian duluan aja. Nanti Acha nyusul. Acha masih
kangen sama kak Iyel.” Kata Acha mengelus nisan
bertuliskan Gabriel.
“Ya udah kalo gitu. Kita duluan ya. Tapi kamu pulang
jangan sore-sore.” Ucap papa Septian.
“Iya papa ku sayang.” Kata Acha tersenyum.
Setelah semua pulang. Acha hanya sendiri menatap
makam Gabriel.
“Kakak, kemarin kakak liat Acha nyanyi ga? Semuanya
muji Acha. Mereka bilang Acha nyanyinya bagus. Acha
nyanyi lagu itu buat kakak.” Kata Acha masih terus
menatap makam kakak tersayangnya itu.
“Kakak, Acha pengen banget ketemu kakak. Acha pengen
bisa meluk kakak lagi. Main-main bareng kakak.” Kata
Acha sedih.
“Oh, iya Acha lupa. Acha kan udah janji sama kakak sama
Ozy, kalo Acha ga boleh sedih-sedihan lagi. Mulai
sekarang Acha akan coba senyum terus. Acha akan coba
ikhlasin kakak.” Kata Acha yang sedari tadi bicara sendiri.
“Kak, Acha pamit dulu ya. Hari udah mulai sore. Kapan-
kapan Acha balik ke sini lagi. Da… kakak.” Ucapnya dan
meninggalkan makam Gabriel.
Berbulan-bulan kemudian. Sekarang Acha dan Ozy tepat
berumur 20 tahun. Pada tanggal 23 Mei. Di taman tempat
yang paling sering mereka berdua datangi.
“Cha, aku mau ngomong sama kamu.” Kata Ozy serius.
“Apa? Kok kayaknya serius banget? Penting banget ya?”
kata Acha penasaran.
“Penting banget Cha. Cha, wuold you marry with me?”
tanya Ozy tiba-tiba.
“Ha? Ozy kita masih 20 tahun. Terus kita masih baru aja
dapet kerjaan.” Kata Acha kaget.
“Urusan waktunya gampang nanti. Yang penting sekarang
kamu jawab pertanyaanku. Would you marry with me?”
kata Ozy mengulang pertanyaannya.
“Mmmb. Oke I want. But… What about our parents?” kata
Acha ragu.
“Kita cuma sodara tiri Acha. Jadi orang tua kita ga bakal
ngelarang kita.” Kata Ozy. Acha pun tersenyum, tersirat
rasa bahagia yang luar biasa di wajahnya.
~Skiip. 2 tahun kemudian.~
Hari ini, tanggal 23 Mei. Memang tanggal yang paling
bersejarah untuk Acha, pada tanggal itu kakaknya
meninggal, pada tanggal itu dia kembali ke Jakarta, pada
tanggal itu Ozy melamarnya, dan hari ini tanggal 23 Mei,
ia akan melangsungkan pernikahannya dengan Ozy.
Pernikahan mereka berdua di adakan di taman tempat
yang penuh kenangan untuk mereka berdua. Terutama
untuk Acha. Saat pernikahan di mulai, Acha terlihat
sangat cantik. Dia mengenakan gaun putih panjang, di
tangannya terdapat bunga berwarna-warni. Ozy pun
terlihat sangat tampan. Ozy mengenakan baju putih dan
jas berwarna hitam.
Setelah acara itu selesai, semua yang hadir memberi
ucapan selamat kepada mereka. Mereka berdua pun
memandangi langit. Di sana terlihat seutas senyuman
yang sangat lebar dan tulus, seperti mengucapkan kata
selamat untuk mereka.
“Makasih kakak. Acha selalu sayang kakak.” Ucap Acha
lirih.
“Makasih kak Iyel. Karna kak Iyel, Ozy bisa menemukan
pendamping hidup Ozy.” Ucap Ozy tak kalah lirih dengan
Acha.
“Aku sayang Kakak Gabriel Stevent Damanik. Always and
forever.” Ucap mereka bersamaan.
Setelah semua peristiwa duka yang mereka alami
bersama. Akhirnya mereka mendapatkan kebahagian sejati
itu.
Cintaaa……
Tegarkan hatiku…
Tak mau sesuatu merenggut engkau.
Naluriku berkata
Tak ingin terulang lagi.
Kehilangan cinta hati
Bagai raga tak bernyawa....

Thats all. Thankyou. Haha

Read More

Kamis, 04 April 2013

Langit dan Kau (cerpen Rify repost)



Seorang wanita muda berdiri seorang diri di depan sebuah bangunan sekolah. Angin menyibak rambutnya yang ikal dan panjang itu. Cahaya matahari menyentuh kulitnya. Matanya berkaca-kaca seakan ia tak yakin apa yang dilakukannya hari ini. Lalu akhirnya ia memantapkan niatnya, satu persatu ia langkahkan kakinya masuk kearea sekolah itu. Suara denyit sepatu kets yang ia pakai seakan-akan memecahkan keheningan ditempat itu. Ya tempat itu sepi, terlalu sepi malah. Karena ini memang sudah bukan jam sekolah, yang ada ditempat itu hanyalah wanita itu. Ia terus melangkahkan kakinya dengan amat perlahan, menggigit bibir bawahnya berusaha menahan air matanya.
Lalu ia berhenti disebuah koridor. Ia hanya berdiri disana berusaha mengingat sesuatu. Dalam pikirannya terdapat banyak suara, lalu tempat itu menjadi ramai. Air matanya kini tak dapat ditahan lagi. Satu persatu kenangan yang sudah lama ia simpan kini mulai kembali lagi, kenangan yang sangat ingin ia lupakan kini berputar diotaknya, seakan-akan ia kembali kemasa beberapa tahun yang lalu. Dimana ia berdiri dilorong dan berusaha melepaskan diri dari tarikan tangan sahabat perempuannya yang memaksanya untuk berkenalan dengan seorang lelaki.
*
“Ayolah Fy! Enggak apa-apa. Cuma kenalan aja kan enggak bisa bikin kamu mati.” Paksa seorang gadis berumur 13 tahun. Tangannya menggenggam erat tangan kanan Ify dan berusaha menariknya ke segrombolan anak laki-laki yang berada di depan ruang kela 7D.
“Enggak mau ah Via! Akukan enggak kenal dia, aku malu.” Tolak Ify dengan tampang memelas dan dengan sekuat tenaga berusaha melepaskan diri dari genggaman temannya.
“Aduh, makanya kalau enggak kenal, kenalan dong!”
“Enggak. Enggak. Enggak. Pokoknya aku enggak mau.” Kali ini dia mulai kesal dan memasang muka cemberut kepada temannya.
“Huh, dasar kamu Fy. Kalau begini caranya gimana kamu mau dapat pacar? Aku kenalkan ke salah satu cowok cakep di sekolah aja kamu enggak mau.” Akhirnya Sivia melepaskan genggaman tangannya dan melipat tangannya di dada.
“Habis aku kan enggak seperti kamu yang mudah banget berkenalan dengan cowok.” Balas Ify mencibir. Tangan kirinya mengusap-usap pergelangan tangan kanannya yang sakit karena tarikan tangan Sivia.
“Yasudah kalau gitu, tapi paling enggak kamu mau melihat wajahnya terlibih dahulu ya. Terus nanti kalau kamu berubah pikiran, kamu bilang sama aku. Nanti aku kenalin deh.” Sivia tersenyum dengan penuh arti. Kedua alisnya naik turun menggoda Ify.
“Baiklah, aku setuju. Memang orangnya itu mana sih? Paling juga biasa-biasa saja.”
“Yang ini beda.” Dari tempat itu Sivia mengarahkan jari telunjuknya kearah salah atu cowok. “Yang paling tinggi yang ganteng itu. Gimana? Cakep kan?”
Mata Ify mengikuti arah telunjuk Sivia. Arah itu tertuju pada sosok seorang cowok tinggi, tampan dan cowok itu tersenyum. Walau senyum itu bukan untuknya, tapi ia merasa darahnya mengalir deras, jantungnya berdetak sangat cepat. Ify hanya diam ditempat itu sambil menatap sang cowok seakan-akan ia tak mau melepaskan pandangannya. Ia merasa itu adalah senyuman termanis yang pernah ia lihat dan ia juga sadar kalau ia tak akan bisa melupakannya saat itu dan juga senyuman itu.
*****
Wanita itu menarik nafasnya lalu dihembuskan pelan-pelan. Ia menyeka air matanya lalu kembali melanjutkan langkahnya dengan perlahan. Ia berhenti tepat didepan sebuah papan pengumuman. Lalu ingatannya kembali lagi, suasana itu muncul lagi. Ia merasa berdiri ditengah kerumunan anak-anak sekolah yang berdesak-desakan. Mencoba untuk mencari tempat terdepan.
*****
“Woi, minggir-minggir!” Teriak Ify. Namun tak ada satupun orang yang mau minggir.
Karena kesal, ia mendorong anak-anak lain di depannya agar ia dapat melihat pengumuman yang barusaja dipasang di papan itu. Tangan kanannya menarik Sivia dan tangan kirinya menarik Shilla. Dengan susah payah akhirnya mereka bertiga berhasil juga berada di depan. Mereka langsung mencari nama mereka masing-masing diantara 6 lembar kertas yang tertempel di depan mereka.
“Gimana Shill? Udah ketemu belum?” Tanya Ify sekeras-kerasnya agar Shilla dapat mendengarnya. Suasana ditempat itu memang sangat ramai.
“Udah kok, aku masuk kelas 8-E. Sivia juga ketemu, dia masuk kelas 8-F. Kamu sendiri gimana? Nama kamu enggak ada dikelasku sama dikelas Sivia loh.”
“Yah berarti kita enggak sekelas dong” Mata Ify kini tertuju pada kelas 8-A matanya terus mencari dengan teliti baris per baris nama dari bawah ke atas. Lalu ia menemukan namanya di baris ke 9.
Hatinya sudah lega karena sekolah tidak lupa mencantumkan namanya seperti pikirnya tadi. Ia melihat siapa saja teman-temannya di kelas 8 nanti. Lalu matanya tertuju pada baris ke 24 Mario Stevano Aditya Haling itu berarti ia sekelas dengan cowok itu dan ia bisa mengobrol dengan rio. Cowok yang berhasil mengambil hatinya hanya dengan sebuah senyuman. Cowok yang membuatnya jatuh cinta dalam pandangan pertama. Cowok yang setahun ini ada didalam pikirannya. Lalu lamunannya terpecah karena tarikan tangan Sivia yang mencoba menarik Ify dari kerumunan itu.
“Gimana udah ketemukan?” Tanya Sivia penasaran. Ify hanya menganggukkan kepalanya.
“Yah berarti nanti kita enggak sekelas dong.” Keluh Sivia sedih.
“Enggak apa-apa kita kan masih bisa main bareng waktu istirahat.” Tukas Shilla. “Kamu sekelas sama siapa aja Fy?” lanjutnya
“Banyak. Dari kelas kita ada Angel, Agni, dan Acha. Kalau dari kelas lain ada Zahra, Cakka, Alvin, Rio. Pokoknya banyak deh.” Papar Ify.
“Apa? Cakka dan Rio?” pekik Shilla tiba-tiba. “Ya ampun. Kok yang nakal-nakal masuk ke kelas kamu semua? Kacau tuh kelas. Kasian banget wali nya ntar.” Lanjut Shilla
“Ih emangnya kenapa? Yang penting kan mereka cakep-cakep. Iya kan Fy?” tukas Sivia genit.
Lalu ia mengajak kedua sahabatnya itu pergi meninggalkan tempat itu menuju kantin. Hari itu mereka merasa sangat senang.
*****
Wanita itu melanjutkan langkahnya lagi. Kali ini ia berjalan melewati sebuah koridor yang dinding-dindingnya berwarna putih susu. Langkah kakinya bergema di koridor itu. Ia sampai di ujung lorong lalu ia membelokkan langkahnya ke kanan dan ia memasuki ruang kelas 8-A. Ia berjalan diantara kursi-kursi dan meja-meja yang tertata rapi, hingga sampai di deretan kursi pojok. Ia duduk di salah satu kursi yang ada di situ. Lalu pandangannya kosong.
*****
“Hei Fy, kamu kalo jalan-jalan itu sama siapa sih?” Tanya Rio iseng. Ia daritadi tidak memperhatikan guru yang sedang mengajar dikelas itu.
“Ya nggak sama siapa-siapa, palingan juga sama temen-temenku.” Jawab Ify sembari menulis.
“Kamu mau nemenin Yo?” Timpal Agni  yang duduk disebelah Ify.
“Iya. Mau. Hehehe” Rio tertawa. “Gimana Fy? Mau pergi sama aku?” lanjut Rio sambil menggoda.
“Nggak ah. Aku nggak mau jalan-jalan keluar sama cowok yang bukan pacarku.” Jawab Ify.
“Yaudah. Kalau gitu kamu jadi pacarku aja gimana?” kata Rio sambil senyum. Lagi-lagi senyuman itu, senyuman yang bisa membuat hati Ify luluh.
Ify kelabakan menanggapi Rio. Ia bingung. Sebenarnya Rio serius atau hanya ingin menggoda Ify. Rio dikenal sebagai playboy di sekolah, lagipula pikirnya tidak mungkin seorang Rio yang sebegitu cakepnya jatuh hati kepada seorang Ify yang biasa-biasa saja. Tiba-tiba Agni berteriak. Teriakannya itu mampu membuat seluruh kelas menoleh kepada mereka.
“Cieee…. Ify ditembak Rio lho!” serempak satu kelas menyoraki mereka. Muka Ify memerah. Bagaimana ini, ia ingung tapi sekaligus senang.
***
Wanita itu bangkit dari duduknya. Berjalan keluar kelas melewati aula yang terletak di lantai bawah bangunan masjid. Lalu ia berdiri di depan pintu sebuah ruang kelas. Ia menyibakkan rambutnya yang tertiup angin. Ia memejamkan matanya.
***
“Emangnya nggak apa-apa kita nggak ikut pengarahan?” Tanya Ify ragu kepada Rio yang duduk disebelahnya.
“Udah nggak apa-apa kok. Habisnya aku males sih.” Tukas Rio.
Saat itu suasana sekolah memang sepi, yang ada hanyalah beberapa anak kelas 1 dan 2. Sedangkan anak kelas 3 seperti mereka mengikuti pengarahan dari guru di lantai atas. Ify tersenyum lebar dan tiba-tiba ia berdiri lalu berjalan menuju keluar kelas tapi Rio menarik tangannya. Karena tarikan tangan Rio, badan Ify sedikit terhempas. Kini badan mereka berdua berhadapan. Mereka tertawa kecil lalu diam. Suasana menjadi hening. Kepala mereka berdua semakin mendekat. Ify merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Mereka berciuman. Jantung Ify berdetak kencang. Mukanya memerah. Ini adalah ciuman pertamanya. Ciuman pertama yang manis.
***
Dilanjutkan langkahnya menuju sebuah ruang kelas. Ia tak dapat membendung air matanya. Kelas itu dulu adalah kelasnya, kelas ditahun terakhirnya berada di sekolah itu. Kelas yang menyimpan banyak kenangan. Ia berjalan menuju kursi belakangyang tepat terletak di sebelah jendela. Itu adalah temoat Rio ketika ia duduk di kelas III SMP. Tempat favoritnya, karena dari sana ia bisa melihat langit yang biru.
***
“Heh Rio! Bengong aja. Ngeliatin apasih? Dari tadi aku liatin kayaknya sama sekali nggak merhatiin pelajaran.” Ify menggeser kursinya mendekati Riotepat setelah bel istirahat berbunyi.
“Langit.” Jawab Rio singkat sambil tersenyum. Senyuman favorit Ify.
“Hmm, aku cemburu. Langit lebih menarik daripada aku?” Ify nyengir menggoda Rio. Rio meletakkan tangannya kekepala Ify dan mengelus-elusnya. Rio tertawa.
“Aku suka langit. Aku pengen jadi langit. Jadi aku selalu tau dimana Ify berada. Apa yang dilakukan Ify.”
“Seperti stalker?” balas Ify mengangkat sebelah alisnya.
Rio tersenyum lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Ify, memasang wajah serius yang dibuat-buat. “Biar aku bisa selalu melindungi Ify yang cerobohnya kebangetan.”  Rio nyengir jahil dan menyubit hidung Ify, lalu bangkut dari duduknya.
“Rio” Ify menarik tangan Rio. Wajah Ify memerah karena malu.
“Tetaplah bersamaku. Selamanya.” Rio tersenyum.
“Pasti.”
***
“Masih disini.” Wanita itu berbicara lirih, mengusapkan jemarinya ke tulisan yang terukir di meja. RIO+IFY. Lalu airmatanya menetes kembali.
“Apakah kau bahagia?” Ucapnya sambil menatap langit biru.
Tempat ini menyimpan banyak kenangan milik mereka berdua. Wajah Rio, suara Rio, kehangatan Rio, dan semua tentang Rio yang tak dapat ia lihat dan rasakan lagi. Rio tidak main-main ketika ia bilang ingin melindungi Ify. Hampr tiga tahun yang lalu Rio meninggal dalam kecelakaan motor tepat dua hari setelah percakapan saat istirahat itu. Dia melindungi Ify dengan melemparkan dirinya kearah mobil supaya bukan Ify yang tertabrak. Kalau saja Rio tetap memegangi stang motor mungkin saja yang tertabrak adalah Ify.
“Aku akan melangkah walaupun perlahan dengan nyawa yang telah dilindungi olehmu.” Ucapnya lirih.
“Aku nggak pernah bisa melupakan waktu kita bersama. Tapi aku nggak akan pernah menyesal mencintaimu sampai sedalam ini.” Ify menyeka air matanya dan mencoba tersenyum sambil tetap memandang langit.
“Maaf aku nggak bisa nepatin janjiku untuk nggak menangis. Kenangan bersama Rio akan kujaga seumur hidupku. Aku bahagia pernah bertemu Rio. Aku bahagia pernah mencintaimu. Dan aku bahagia pernah dicintai olehmu. Rio, mulai sekarang teruslah menjagaku.”

End
Read More

Kamis, 26 April 2012

Aku dan Hujan *cerpen*

Hujan… Saat yang paling aku tunggu. Saat air turun dari langit, saat terdengar suara gemercik air yang mengenai genting, saat semua basah, semua tergenang air hujan.


Di sekolah aku dan teman-temanku terjebak hujan. Memang hujan saat itu cukup deras. Semua yang ada di sana mengeluhkan hal itu, berbeda dengan ku. Aku tersenyum dan merasa sangat bahagia. Karena aku bisa menatap hujan, dan karena hujan telah menahanku bersama dengan sahabat-sahabat terbaikku.


“Huuh… Gila ni ujan ga berhenti-berhenti. Mana nanti aku masih harus les lagi.” Rutu Keke sahabat terbaik dan terbawelku.


“Idiiih. Hujan asik gini.” Kataku tanpa menatap Keke. Tatapanku terus menatap ke depan. Tepat pada bunga-bunga bewarna merah muda berguguran. Indah sekali. Seperti bunga sakura yang berguguran di musim gugur.


“Liat deh Cha. Adik-adik kelas pada main ujan-ujan. Pada ga takut sakit kali ya.” Kata Keke


“Emm. Kalo mereka udah biasa ga mungkin sakit Ke.” Kata Deva yang juga sahabat baikku.


“Eh, kamu kok belum pulang?” tanya Keke ke Deva.


“Ujan gini, masak suruh pulang.” Kata Deva ikut menatap bunga yang ku tatap sedari tadi.


“Bunganya indah banget ya. Kayak bunga sakura di Jepang.” Kata Deva


“Iya. Sandainya kita bisa main-main di sana tanpa terkendala hujan. Pasti asik.” Kata Keke. Aku hanya mendengarkan percakapan mereka tanpa menanggapinya. Kebahagiaanku semakin bertambah setelah aku tau orang yang ku suka pun menunggu hujan reda di depan kelasnya. Tepat di sampingku. Rasanya ingin menyapanya, tetapi rasa malu juga ikut menyelimuti hatiku. Dengan segenap keberanianku, aku pun menyapanya.


“Hai.” Sepatah kata singkat kuucapkan padanya.


“Emm. Hai juga.” Katanya dingin. Sedikit aneh memang. Dia selalu dingin terhadap orang yang belum dikenalnya, tetapi sangat asik diajak berbicara kalo sudah kenal dekat dengannya. Itu kata Deva yang satu kelas dengannya.


“Kamu ngapain masih di sini?” tanyaku tanpa menatapnya. Sebetulnya aku udah tau jawabannya pasti nunggu hujan reda. Tapi dari pada cuma diem-dieman, ya udah aku tanya kayak gitu aja. Sekalian basa-basi.


“Nunggu hujan berhenti. Kamu sendiri?” Tanyanya ke aku. Baru sekali ini dia berbicara padaku. Begitu juga sebaliknya, aku juga baru sekali mengajaknya berbicara. Padahal aku suka dia sejak aku masuk SMP ini.


“Sama.” Jawabku singkat.


Suasana menjadi hening. Aku sibuk dengan pandanganku yang tak henti pada bunga merah muda itu. Dan dia sibuk dengan pandangannya ke adik-adik kelas yang bermain bola di tengah hujan yang cukup deras itu.


“Kamu siapa? Kita kan belum kenalan.” Kataku, sejujurnya aku sudah tau semua tentang dia. Mulai dari nama, tempat tanggal lahir, kakak dan adiknya, alamat rumah sampai benda-benda yang dia sukai.


“Aku Ozy. Kamu?” katanya bertanya balik.


“Acha. Kelas 9 apa?” tanyaku lagi. Memang sedikit aneh saat aku bertanya sesuatu yang memang aku sudah tau betul.


“9b. kamu?” katanya.


“9c. ujannya udah mulai reda. Aku pulang duluan ya.” Kataku berpamitan dan langsung mengajak Keke dan Deva menuju tempat les. Kita bertiga memang sudah bersahabat sejak lama. Kita satu tempat les, satu sekolah bahkan rumah kita satu komplek.


Di tempat les aku tidak terlalu memperhatikan pelajaran saat itu. Pikiranku hanya memikirkan kejadian lucu tadi saat di sekolah, sama sekali tidak memikirkan pelajaran saat itu, pelajaran yang sangat aku benci dan aku pun sangat lemah di pelajaran itu ‘MATEMATIKA’. Semua siswa sangat serius memperhatikan. Berbeda denganku dan Keke yang ada di sebelah ku. Sedari tadi aku hanya menulis-nulis di buku, entah aku menulis apa. Yang jelas terpampang namanya di buku tulisku itu. Sedangkan Keke sedari tadi hanya bermain HP. Lain lagi dengan Deva, dia sangat serius mencatat rumus-rumus dan semua pelajaran yang dijelaskan, maklum dia sangat suka dengan pelajaran ini.


“Cha, nulis apa si kamu?” kata Keke mencoba melihat tulisan yang aku buat.


“Ada deh.” Kataku menutupi tulisan itu.


“Huuh. Dasar Acha pelit.” Kata Keke meledekku, tetapi aku tak menanggapi kata-katanya. Karena saat ini aku memang sedang berbahagia, dan aku tak mau merusak kebahagiaan ku hari ini dengan menanggapi kata-kata Keke dan ujung-ujungnya kita akan saling mengejek.


Jam tepat menunjukkan pukul 4 sore, waktunya pulang dari les. Aku, Keke dan Deva pulang bersama diantarkan sopirku. Setiap les kita bertiga selalu pulang bersama dan sopir yang mengantar kami pulang pun selalu bergantian. Kita bertiga les setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu. Hari Selasa sopirnya Keke, hari Kamis sopirnya Deva, dan hari ini, hari Sabtu sopirku.


Saat di perjalanan pulang, aku melihat seseorang yang sangat tidak asing untukku. Ozy, ya orang yang berjalan pelan di pinggir jalan itu tak lain dan tak bukan adalah Ozy. Hatiku seperti penuh sesak oleh bunga dan jantungku berdetak lebih kencang. Akupun langsung meminta sopirku untuk berhenti di dekat Ozy. Aku menyuruh Deva untuk mengajaknya pulang bareng. Deva pun langsung keluar dari mobil dan mengajaknya pulang bareng dengan kita.


“Zy, mau kemana lo?” tanya Deva.


“Balik. Lo sendiri?” tanyanya balik, ternyata Ozy orangnya memang sangat tertutup. Persis seperti yang aku tulis di buku ku yang sampulnya tertulis besar ‘SEMUA TENTANG DIA’. di buku itu banyak tertulis tentang Ozy.


“Bareng gue aja yuk. Kita kan searah.” Ajak Deva.


“Ga usah takut ngerepotin.” Kata Ozy singkat. Aku yang melihat dan mendengar itu semua langsung keluar dari mobil dan ikut memaksa Ozy untuk mau pulang bareng.


“Hai. Kita ketemu lagi. Kamu mau kemana? Kok kayaknya buru-buru banget? Bareng kita aja.” Ajakku. Entah kenapa mulutku terasa sangat mudah mengucapkan kata-kata itu ke Ozy. Kata-kata terpanjang yang pernah aku ucapkan untuknya.


“Mau pulang. Aku ga buru-buru banget kok. Kalo bareng aku takut ngerepotin kalian. Lagian kita belum tentu satu arah.” Kata Ozy padaku, itu kata-kata terpanjang yang pernah Ozy katakan padaku. Ozy menatapku. Ya Tuhan, jantungku serasa ingin lepas dan rasanya aku sedang melayang-layang di terbangkan angin yang lembut.


“Ga ngerepotin kok. Kita kan juga pengen tau rumah kamu. Ayolah.” Ajakku lagi. Mataku tak bisa beranjak. Tatapanku terus terarah kearah Ozy. Dan, setetes air jatuh ke telapak tanganku. Ya, hujan kembali datang dan membuatku tambah bahagia.


“Ya udah kalo gitu aku mau. Lagian ini juga udah mau ujan.” Kata Ozy akhirnya setuju.


“Gitu napa dari tadi.” Kata Deva manyun.


“Woy, ayo cepetan. Udah mau ujan.” Kata Keke yang dari tadi hanya di dalam mobil.


Selama di mobil suasana sangat hening, semua sibuk dengan urusannya masing-masing. Aku sibuk memandangi Ozy, dan sibuk mengalihkan pandangan saat Ozy merasa aku memandanginya. Keke sibuk dengan headset yang udah di pasang dikupingnya. Deva, entah dia sibuk apa. Dan Ozy, dia hanya memandangi jalan dan memberitau arah pada sopirku. Mobil yang aku tumpangi ini rasanya seperti mobil yang kosong tanpa penumpang. Semua yang ada di sana hanya terdiam. Mungkin hanya sesekali ada suara pangeranku yang memberitau arah kanan atau kiri atau lurus saja.


“Sepi amat sih. Ga betah banget aku. Ayo donk pada ngomong.” Kataku memecahkan kesunyian, dengan penuh harap agar Ozy yang menanggapi omonganku tadi itu.


“Ni udah ngomong. Ini kan baru ujan, jadi ga mungkin sepi kan buat kamu.” Kata Deva cengengesan. Tidak sesuai harapanku. Deva dan Keke memang sudah tau kalo aku suka banget sama Ozy. Jadi saat Deva menanggapi omonganku tadi dia sambil cengengesan. Dasar Deva nakal *plakk… dipukuli DS.


“Ya udah sekarang kamu ngomong sendiri aja. Kan nanti jadi rame.” Kata Ozy. Dalam hati aku seneng banget dia ngomong ke aku lagi. Tapi di lain sisi aku pengen mukul dia pake sepatu yang aku pake, masak aku suruh ngomong sendiri emang aku gila apa. Idiiih.

“Idiiiih, gila donk aku.” Kataku singkat.


“Pak udah sampe sini aja pak. rumah saya tinggal di depan situ kok pak.” kata Ozy sambil menunjuk ke arah rumah yang cukup luas.


“Thanks ya semua.” Katanya lagi dengan senyuman yang sangat bisa membuatku melayang sampai ke langit ke sembilan #tujuh kurang.


“Masama.” Jawabku singkat dan hanya aku yang menjawab perkataan Ozy tadi.


Setelah mobilku meninggalkan rumah Ozy, kita semua langsung menuju ke komplek rumahku. Suasana hening kembali. Keke tertidur pulas di kursi samping sopir. Aku seperti biasa, menulis sebuah tulisan di buku ‘SEMUA TENTANG DIA’. Deva hanya memandangi jalanan yang basah karena hujan.


Selesai menulis aku ikut memandangi jalan. Semua basah, semua tergenang air. Banjir dan macet. Itu yang terjadi sekarang. Hujan masih turun rintik-rintik. Ku buka jendela mobil dan menghirup udara yang masih berbau tanah, udara dingin pun ikut kurasakan. Ku rasa perjalanan menuju rumah akan memakan waktu banyak. Dan yang pasti ku rasakan hari ini sangat melelahkan, tetapi hari ini hari yang sangat berkesan untukku. Aku pun menutup jendela mobil dan mulai mengikuti hal yang Keke lakukan, tidur.


Beberapa hari setelah kejadian yang mengesankan itu terjadi. Aku melakukan semua kegiatan seperti biasa. Tak ada yang aku ubah. Semua berjalan seperti biasa. Seperti kehidupanku yang semula. Hanya ada aku dan sahabat-sahabatku. Setiap istirahat tak pernah berhenti aku mencari informasi tentang pangeranku itu dengan sembunyi-sembunyi, jangan sampai dia mengetahui itu. Mungkin kegiatan itu akan aku lakukan selama aku masih menjadi siswa di SMP ini. Dan mungkin akan terjadi lagi di SMA kalo kita sama lagi di SMA. Tapi aku harap dia bisa tau dan peka terhadap perasaanku itu. Semoga.


“Cha, ada kabar gembira.” Kata Deva mengagetkanku. Dan berhasil membuat Keke sewot.


“Kamu ni kenapa si kalo ga ngagetin? Untung kita ga punya penyakit jantung. Coba kalo jantung kita copot. Mau nuker apa?” kata Keke sewot. Aku hanya tertawa melihat tingkah Keke.


“Hahahaha… aku ke sini tu bawa kabar gembira.” Kata Deva tertawa.


“Kabar gembira buat siapa?” tanyaku


“Buat kamu. Aku udah dapet nopenya Ozy.” Kata Deva. Akupun langsung berdiri, tersenyum dan bahagia sekali. Satu informasi yang paling aku butuhkan. Deva memang sahabat terbaikku dah, setelah Keke. Heheee


“Bagi donk.” Kataku mengemis kepada Deva.


“Es krim conello satu.” Kata Deva.


“Enak aja. Kalo pake syarat mending kita minta sendiri aja.” Kata Keke yang masih sewot dengan Deva.


“Minta aja kalo berani.” Kata Deva. Aku dan Keke langsung meninggalkan Deva yang masih duduk di bangku kantin pojok. Kami berdua langsung menuju kelas 9b yang berada di atas, di samping kelasku. Di sana dapat ku lihat Ozy duduk dengan buku di tangannya. Dia terlihat seperti sedang menulis. Aku dan Keke langsung menghampirinya. Rasa malu kembali menyelimutiku. Apa ini yang akan selalu aku rasakan setiap bertemu dengannya? Aduuh, keringat mulai membasahi tanganku. Tanganku mendadak menjadi dingin. Kenapa ini? Tanyaku pada diriku sendiri. Tapi aku tak menemukan jawaban untuk pertanyaan itu. Satu yang kuharapkan sekarang. Hujan datanglah, hibur aku dengan suara gemercik mu.


“Ngapain kalian ke sini?” tanyanya ke aku dan Keke.


“Emm, ini aku cuma nganter Acha. Dia katanya mau minta nopemu.” Kata Keke ngasal. Aku yang merasa sangat malu langsung menginjak kaki Keke dan berbisik ‘gila lo Ke’. Keke hanya membalas dengan senyuman tak bersalahnya.


“Oooow. Tadikan aku udah kasih ke Deva. Kalian minta aja ke dia.” katanya

.

“Deva nya pelit.” Kataku singkat.


“Ya udah, kamu catet gih. 085*********.” Katanya memberi senyuman dan nopenya ke aku. Sungguh bahagia hari ini. Bunga-bunga muncul kembali di hatiku.


“Thanks ya.” Kataku dan langsung berlalu keluar kelasnya Ozy. Keke hanya mengekorku saja.


Hari demi hari ku lalui dengan rasa bahagia selalu. Musim hujan sudah hampir berakhir. Ku harap kedekatanku dengan Ozy tak akan berakhir. Aku dan Ozy memang menjadi lebih dekat sejak saat itu. Tapi aku tetap tidak melupakan Keke dan Deva yang banyak membantuku itu. Mungkin hujan hari ini adalah hujan terakhir untuk musim hujan tahun ini. Semoga musim hujan tahun depan lekas datang.


Satu hari sebelum ujian tengah semester. Panas terik matahari membakar kulitku. Aku sangat benci dengan keadaan ini. Rasanya sangat malas keluar dari ruangan. Tapi kalo aku di dalam ruangan terus rasanya pengap. Serba salah, itu yang aku benci. Tengah pelajaran yang membosankan, aku dan Keke meminta izin pergi ke kamar mandi. Izin palsu, kami berdua pergi ke kantin. Kami membeli minuman dingin. Lumayan, minuman dingin itu dapat membuat badan kami segar kembali. Tapi, Ooo…. Ada dua orang yang ada di hadapan kami. Ozy dan Deva, mereka memergoki kami bolos pelajaran. Memang agak sering aku dan Keke membolos pelajaran. Dan semua sudah tau itu.


“Hayoo, bolos lagi ya?” goda Ozy. Benar kata Deva, Ozy orangnya asik diajak ngobrol kalo udah kenal deket.


“Hehehe, kalian juga. Bosen banget di kelas.” Kataku, rasa malu yang selalu menyelimuti hatiku itu sekarang sudah mulai menghilang. Semua itu karena sahabatku.


“Ga kok, lagian kita kan cuma mau lewat sini aja.” Kata Deva ngeles. Ada satu hal yang sering sekali aku perhatikan, Keke. Setiap ada Deva, pasti mata Keke berubah menjadi lebih bersinar dan dia selalu terlihat ingin tersenyum, tetapi senyumannya selalu tertahan di ujung bibir saja. Aku selalu memperhatikan itu. Sudah lama ku perhatikan tetapi tak satu jawaban untuk menjawab pertanyaanku. Kenapa Keke? Ada apa dengannya? Pertanyaan yang sudah lama ada di benakku.


“Udah yuk Cha, kita ke kelas aja.” Ajak Keke. Dan kita berdua langsung meninggalkan Ozy dan Deva.


Ujian tengah semester pun berakhir. Itu artinya, waktuku untuk belajar sebelum Ujian Nasional tinggal beberapa bulan saja. Aku harus lebih rajin dan giat belajar. Beberapa teman-temanku juga melakukan hal yang sama denganku, belajar giat. Aku, Keke dan Deva juga semakin sering belajar kelompok bersama, memang kurang seru rasanya tanpa ada Ozy.


Terdengar gosip, entah benar atau tidak. Gosip itu mengatakan bahwa Ozy akan pindah ke Makassar setelah lulus SMP ini. Rasa takut kehilangan Ozy muncul di setiap ruang di hatiku. Mungkin terlalu berlebihan. Tapi memang itu yang aku rasakan sekarang. Aku sekarang lebih menjaga jarak dengan Ozy. Rasanya memang sangat berat untuk mencoba menjaga jarakku dengan Ozy. Tapi ini aku lakukan agar aku terbiasa dengan keadaan jauh dari Ozy. Hanya Keke yang tau mengapa aku menjadi seperti ini. Karna dia, bisa dibilang tempat sampahku. Setiap ada masalah, aku pasti cerita kepada Keke. Begitu juga sebaliknya, aku juga tempat sampahnya Keke. Mungkin Ozy dan Deva sudah merasa aneh dengan sifatku ini. Mereka berdua sering menanyakan tentang hal ini. Tapi aku tak akan memberi tau mereka sekarang, akan ku beritau kalau waktunya sudah tepat.


Di kantin sekolah


“Cha, aku mau ngomong sama kamu bentar. Boleh ga?” tanya Ozy.


“Boleh, ngomong aja.” Kataku mencoba cuek. Tapi tetap tak bisa. Mataku tetap ingin memandangnya.


“Ayo ikut aku.” Kata Ozy sambil menarikku. Ingin ku melawannya. Tetapi tenagaku tak kuat untuk melawannya. Semua yang ada di pikiranku selalu berkebalikan dengan semua yang ada di hatiku. Apa yang terjadi ini? Tuhan tolong aku…


Di bangku taman sekolah. Di atasku tepat terdapat pohon bunga yang berwarna merah muda yang sangat indah itu. Satu-satunya pohon yang aku sukai di sekolah ini.


“Cha, kamu sekarang kenapa jaga jarak banget sama aku Cha? Emang aku salah apa sama kamu?” tanya Ozy merasa bersalah.


“Kamu ga salah apa-apa kok. Cuma aku baru pengen gitu aja.” Kataku. Airmataku terbendung di kelopak mataku. Ku harap airmata ini tak jatuh sekarang. Jangan sekarang. Aku ingin air langit jatuh dan membasahi bumi gersang ini. Tapi sayang, aku bukan pengendali hujan. Air langit itu tak akan jatuh di musim kemarau ini.


“Mulutmu bisa berbohong Acha. Tapi matamu, ga akan pernah bisa bohong. Aku bisa liat kesedihan dan ketakutan yang teramat di matamu itu. Jujur aja Cha sama aku.” Kata Ozy penuh perhatian. Kali ini mengapa airmataku jatuh bercucuran. Sudah tak bisa ku tahan lagi airmata itu. Mungkin memang ini saatnya aku jujur. Saatnya aku memberanikan diri mengungkapkan segala yang aku rasakan selama ini.


“Iya Zy. Aku emang baru sedih banget. Aku takut kehilangan pangeranku. Pangeran yang sejak lama aku nanti. Semua orang mengatakan pangeran itu akan pergi jauh. Aku takut dia ga kembali lagi. Tapi kalo itu yang memang harus terjadi, aku ga bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa menerima kenyataan pahit itu.” Kataku dengan muka yang penuh airmata. ‘dan pangeran itu adalah kamu Zy.’ Lanjutku dalam hati.


“Pangeranmu ga akan pergi kemana-mana kok Cha. Dia pasti akan selalu di hatimu. Selama kamu masih mau menjaga hatimu untuk pangeranmu itu.” Kata Ozy. Aku tak berani menatap Ozy. Tapi kalo aku terus menunduk, dia bisa tau kalo aku suka sama dia. aku ga mau itu terjadi. Belum waktunya.


“Semoga. Ku harap dia ga pergi.” Kataku miris.


“Pangeranmu itu ga akan pergi ke Makassar, Acha. Dia bakalan terus ada buat kamu.” Kata Ozy. Aku kaget, kenapa dia tau kalo pangeranku itu adalah dia. wajahku langsung terangkat. Kutatap Ozy dengan penuh tanda tanya. Bunga merah muda berguguran tertiup angin. Suasana menjadi sangat indah. Aku harap angin ini membawa air langit kemari.


“Kamu pasti kaget. Aku udah tau itu sejak lama. Deva yang kasih tau aku. Saat itu aku juga kaget dengernya. Rasanya tak mungkin kamu bisa suka sama aku. Kamu kan orang yang bisa dibilang dari golongan atas. Kenapa bisa suka sama aku yang notabene dari golongan bawah? Itu aneh aja untukku.” Kata Ozy. Di sudut bibirnya terdapat senyuman kecil. Tapi senyuman itu sangat bermakna untukku. Rasa malu menyelimutiku kembali.


“Menurutku, aku suka sama orang itu ga mandang materi. Mau dia kaya, mau dia miskin, mau dia gimana pun. Tapi kalo aku suka ya udah, apa boleh buat.” Kataku asal jawab. Biar lah asal jawab, masuk akal ga masuk akal terserah dah. Yang penting aku jawab pertanyaan itu. Setelah aku menjawab pertanyaannya itu, Ozy terlihat hanya menunduk. Entah mengapa, tapi aneh saja. Dia tak biasa seperti itu. Rintikan hujan mulai kurasakan. Senyuman ku mulai berkembang kembali. Terimakasih Tuhan kau kabulkan doaku.


“Sama Cha. Aku juga suka sama kamu. Tapi aku ga pernah berani ngungkapin itu. Mungkin aku terlalu penakut.” Katanya. kata-kata yang sangat aku tunggu-tunggu sejak awal masuk SMP dulu. Kata ‘aku juga suka kamu’ terngiang-ngiang di telingaku. Rasanya hatiku bermekaran penuh bunga, jantungku berdetak sejuta kali lebih cepat. Senang sekali aku hari itu.


“Ga kok Zy. Kamu bukan penakut. Kalo kamu penakut, terus aku apa? Aku juga sama. Aku juga ga berani ngungkapin perasaanku. Sekarang kita masuk yuk. Hujan udah mau dateng. Kita ke atas aja yuk.” Ajakku dengan senyuman. Ozy mengangguk dan langsung menggandeng tangan kananku. Aduuuh, serasa terbang di angkasa.


“Kita langsung ke tempat kita awal kenalan aja ya. Di depan kelasku.” Kata Ozy. Ya Tuhan, ternyata dia masih ingat tempat itu. Tempat di mana aku bisa menatap hujan dan bunga-bunga yang berguguran. Senangnya aku hari ini.


Di atas, di depan jendela kelas 9b Keke dan Deva sudah menungguku dan menunggu Ozy. Mereka juga terlihat sangat bahagia. Mata Keke, seperti biasa setiap ada Deva. Bersinar dan terlihat senyuman di ujung bibirnya. Tapi senyuman itu kini sudah tak tertahan lagi. Ku lihat tangan mereka bergandengan. Ya, tangan Keke dan Deva bergandengan. Apa mereka? Sudah ah, dari pada larut dengan perasaan penasaran langsung saja ku tanyakan.


“Kalian tumben gandengan. Jangan bilang kalo kalian…” kata-kataku terpotong.


“Iya bener.” Kata Deva singkat.


“Selamat ya. Waah, kembar ni ceritanya.” Kata Ozy. Kembar? Apa maksud nya? Entah apa maksudnya. Tapi saat Ozy bilang kembar Deva dan Keke langsung tertawa dan mengucapkan kata selamat ke aku dan Ozy. Mataku langsung memandang Ozy, menandakan aku tak mengerti dengan semua ini.


“Maksud aku. Kita jadiannya bareng.” Kata Ozy. Ha? Apa? Jadian? Tak mengerti aku maksud semua ini.


“Kan kita belum…” lagi-lagi kataku terpotong. Aku benci itu.


“Kan kita udah bilang sama-sama suka. Hahaha….. ya udah, Acha kamu mau jadi cewe ku ga?” kata Ozy ngakak. Aku kesal dengan itu.


“Ga.” Kataku langsung pergi ke dalam kelas ku.


Keke, Deva dan Ozy hanya heran melihat tingkahku. Mereka mengejarku masuk ke dalam kelas. Di kelas ku tulis besar-besar di sebuah sobekan kertas. ‘GA BISA BILANG GA’. Semua yang ada di situ tertawa. Kecuali Ozy, dia terlihat manyun. Mukanya lucu sekali. Manyun tapi mukanya merah. Hahahaa… aku pun ikut tertawa.


Ternyata gosip Ozy akan pergi ke Makassar itu benar-benar salah. Ozy tetap melanjutkan sekolah di kota ini. Ujian Nasional sudah ku tempuh. Semua berjalan dengan lancar. Sesuai harapanku. Aku, Keke, Deva dan Ozy lulus dengan nilai yang bagus. Nilai yang sangat bisa di banggakan. Kita berempat berencana masuk ke SMA yang sama. Mungkin sudah suratan takdir, kita selalu bersama. Bersama dengan sahabat dan orang yang kita sayangi, hal yang paling indah di dunia. Mulai sekarang dan seterusnya, aku tak akan menyia-nyiakan hidup ku ini. Hidup yang sangat sempurna ini. Semoga kita semua akan selalu bersama, dalam suka ataupun duka. Aku sayang kalian sahabatku. Aku sayang kamu pangeranku.
Read More

Rindukan Dirimu *cerpen*

Siang itu mendung tebal menyelimuti langit. Sepertinya hujan deras akan turun sebentar lagi. Di dalam kamar mulai kurasakan hawa dingin, mulai kudengar gemercik air. Sial, hujan deras itu benar-benar datang. Itu berarti aku harus tetap di rumah, aku tidak bisa bermain keluar rumah. Tidak bisa bertemu dengan sahabat-sahabat baikku. Itu sangat membosankan.



Di sini aku tinggal bersama nenekku. Aku juga mempunyai dua sahabat baik. Mereka bernama bernama Rio dan Ray. Aku selalu bermain dengan mereka berdua. Bahkan kalo di sekolah banyak yang bilang dimana ada aku pasti ada Rio dan Ray, begitu sebaliknya.

Di depan jendela kamar aku hanya duduk memandangi hujan yang turun dan menari-nari begitu saja tanpa merasa bersalah. Semua benda basah terkena air hujan. Tiba-tiba terdengar suara teriakan nenek memanggilku dari lantai bawah.

“Alvin…” Teriak nenek.

“Iya Nek..” Jawabku langsung berlari ke bawah.

“Minggu depan kamu harus sudah siap berangkat ke Malang.” Kata nenek sesampainya aku di bawah.

“Nenek… Alvin gak mau ninggalin kota Jakarta ini. Alvin gak mau ninggalin sahabat-sahabat Alvin.” Tolakku. Hujan di luar bukannya semakin reda, tetapi tambah deras.

“Alvin.. nenek tau, kamu sayang banget sama Rio sama Ray. Tapi kamu juga harus pindah ke Malang. Kamu harus menemui kedua orang tuamu di sana. Besok kalau kamu udah besar, nenek janji Alvin boleh banget balik ke Jakarta lagi.” Paksa nenekku. Aku tak menghiraukan kata-kata nenek tadi. Tanpa menjawabnya, aku langsung berlari keluar rumah.

Hujan yang semakin deras itu tak menghalangiku untuk berlari ke bangku sebuah taman. Dingin menusuk tulangku, tapi itu tak kurasakan. Aku duduk di bangku taman tempat aku, Rio dan Ray sering bermain. Aku menangis di sana.

Tuhan. Aku belum siap ninggalin kota ini. Aku belum mau meninggalkan sahabat-sahabatku. Dan mungkin aku gak akan mau ninggalin sahabat-sahabatku itu. Sebuah kaleng pun menjadi korban kemarahanku. Aku duduk di taman yang sangat sepi itu. Tak ada seorangpun yang datang ke taman itu.

“Jangan nangis Alvin. Kamu cowo. Kamu gak boleh nangis.” Kataku sendiri sambil menghapus air mataku.

Lama aku duduk menangis di taman itu. Hujan masih terus mengguyurku dan bumi gersang ini. Aku pun beranjak dari tempat dudukku. Aku mulai berjalan menyusuri taman itu. Aku berjalan menuju rumah Rio. Rumah Rio lah yang paling dekat dengan taman dibanding rumahku dan rumah Ray. Pusing yang sangat mulai kurasakan. Wajahku pun mulai memucat. Ku percepat langkah kaki ini. Jarak menuju rumah Rio masih sedikit lagi. Ayo Alvin kamu kuat.

Sesampainya di rumah Rio. Ku ketuk pintu rumah yang sangat besar itu. Dengan harapan cepat ada yang membuka pintu itu.

“Ya Tuhaan.. Alvin. Kamu ngapain hujan-hujan. Ayo masuk.” Kata Rio yang baru saja membukakan pintu. “Kamu sekarang ganti baju dulu. Pakai baju ku terserah yang mana. Terus nanti aku buatin minuman anget.” Sambungnya, muka Rio terlihat sangat khawatir.

Aku hanya duduk di ruang tamu rumah Rio dengan handuk kecil yang terkalung di leherku. Rasanya dingin sekali hari ini. Kepalaku semakin pusing. Tanpa ku sadari Rio telah membawakan segelas minuman hangat dan satu set baju untukku. Dia memang baik sekali.

“Yo,” panggilku lemah. Rio pun menoleh ke arahku. “Thanks ya Yo. Kamu baik banget,” kataku lagi. Kalau begini baiknya sahabat-sahabatku ini, mungkin aku tidak akan pernah tega mengucap kata pamit ke mereka.

Setelah minuman hangat itu ku habiskan dan baju itu aku pakai. Aku disuruh istirahat di kamar Rio.

Selama seminggu setelah kejadian itu. Aku, Rio, dan Ray selalu bermain bersama. Aku ingin menghabiskan waktu-waktu terakhirku di kota ini bersama dengan sahabat-sahabatku itu. Hari ini aku berangkat ke Jogja, tetapi aku belum berpamitan dengan sahabat-sahabatku.

Untuk terakhir kalinya aku mendatangi taman tempat kami bertiga biasa bermain. Dengan harapan di hari Minggu yang cerah ini Rio dan Ray sedang bermain di sana. Dan aku bisa berpamitan dengan mereka. Semoga janji nenek itu benar. Aku bisa kembali ke sini kalau aku sudah besar nanti.

Di taman, terlihat Rio akan memberi surat kepada seorang perempuan. Surat itu aku rebut dan ku baca keras-keras. Rio terlihat sangat marah dan pergi meninggalkanku. Memang aku salah, Ray juga ikut pergi meninggalkanku. Itu artinya aku tidak bisa berpamitan dengan kedua orang yang selalu menghiburku. Aku pun pergi meninggalkan taman dan langsung menaiki mobil yang akan membawaku pergi ke Malang.

Saat mobilku melaju meninggalkan rumahku. Aku melihat Rio berlarian mengejar mobilku. Sepertinya dia mengatakan sesuatu. Tapi aku juga tak bisa menghentikan mobil yang melaju sangat cepat ini. Maafkan aku sahabatku.

Sesampainya di Malang, aku tak akan melupakan kedua sahabat sejatiku itu. Di sana aku tinggal bersama kedua orangtuaku dan dua orang kakak perempuanku. Tapi rasanya tetap saja sepi, tak ada sahabat yang menemaniku. Orangtuaku sibuk bekerja, kakak-kakakku sibuk dengan urusan masing-masing.

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Sekarang aku sudah berumur 18 tahun. Kata nenek, aku sudah boleh pergi ke Jakarta menemui sahabat-sahabatku. Rasanya sungguh bahagia hatiku saat itu. Setelah nenek memperbolehkanku, aku langsung meminta izin kepada orangtuaku dan kepada kakak-kakakku. Mereka juga mengizinkanku pergi ke Jakarta. Dan mereka juga mengizinkanku tinggal di rumah nenek yang di Jakarta. Lengkap sudah kebahagiaanku hari ini.

Aku langsung mengemasi barang-barangku. Semua sudah masuk ke dalam koper besar. Aku ke Jakarta dengan menggunakan mobil, tanpa di temani siapapun.

Setelah satu hari satu malam di dalam mobil. Akhirnya aku sampai di depan rumah nenek. Rumah itu masih terawat. Entah siapa yang merawatnya. Aku langsung masuk dan beres-beres di dalam rumah. Selesai berberes-beres dan membersihkan badan aku berniat akan pergi ke taman tempat dulu aku, Rio, dan Ray sering bermain.

Baru keluar dari pagar rumah. Ada seseorang menepuk bahuku dan memanggil namaku. Aku langsung menoleh. Sepertinya aku kenal wajah-wajah dua orang yang sekarang ada di hadapanku ini.

“Vin, kamu masih inget aku kan? Masak kamu lupa?” kata salah seorang dari mereka.

“Kalian siapa? Kalian kenal aku?” kataku masih berfikir. “Ya ampun. Kalian Rio sama Ray kan?” sambungku saat aku sudah mengingatnya.

“Bener banget. Kamu kemana aja? Kok kamu ngilang tanpa ada kabar?” tanya Ray yang tidak meninggalkan ciri khasnya. Rambut gondrong.

“Maafin aku ya. Aku gak pamitan dulu sama kalian. Waktu itu aku mau pamitan, tapi Rio marah sama aku. Ya udah, aku gak jadi pamit sama kalian,” kataku sambil memeluk kedua sahabat-sahabat terbaikku itu.

“Kamu gak salah kok. Aku yang salah waktu itu pakai acara marah-marah segala. Sekarang senyum donk Alvin yang murah senyum itu mana?” kata Rio menyalahkan dirinya dan mencoba menghiburku. Rio masih sama seperti dahulu, dia masih tetap menjadi anak yang paling rapi pakaiannya diantara kita bertiga.

“Udah, di sini gak ada yang salah. Kita sekarang ke taman yuk. Main-main kayak dulu lagi.” Ucap Ray menengahi.

Mulai saat itu aku bisa kembali berkumpul dengan sahabat-sahabatku. Ternyata benar kata orang-orang bahwa semua akan indah pada waktunya.
Read More

Welcome to my little world

Diberdayakan oleh Blogger.

Temukan Aku di...

Followers

© Bienvenue, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena