Welcome to my little world

Sabtu, 04 Mei 2019

Kereta itu Akan Tetap Datang

Yogyakarta, 4 Mei 2019

Kamu tampan sekali dengan jaket biru itu. Aku membelikannya karena aku tau seberapa sukanya kamu dengan warna itu. Kalau boleh jujur sebenarnya aku sudah ingin memberikannya sejak lama, sejak pertama kali aku melihat jaket itu di toko baju. Sering kubayangkan akan bagaimana jika kamu menggunakannya. Dan akhirnya kesampaian juga.

Sayang sekali kamu sudah harus pergi hari ini. Tapi tidak apa-apa, setidaknya sekarang aku masih bisa berbincang denganmu. Karena kalau ada yang bertanya apa yang membuatku bahagia, aku akan menjawab dengan cepat "ya seperti ini." tanpa berpikir ulang. Berdua denganmu, menghabiskan waktu embicarakan apa saja. Meluangkan waktu dengan melihatmu dan mendengar suaramu selama mungkin aku bisa.

Semua menyenangkan, sangat menyenangkan. Dan mungkin akan terus menyenangkan kalau kita tidak ingat bahwa bisa jadi ini yang terakhir. Bisa jadi setelah ini aku tidak bisa menjemputmu lagi atau mengantarmu lalu menemanimu menunggu kereta seperti ini lagi. Bisa jadi suaramu ini akan menjadi suara yang paling aku rindukan. Terutama sejak sebagian besar orang di sekitarku memintamu untuk menjauhiku.

Kita tidak ditakdirkan bersama, kata mereka. Terlalu jauh bedanya. Aku jawa tulen, well kamu jawa juga tapi campur. Aku pergi ke Masjid dan kamu pergi ke tempat ibadamu, yang sampai sekarang aku belum pernah ikut mengunjunginya. Ini aku bukan rasis ya apalagi SARA. Ini sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi. AKu tidak akan bersembahyang di tempat ibadahmu, dan kamu pun tidak akan bersembahyang di Masjidku. Untuk apa diteruskan kalau sudah tau hasilnya kita berdua tidak akan melangkah kemana-mana. Begitu bukan, kata mereka?

Kamu tau? Itu pahit, sekaligus sakit. Tapi mereka benar. Aku tau itu, kamu juga tau itu. Orang-orang lain mungkin akan berkata memiliki pasangan beda agama itu tidak apa. Tapi kita juga sama-sama tau, bahwa tanggung jawab kita kepada Tuhan jauh lebih besar daripada tanggung jawab kepada manusia. Kenapa harus mengorbankan agama hanya karena cinta kepada manusia?

Mungkin jauh di luar sana, ada banyak yang mendukung kita untuk terus bersama. MUngkin jauh di luar sana, banyak yang tidak seperti orang sekitar kita yang terus menentang kita. Peduli apa tentang KUA? Ada pernikahan melalui pengadilan agama, atau menikah saja di luar negeri, atau kumpul kebo saja sekalian. Cinta harusnya melepaskan diri dari agama. Seharusnya cinta itu membebaskan. Tidak peduli agama, warna kulit, ataupun usia. Mungkin seperti itu yang mereka di luar sana akan katakan. Kira-kira.

Bisa jadi mereka ada benarnya. Cinta itu harusnya membebaskan. Tapi bukankah kebebasan pun harus ada batasnya? Semua orang bebas mengendarai kendaraan, tapi saat lampu lalulintas menyala merah maka semua harus patuh dan berhenti. Kenapa? Agar tidak ada kecelakaan. Semua menuntut kebebasan yang mutlak. Lantas kenapa tidak asal masuk saja ke rumah orang tanpa ijin. Itu bebas, hanya saja itu tidak benar. Bagaimanapun tidak ada yang namanya kebebasan mutlak. Karena kebebasan mutlak itu justru akan mencelakakan Kebebasan pun memang sudah seharusnya ada batasannya agar tidak merusak, baik merusak kita maupun orang yang ada di sekitar kita.

Salah satu dari kita bisa saja berkorban, meninggalkan kepercayaan kita, agama kita (tapi sepertinya tidak ada satupun dari kita yang mau melakukannya). Dan kalaupun ada salah satu yang rela melakukannya, apakah keluarga kita rela? Berarti kebahagiaan jika kita bersama, harus dibayar dengan luka  keluarga kita? Luka bahwa kita menjauh dari mereka? Aku tidak mau. Aku un tau kamu jiga tidak akan mau. Pada satu masa, bisa saja kita tertawa bahagia, bersenang-senang, tapi keluarga kita tidak akan rela.

Dan di sinikah kita. Duduk berdua, menunggu kereta. Kereta yang tidak hanya membawa pergi tubuhmu, tapi juga akan membawa perasaan kita untuk selamanya. Untuk membawa pergi dan menghilangkan "kita".

Pada kenyataannya, sampai sekarang kita masih sanggup untuk tetap saling berbicara, tertawa, meski luka kita terlalu dalam sejak entah kapan itu. Bisa jadi memang kita ini terlalu panda berpura-pura atau memang sedang berusaha mati-matian untuk mencoba menikmati kebersamaan (yang mungkin) terakhir kalinya.

Sampai akhirnya, tiba-tiba kita terdiam, saling memandang. Dan saat itu juga, entah darimana datangnya sakit yang bertubi-tubi ini. Peristiwa beberapa hari yang lalu menyerang ingatan seperti samurai yang terbuat dari kata-kata. Merusak kebersamaan yang baru saja kita nikmati berdua.

Aku tidak tau apa benar waktu bisa berhenti, tapi aku merasakannya sekarang ini. Waktu seperti berhenti. Dadaku sesak, aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Karena aku tau, sebentar lagi kereta itu akan datang. Sebentar lagi kamu tidak akan di sini, di sampingku, menemaniku. Sebentar lagi. Sebentar lagi.

Aku ingin bersamamu lebih lama lagi. Selama mungkin kita bisa. Menikmati tawa renyahmu seperti yang kita lakukan beberapa menit yang lalu. Menikmati genggaman tanganmu, seperti yang tadi kamu lakukan. Menikmati senyummu, seperti yang baru pertama kali aku bisa memperhatikannya dengan benar-benar tadi. 

Kita masih terdiam. Masih saling memandang. Dadaku bertambah sesak. Samurai itu kini telah menghabisi hatiku. Karena tiba-tiba saja dadaku terasa perih sekali.

Kamu mengangkat tanganmu seperti gerakan lembut, tersenyum dengan kehangatan mata yang pasti akan sangat aku rindukan, lalu mengelus kepalaku.

Tanganku gemetar. Ada sesuatu di dalam hatiku yang ingin aku ledakan.

"Kamu baik-baik saja ya d sini, jangan lupa kasih kabar. Jaga diri juga, jangan ceroboh."

Pertahananku rubuh. Aku memelukmu, erat. Menyembunyikan mukaku ke dadamu dan menangis sesenggukan di sana (ini hal yang paling tidak ingin aku tunjukkan di depanmu). 

Aku tidak bisa melihat dengan jelas karena mataku ditutupi air mata yang tidak bisa aku tahan lagi. Terus mengalir keluar. Aku hanya merasa kalau sepertinya kamu menengadahkan kepalamu. Menahan tangis juga, sepertinya. Lalu tanganmu melingkar. Entah perasaanku saja, atau bagaimana, tapi kamu belum pernah memelukku seerat ini. Seolah-olah melepasnya pun kamu tidak mau. Mendekapku erat, lalu mencium rambutku. Badanmu gemetar. Kita berdua. 

Sepertinya memang waktu benar bisa berhenti. Seharusnya waktu berhenti saat aku bahagia saja, kenapa harus berhenti pada saat seperti ini?

Aku masih memelukmu erat. Merasakan detak di dadamu yang sangat cepat.

Aku ingin menikmati pelukanmu lebih lama.

Aku ingin kamu tetap di sini saja, bersamaku.

Aku mengucap doa seperti mantra meski aku tau, itu sulit dikabulkan, "Aku ingin keretamu terlambat, atau tidak pernah datang saja sekalian."

Beberapa menit kemudian pemberitahuan kedatangan kereta yang sangat tidak kuinginkan pun menggema di seluruh stasiun. Ingin kukutuk pemberitahuan itu. Dan ya, tidak berpengaruh apapun. Karena kereta itu akan tetap datang.

0 komentar:

Welcome to my little world

Diberdayakan oleh Blogger.

Temukan Aku di...

Followers

© Bienvenue, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena