In the spotlight
I love her purple hair
She can do what she wants to
As crazy as she dares
Welcome to my little world
#30HariMenulisSuratCinta
Yogyakarta, 23 Februari 2017
Dear, Hati
Apa kabarmu? Masih sakit? Semoga kau baik-baik saja. Jangan sampai patah lagi dan lagi. Istirahatlah yang cukup dari rasa pilu agar kau bisa segera bangkit kembali bekerja mendampingi aku.
Hati, kumohon padamu. Mulai detik ini mulailah dengarkan aku. Jika dengan matamu kau sudah melihat keganjilan. Mulai serahkan tugas padaku untuk berpikir hal yang realistis. Janganlah kau terlalu baik, Hati. Tidak semua makhluk di luaran sana memikirkan kamu. Mereka pun menggunakan pikirannya namun sedikit melibatkan hatinya. Tapi kamu, selalu bekerja sendiri tanpa aku. Pemilik kita disebut makhluk yang lugu pada akhirnya. Kamu tau? Itu karena kamu tidak mengijinkan aku untuk ikut bekerja bersamamu.
Hati, kini aku berjanji akan selalu menjagamu. Kau harus mengizinkan aku mendampingimu setiap saat. Kamu harus mendengarkan aku. Aku hanya tidak ingin kau merasakan pilu lagi, sakit lagi, dan patah lagi. Aku sayang padamu. Aku tak ingin melihatmu menangis dan membiru.
Hati, lepaskanlah genggamanmu dari hati miliknya. Kau hanha dibawa lari kesana kemari terseok tanpa ia sedikitpun memandang ke arahmu. Dia tidak peduli lagi, Hati. Sudah. Cukup. Dia, lepaskanlah. Aku akan membantumu menemukan hati lain yang lebih baik dari miliknya. Yang tidak akan mengkhianati kesetiaanmu dan tidak akan menghancurkanmu dalam genggamnya. Percayalah aku mampu membantumu.
Hati, janganlah kau ragu lalu menghakimi dirimu sendirilah yang buruk. Tidak. Kau setia, kau berhak mendapat bahagia. Dia khianat, dia tidak berhak mendapatkan setia darimu tentunya. Semudah itu bukan?
Maka, lepaskanlah segala hal yang akan menyakitimu. Genggam tanganku untuk mendampingimu bekerja demi pemilik kita. Semoga pilumu yang kemarin adalah pilumu yang terakhir. Aki harap kau segera meraih bahagia. Bersama aku dan pemilik kita tentunya. Salam sayangku.
Dari aku, otak. Dengan segala pikirannya.
~
Hari ke 20
#30HariMenulisSuratCinta
Yogyakarta, 23 Januari 2017
Aku menuntutmu mencintaiku seolah-olah belum pernah ada yang menyakitimu. Lepaskanlah luka-lukamu yang dulu, lepaskanlah bersama masa lalumu. Jadi, jangan mencintai orang yang baru dengan hati lamamu.
Aku menuntutmu untuk memberikan hati dan pikiran baru. Aku bukan dia, dia, atau dia. Fisikku tidak sama, sidik jariku pun tidak sama, apalagi sifat-sifatku. Kamu tidak bisa mengharapkan aku memiliki kebiasaan seperti dia. Tapi aku memiliki tanggung jawab untuk membahagiakanmu lebih besar dari dia, dia, atau dia.
Aku yang bersedia menerimamu yang sekaranh, bukan mereka. Aku yang bersedia bersamamu berlama-lama mendengarmu bercerita, atau menemanimu keliling kota. Aku. Bukan. Mereka
Jadi, berhenti membandingkan. Mulailah melihatku.
Aku mencintaimu, sekarang. Kamu. Kamu, yang sekarang. Bukan kamu yang dulu meski aku menerima masa lalumu apa pun itu. Tapi jangan hidup di masa lalumu. Kalau menginginkan bahagia baru.
Aku bukan siapa pun di masa lalumu. Jangan hidup di masa lalu. Hiduplah bersamaku
-Dari aku, yang sekarang ada bersamamu
~
Hari ke 15
#30HariMenulisSuratCinta
Yogyakarta, 17 Januari 2017
Teman kita yang pernah bercerita.
Ada dua orang yang selalu tidak sabar menunggu pagi. Keduanya ingin terus bertemu lagi, untuk saling mengagumi. Merasakan hangatnya percakapan, merasakan bagaimana ternyata seseorang bisa membenci malam karena itu artinya perpisahan.
Menyenangkan
Dua orang itu pernah menjadi dua orang yang saling jatuh cinta,tapi tidak ada yang berani mengatakannya. Itu berlangsung lama, terlalu lama. Sampai salah satu bosan menunggu dan satu lagi masih takut kalau satunya tidak memiliki perasaan yang sama.
Dua orang yang saling jatuh cinta tetapi tidak pernah bersama. Kata teman-teman, dua orang itu adalah kita.
~
Hari ke 14
#30HariMenulisSuratCinta
Yogyakarta, 10 Januari 2017
Aku menulis ini untukmu. Untuk semua tawa yang sudah kau buat dan untuk ingatanku yang sudah kau ikat.
Akubtidak menyesali semuanya meski pada akhirnya kita tidak bisa bersama. Kamu sudah pernah membuatku tertawa, itu sangat cukup, lebih dari cukup. Dan aku juga menikmati setiap perbincangan kita, menikmati proses menunggu pagi setiap hari agar selalu bisa berbincang denganmu lagi, menikmati ceplas-ceplosnya kamu, menikmati komentarmu tentang berbagai hal yang kamu lihat. Kita pernah memiliki waktu yang sangat menyenangkan, berdua.
Aku menulis ini untukmu. Untuk semua perbincangan kita yang bisa aku ingat dan untuk perpisahan kita yang pernah membuat mataku sembab.
Aku masih akan menyimpanmu di bergiga-giga byte memori di kepalaku. Suatu saat mungkin akan tertumpuk dengan memori baru tentang orang lain, bahagia lain, atau peristiwa lain. Tapi memori itu di sana, tetap di sana, karena aku tidak pernah menghapusnya. Dan mungkin akan muncul begitu saja seperti sudah diciptakan otomatis ketika mendengar musik kita berdua atau film yang pernah kita tonton. Tapi kenangan hanya kenangan, bukan? Tidak pernah menjadi masa depan.
Aku menulis ini untukmu. Untuk semua kalimat yang pernah atau belum aku ucapkan dan untuk perpisahan kita meski kita tidak pernah menginginkannya.
Karena kalau Tuhan berkata tidak, seberapa jatuh cintanya kita berdua Tuhan akan memisahkannya. Jadi, ini. Kita harus menerimanya. Seberapapun pahitnya.
Suatu hari nanti, kalau Tuhan berkenan, mungkin kita akan dipertemukan lagi bersama kebahagiaan kita sendiri-sendiri. Mungkin itu cara Tuhan mengajarkan kepada kita, bahwa kebahagiaan itu bukan satu jalan, bukan satu orang, tapi ada banyak jalan, dan ada banyak orang yang mungkin memiliki kesempatan yang sama untuk membuat kita bahagia.
Bahagia selalu datang tepat waktu. Mungkin kita yang selalu terburu-buru mengartikan kalau bahagianya sudah datang, sementara menurut Tuhan belum. Hnya sebuah batu loncatan untuk belajar membina hubungan, sebelum orang yang benar-benar diciptakan untuk kita didatangkan
~
Hari ke 13
Welcome to my little world
© Bienvenue, AllRightsReserved.
Designed by ScreenWritersArena