Welcome to my little world

Jumat, 11 November 2016

Untukmu, Malamku

#30HariMenulisSuratCinta
Yogyakarta, 11 November 2016

Hai, apa kabar Kamu? Kukira sudah sekian lama kita tak bertemu. Biar ku ingat-ingat, sudah beberapa tahun lamanya. Mungkin kini kamu sudah menjadi sosok lain yang lebih dewasa dan mulai sibuk dengan pekerjaanmu. Bagaimana kabar kampong halamanmu? Kini waktumu lebih banyak kau habiskan di sana, bukan?
Banyak pertanyaan yang sebenarnya ingin kuutarakan padamu. Aku dibuat terkejut dengan keputusanmu untuk melanjutkan pendidikanmu di kampong halamanmu. Apa yang ada dipikiranmu saat itu? Beberapa temanmu mengatakan bahwa kamu memang ingin menjauhiku? Sehingga kamu memilih untuk pergi? Apa iya? Aku senang mengetahui bahwa masa depanmu sudah mulai terlihat cerah saat itu, namun dalam salah satu sudut hatiku yang dalam, aku merasa kecewa.
Aku masih mengingatnya, kalimat yang kamu ucapkan saat kita memutuskan untuk berhenti mencoba, kamu bilang kamu akan melepaskanku di hari perpisahan kita, saat kita saling mengalungkan tanda kelulusan. Dan aku menunggu saat itu, entah kenapa. Aku menunggu saat kamu benar-benar melepasku, seperti seorang laki-laki yang merelakan perempuannya pergi demi keinginannya. Namun sayang, saat itu tidak ada.
Hari itu, di hari kelulusan kita, aku menunggumu. Apa kamu tau? Aku bersusah payah hadir di hari itu hanya untuk bertemu denganmu. Pandanganku berkeliling mencoba menemukan sosokmu, namun hampa yang kudapat, kamu tidak datang. Padahal hari itu adalah hari terakhir kita bertemu. Hari itu adalah hari yang sudah aku nantikan, namun kamu seperti tidak peduli akan hal itu. Hari itu aku kembali,  tanpa ucapan pisah darimu.
Mungkin kamu sudah lelah dengan sikapku selama ini yang seperti mengabaikan dan memaksamu pergi dari kehidupanku. Mungkin kamu sudah muak untuk berdiri dihadapanku yang bahkan tidak pernah melihatmu. Namun taukah kamu bahwa aku menunggumu? Bahwa sebenarnya aku menyimpan namamu di salah satu sudut dan relung terdalam hatiku? Bahwa aku menganggapmu salah satu laki-laki yang telah menjagaku?
Dalam surat ini aku hanya ingin mengutarakan apa yang selama ini kupendam dari siapapun tentangmu. Tentang sosokmu yang tersimpang rapat dihatiku. Setiap kali aku memejamkan mata dan membayangkan malam, atau kapanpun aku berdiri menatap bulan dan bintang, kamu selalu muncul dalam pikiranku. Sosokmu yang pernah menggenggamku dan menjagaku seakan masih memegang erat bahuku menahan agar aku tidak terjatuh dan pergi. Kamu memang seperti malam, menyimpan sejuta rahasia, menyembunyikan keindahan dibalik gelap dan dinginmu. Dan aku, diam-diam menyukai malam. Seperti aku diam-diam menyimpanmu rapat dalam bagian lain diriku.


Note: aku masih berharap kamu akan kembali meskipun hanya untuk mengucapkan kata perpisahan itu.

Hari 2
Read More

Kamis, 10 November 2016

Teruntuk, Kamu

#30HariMenulisSuratCinta
Yogyakarta, 10 November 2016

Teruntuk, Kamu

Ini adalah surat pertamaku. Sempat kebingungan melanda kepada siapa surat ini akan kutujukan. Namun saat terpikir tentangmu, tanpa ragu aku mulai menulis. Entah kenapa setelah berkali-kali aku dikecewakan olehmu aku masih saja tetap berharap kamu.
Bagaimana kabarmu saat ini? Bagaimana kesibukkanmu saat ini? Kegiatan semester ini hampir habis. Sesaat lagi mungkin kita akan kembali sering bertemu. Aku mati-matian menyembuhkan lukaku pada kesibukan semester ini dan aku berharap saat aku bertemu denganmu lagi nanti, aku sudah baik-baik saja. Sering saat aku berpikir tentangmu, terbesit keinginanku untuk pergi dan tidak lagi menyimpan rasa untukmu, namun entah kenapa aku selalu menemukan alasan untuk bertahan, alasan sesederhana apapun itu dan sebodoh apapun itu. 
Sudahkah kamu baca disurat ini kutulis bahwa aku mencintaimu? Biarlah kali ini kuperjelas
Aku mencintaimu, wahai Kamu
Sudahkah kusebut alasanku mencintai dan memilih untuk menyimpan rasa padamu? Dan kali ini akan kusebutkan padamu alasannya, dengan jelas bahwa
Aku mencintai kesederhanaanmu, dan dengan cara yang juga sederhana
Teruntuk, Kamu
Sepertinya untuk surat pertamaku ini, aku sudah terlalu banyak bicara. Meskipun kata yang kutulis ini tidak selalu indah, namun kucoba untuk membuatnya sesederhana mungkin. Sesederhana alasanu memilihmu dan sesederhana aku mencintaimu.

Ditulis dengan cinta, namun dengan 
goresan pena yang cukup dalam.

Hari 1
 
Read More

Selasa, 08 November 2016

Garis Senja

Sahabat. Sore ini kuamati dari kejauhan awan putih diudara yang terus berarak teriring angin yang memawa mereka semakin jauh. Pun dengan ombak laut yang berlarian menerjang karang belomba mencapai pantai. Awan dan ombak terus bergerak tak peduli mentari berpendar hebat.
Taukah kamu? Apa yang sebenarnya mereka cari? Taukah kamu? Apa yang sebenarnya mereka tuju? Kesatuanlah yang mereka cari. Senjalah yang mereka tuju.
Ombak dan awan
Ombak dan awan bersatu saat senja tiba. Membentuk garis senja yang mengisyaratkan ketenangan. Dan begitulah kita.
Aku yang seperti ombak. Dengan ego keras memecah karang. Juga kamu, yang bagai awan. Limbung terbawa arah angin. Akhirnya kita dipersatukan disini. Dibatas senja persahabatan. Meski setelah senja malam akan segera tiba. Gelap akan segera datang.
Jangan takut. Tak boleh merapuh. Karena kita, sahabatku akan selalu satu selamanya. Kita tetap satu. Berdiri pada satu garis lurus yang akan menuntun kita untuk saling menjaga, saling melindungi, dan saling melengkapi.
Karena sahabatku, sejauh apapun aku akan mengarungi laut lepas, sejauh apapun kamu akan terbang menyusuri udara bebas. Percayalah kita akan dipertemukan kembali. Layaknya awan dan ombak yang selalu bersatu lagi saat senja tiba. Karena nya aku dan kamu sahabatku kita adalah satu. Selamanya akan tetap satu

Read More

Selasa, 25 Oktober 2016

LUPAKAN

kamu memanggilnya, berulang kali. berharap ia akan kembali atau perpisahan hanya bagian dari mimpi. kamu serukan namanya. berharap iatertahan di tempatnya. berbaik hati, membelitkan perban, menuang obat merah, pada hatimu yang berdarah-darah.
tapi sia-sia. sungguh tanpa guna. ia tetap pergi. membiarkanmu mengobati lukamu sendiri.
tapi lihat dirimu. bukan menarik iba tapi mendulang murka? lihat sikapmu. bukan tercermin sabar malah memancing gusar. bagaimana kamu bisa begitu egois? tidak ingin disakiti. katamu,sudah bertubi-tubi. tapi kamu sendiri menebar duri, tidak ingin diganggu. tapi kamu sendiri melempar kerikil dan batu-batu
hei! kamu! tidakkah terbaca? luka-luka yang tertera. setiap kali ceritamu masih tentang dia. aku terluka. lalu luka itu kamu namai penindasan atas dasar ketakutan. bagaimana kamu bisa menyebutnya suara ketakutan? tidakkah terdengar seperti seruan kekecewaan? terhadapmu yang ingkar pada sebuah pernyataan. kemana ikhlas yang dulu kamu ucapkan?
berhentilah bermain dengan kata-kata. karena tidak semua orang buta berbahasa. biarkan. boleh abaikan yang tidak mengerti. tapi aku bukan bagian dari mereka yang sulit memahami. bagaimana setiap huruf itu. setiap kata itu. setiap kalimat itu. masih bercerita tentang orang yang sama. tentang dia.
dia 
dia
dia 
orang yang seharusnya sudah kamu lupa.

best regard
Read More

Jumat, 21 Oktober 2016

Sedikit Tulisan untuk Ayah

          Dan andai bisa kukatakan, aku ingin Ayah mendengar ini.
          Ayah..
          Aku rindu ucapan kerasmu saat membentakku akan sikapku yang salah. Aku rindu tanga hangatmu yang menggenggam tangganku dikala aku bermimpi buruk. Aku rindu pelukmu yang kaku namun penuh ketenangan. Aku rindu sifat jumawamu yang seakan meremehkanku. Aku rindu mengadu padamu saat seseorang menyakitiku dan meremehkanku. Aku rindu kata-kata tenangmu yang menghangatkan sakit hatiku. Dan aku rindu sosok keras namun berwibawa yang aku kenal.
          Aku menutupi kerinduanku dengan topeng kekuatan, yang susah payah aku kenakan dalam kondisi apapun. Aku tidak bisa dengan mudah membuka kedokku di hadapan semua orang, bahkan di hadapan ibu. Mungkin tulisan ini yang menjadi saksi nyata betapa aku rapuh tanpamu di sini.
          Aku menyadari bahwa aku selalu bersikap jahat padamu, menentang perintahmu, dan memberikan kerutan di dahimu. Aku selalu membuatmu marah, membuatmu kecewa dan selalu membuatmu bekerja mati-matian demi hal yang aku inginkan. Aku meremehkanmu dikala aku mendengar keluhanmu. Dan aku membuat ulah dikala dirimu sudah sulit untuk menahanku.
          Aku menganggapmu pengganggu disaat kau mencoba menjagaku. Aku menuduhmu tidak peduli disaat kau berusaha menunjukkan tanggung jawabmu. Dan aku menuduhmu kejam hanya karena kesalahanmu yang satu itu.
          Dad, I really really really love you and I miss you so bad
          Aku bahkan kehilangan salah satu penyanggaku dikala Ayah pergi. Dan aku menghabiskan waktuku untuk menyesali apa yang telah terjadi pada kita. I wanna hold you tightest, just for a second. I miss being the girl you loved.
          Aku bukan penyair, bukan penulis lagu. Aku tidak bisa menulis indah untuk memujamu dan membuktiikan betapa aku ingin kamu ada di sini. Aku tidak mengeluh, aku hanya bermimpi, andai Tuhan memberiku kesempatan untuk bertemu denganmu lagi, andai Tuhan memberiku waktu untuk menunjukkan betapa aku menyayangimu, andai Tuhan memberiku satu kali lagi pertemuan denganmu agar aku bisa memohon maaf atas semuanya.
          Andai Tuhan membiarkan aku memelukmu sekali lagi.
          Aku yakin, Ayah telah tenang di sana. Dan Ayah akan menjagaku dari atas sana. Ayah selalu ada di dalam hati dan kekuatanku. Dan Ayah telah menyiapkan senyuman di kala aku bisa membuatmu bangga.
          Jaga aku dari tempat Ayah sekarang. Beri aku semangat yang dulu berapi-api di masa muda Ayah. Aku yakin aku mampu menjadi seperti Ayah. Dan mengukir senyum tertunda di bibir Ayah.

          I love you, Dad. Never ever ever ever stop for loving you. I wanna keep Mom in my hand. Cause, I love you both, and it will never change.

Dengan air mata, tanpa luka
Hikmatul Husna
Read More

Senin, 11 Januari 2016

Felixavia Raduga Nyx Lazuardi

Felixavia Raduga Nyx Lazuardi 
Felixavia ραδόγα Νυξ لازواردی 
 yaa semacam itulaah. suka banget aja sama nama itu. jadi gini ceritanya awal mula ada nama itu.

1. Felixavia
Felix berasal dari nama latin kucing. yah well, agak diubah dikit. Felis jadi Felix. itu gara-gara dari kecil aku sukaa banget sama kucing. suka banget sama apa-apa tentang kucing. nama latin kucing yang sebenarnya itu Felis Catus jadi waktu SD pertama kali dikasih tau tentang nama latin aku langsung tanya nama latin kucing. terus kepikiran sama nama Felix. Lalu ada lagi sih dari bahasa Italia arti Felix itu kebahagiaan. lalu ada tokoh kartun Felix The Cat makin-makin deh suka sama nama Felix. 
nah itu Felix The Cat. pertama kali tau itu waktu udah mau lulusan SD. seneeeeng banget rasanya ternyata nama Felix itu enggak aneh banget. lalu kalo ada pertanyaan kenapa Avia itu? well, itu awalnya gara-gara elemen-elemen yang di Avatar itu (haha) aku paling suka sama elemen Air. pernah sekali baca dibuku lupa buku apa pokoknya disebut disana bahwa air di bahasa Persia adalah Avian. lalu kalo aku menambahkan di Felix kan jadinya Felixavian menurutku itu agak kurang pas saja. lalu aku hilangkan saja huruf n nya. yah artinya mungkin jadi beda. tapi yang aku pengen kan air. hehe.

2. Raduga (радуга)
agak aneh ya nama itu. haha. kalo kalian cari di web arti nama, kata itu belum ada sekarang. padahal artinya bagus. kata Raduga berasal dari bahasa Rusia nya Pelangi. Well, jadi kan air itu menghasilkan pelangi kalo ditambah cahaya. itusih. yaah, walau awalnya bukan begitu caraku berpikir. saat aku menemukan kata Raduga itu berawal dari aku yang menonton Glee, lalu ada tokoh Blaine Anderson, yah you know lah dia gay. dan lambang dari mereka itu pelangi. tapi bukan berarti aku pengen kasih nama itu gara-gara hitz LGBT itu ya. bukan! aku memang dari awal suka aja sama pelangi, ya walau aku jarang liat pelangi karena ditempat tinggalku kalo hujan jarang ada pelangi. tapi aku suka aja. pertamanya mau aku kasih Halo, karena pernah sekali saat aku SMP aku melihat peristiwa Halo yang baguuuus banget. tapi karena semua orang menyukai pelangi dan warna-warna di pelangi itu lambang kebaikan. jadinya aku memilih pelangi. hehe.

3. Nyx (Νυξ )
ini lagi. haha. kalo kalian cari nama ini di web yang mengartikan nama hai-hati artinya bisa jadi jelek. Nyx, aku ambil dari nama-nama dewa dewi Yunani Kuno. Nyx itu ibu dari banyak dewa. jadi ceritanya disini adalah Nyx itu dewi malam yang cepat. aku suka malam jadi aku menambahkan itu. tidak hanya karena malam aku menambahkan nama itu. ini juga karena Nyx itu adalah satu-satunya dewi yang ditakuti Zeus. Karena Nyx merupakan ibu pertama yang ada sebelum masa para Dewa Olympus , dan mungkin juga karena Nyx memiliki kekuatan yang lebih besar dibanding Zeus. well, Zeus aja takut. jadi yang aku tangkep itu dia itu kuat dan mungkin bijak. so, aku tambahkan aja nama Nyx.

4. Lazuardi (لازوردي )
ini kalo kalian cari artinya di web arti nama pasti nemuinnya yang bagus-bagus. haha. Lazuardi dalam bahasa Arab berarti Langit biru atau Langit cerah. pertama tau nama ini dari novel. disana memang namanya Luzardi, tapi terus enggak tau kenapa pernah denger aja nama Lazuardi. lalu aku cari artiny dan artinya bagus jadi kenapa enggak aku tambahkan aja. lagi pula kalo orang-orang itu bilang "seceria langit yang cerah" jadi aku pengen yang ada nama ini jadi ceria, bahagia. mungkin kalo nama Joy belum banyak dipakai pasti akan aku tambahkan juga Joy. karena aku senang melihat orang lain senang. 

jadi begitulah Felixavia Raduga Nyx Lazuardi. bukan Keangkeran dan Pengaruh Kekuasaan dkk itu. itu kan artinya nyeremin. yaaah udah gitu ajasih. abisnya bingung mau ngeblog tapi enggak ada bahan. haha
Read More

Rabu, 02 Desember 2015

Yaa cuma curhat aja

Begini ceritanya, jadi disuatu waktu (sebut saja tanggal 2 Desember 2015). Beberapa waktu sebelum nya ayah saya dirawat di salah satu rumah sakit di daerah saya. Jadi sebelumnya ayah saya itu sakit yang katanya "penyumbatan kandung kemih" lalu dirawat pertama selama 11 hari di rumah sakit tersebut dan itu ada tindakan operasi. Hari Kamis berikutnya ayah saya periksa ke dokter di rs tersebut, lalu dokter berkata bahwa minggu depan operasinya sudah bisa dibuka. Lalu minggu berikutnya, ayah saya kontrol untuk melepas jahitan dan ternyata jahitannya berair laluuu kata dokternya suruh opname lagi. Setelah opname sekitar 13 hari lagi, ayah saya tidak ada perkembangan sama sekali malah semakin lemah. Oke memang salah kami yang kata dokternya tidak bisa memaksa ayah untuk makan protein dan minum yang banyak. Daaan katanya diberi obat penambah protein berkali-kali tetap saja tidak terlihat hasilnya. Lalu dihari ke 13 itu ada berita bahwa ayah saya bisa dipindah ke rs lain yang lebih memadai. Saat ayah saya, tante saya, dan ibu saya ke rs yang dituju tersebut langsung ditangani 2 orang dokter, perempuan dan laki-laki. Dokter yang perempuan berkata, bahwa ini salah penanganan katanya jika penyumbatan seperti itu saja bisa dengan minum air putih banyak. Dokter laki-laki itu hanya diam dan seperti menenangkan. Ibu dan tante saya mengira akan diterima di rs tersebut. Ternyata tidak. Dan dikembalikan ke rs pertama. Oke hari ke 13 ini sial shitkali. Lalu disisi lain kami menggunakan jaminan kesehatan, yang duluuu yang pertama di opname itu, kami memang hanya membayar 1juta beberapa setelah habisnya 11 juta beberapa. Lalu untuk opname yang kedua ini tidk tau apa yang salah. Ternyata jaminan kesehatan tersebut hanya mengcover sekitar 3juta padahal habisnya sekitar 15juta beberapa. Saya tidak tau apa yang salah. Mungkin salah saya dalam mengurusnya atau bagaimana.

Yaaaaaa.... Sekitar seperti itu curahan hati saya. Maaf atas ketidaknyamanannya. Saya hanya mengeluarkan 'unek-unek' sayaa. Sekian dan terimakasih

Read More

Senin, 17 Februari 2014

Apa Arti Tanggal itu bagi Acha

Hai. Ini cerpen buatan udah tanun 2010 lalu. Tapi baru inget hari ini. Cekidot :p

Pagi itu, pagi yang cerah untuk semua orang. Tapi tidak
untuk seorang Acha. Bagi gadis kecil manis itu, hari ini
adalah hari yang sangat menyedihkan. Karna hari ini dia
harus menyaksikan perceraian kedua orang tuanya. Dan
satu lagi, dia pasti akan berpisah dengan kakak
kesayangannya. Acha memang memiliki kakak bernama
Gabriel. Dia sangat menyayangi Gabriel, begitu juga
sebaliknya, Gabriel juga sangat menyayangi Acha.
“Acha jangan sedih ya. Kakak janji ga akan ninggalin
Acha. Karna kakak sayang Acha. Acha juga sayang kakak
kan? Kalo Acha sayang kakak, Acha jangan sedih lagi ya.”
Ucap Gabriel menghibur Acha.
“Acha juga sayang kakak. Tapi Acha ga pengen orang tua
kita pisah kak. Nanti kalo orang tua kita pisah terus kita
juga pisah. Acha ga mau itu terjadi kak. Acha maunya kita
semua bersatu terus dan selamanya bersatu.” Kata Acha
sedih, dia pun memeluk kakaknya itu dan menangis
dalam pelukan kakaknya itu.
“Acha jangan nangis donk. Kakak juga jadi ikut sedih.
Kakak ga akan ninggalin Acha. Kalo pun kita jauh, tapi
kakak akan selalu ada di hati Acha. Kakak ga akan pergi
dari Acha.” Kata Gabriel mengelus rambut Acha.
“Nak, ayo kita berangkat. Papa udah nunggu di
pengadilan.” Kata mama mereka dari lantai bawah. Mama
dan Papa mereka memang sudah lama berpisah.
“Acha ga mau ikut Ma. Acha ga sanggup kalo harus liat
mama sama papa pisah. Acha jaga rumah aja.” Teriak
Acha.
“Iyel juga. Iyel juga mau di rumah aja. Mau nemenin Acha.
Iyel ga mau liat mama sama papa pisah.” Teriak Gabriel
juga.
“Ga bisa sayang. Kalian harus ikut mama ke pengadilan
sekarang. Kalian ga mau liat papa kalian lagi? Kalian mau
liat mama tambah sedih?” kata mama mereka, yang
sekarang sudah ada di depan pintu kamar Acha.
“Tapi Acha ga mau kalo mama sama papa pisah, terus
Acha sama kak Iyel juga pisah. Acha ga mau keluarga ini
pisah belah kayak yang di film-film itu. Acha ga mau itu
mama.” Isak Acha lagi.
“Mama janji, kalian ga akan pisah. Paling juga kalo pisah
ga jauh kok. Mama janji.” Ucap mama.
“Janji ya ma. Kalo gitu sekarang Acha mau ikut mama ke
pengadilan. Kak Iyel juga harus ikut.” Kata Acha.
Saat di pengadilan. Di sana sudah banyak orang yang
datang. Acha dan Gabriel duduk di bangku paling depan.
“Sekarang bapak Septian Putra dan ibu Rahmi Amalia
resmi bercerai.” Tokk tokk tokk. Ucap hakim itu sambil
memukul meja hijau dengan palunya.
“Dan untuk hak asuh anak. Bapak Septian Putra dapat
mengasuh Raissa Arif. Ibu Rahmi Amalia dapat mengasuh
Gabriel Stevent Damanik.” Lanjut hakim itu.
Semua mata tercengang melihat hal itu. Karena kedua
suami istri itu selalu terlihat harmonis dan sekarang
mereka sudah resmi bercerai. Dan dua anak kecil yang
duduk di sana hanya bisa menerima kenyataan pahit itu.
“Kak, Acha ga mau jauh dari kakak. Acha mau sama kakak
aja. Acha ga mau ikut papa kerja di luar negeri.” Kata
Acha sambil terisak
“Kakak juga ga mau pisah sama Acha. Tapi kakak juga ga
bisa berbuat apapun. Sekarang kita cuma bisa menerima
kenyataan aja Cha.” Kata Gabriel juga sedih.
“Tapi kak. Kita masih bisa ketemu lagikan? Kita masih
bisa main bareng lagikan kak?” kata Acha menatap
kakaknya itu
“Semoga bisa Cha. Kakak ga yakin itu bakalan bisa.” Kata
Gabriel miris
“Acha, Iyel. Sekarang kita pulang dulu yuk.” Kata Mama
lembut
“Iya. Nanti kan kalian masih bisa main bareng. Sekarang
kita pulang yuk.” Kata Papa mereka
“Ga ma. Ga pa. Acha sama kak Iyel mau main ke taman
deket komplek dulu. Sebelum kita pisah, kita pengen
ngehabisin waktu berdua.” Kata Acha
“Iya. Iyel mau main dulu sama Acha.” Kata Gabriel meng-
iyakan
“Ya udah. Nanti pulangnya jangan malem-malem ya.”
Ucap Mamanya dan berlalu meninggalkan ruangan itu.
“Papa duluan ya.” Ucap papa mereka, sebelum papa
meninggalkan ruangan sidang itu, papa sempat mengecup
kening kedua putra-putrinya itu.
Di taman tempat biasa Acha dan Gabriel main. Mereka
hanya duduk di bangku taman itu.
“Acha, kalo Acha beneran pergi sama papa keluar negeri.
Acha masih mau balik ke Jakarta lagi ga?” tanya Gabriel
sambil menatap langit.
“Pasti Kak. Acha ga mau kalo lama-lama pisah dari
kakak. Acha pengen selamanya sama-sama bareng
kakak.” Ucap Acha juga menatap langit.
“Kalo Acha balik ke Jakarta. Terus kakak udah ga ada
gimana Cha? Kalo…” ucap Gabriel terpotong omongan
Acha
“Kakak ngomong apaan si? Kakak janji bakal nunggu
Acha kan? Dan kakak ga mau buat Acha sedih kan? Kakak
jangan ngomong kayak gitu lagi ya.” Ucap Acha mencoba
tersenyum
“Pasti Cha.”
Suasana menjadi sangat hening setelah Gabriel mengucap
kata pasti itu. Mereka hanya memandangi langit yang
sangat cerah pada saat itu. Walau hari itu sangat
mendung untuk hati mereka.
“Ya udah yuk kak. Kita pulang dulu. Nanti dicariin mama
papa lagi.” Ajak Acha.
Di rumah mereka.
“Pokoknya saya mau ajak Acha. Saya mau dia liat dunia
luar. Saya mau menyekolahkan Acha di Paris.” Ucap
Septian ngotot
“Jangan mas. Kasian mereka. Mereka ga akan mau kalo di
pisah.” Ucap Rahmi memohon.
“Mama. Papa. Acha ga mau pisah sama kakak. Acha
mending sekolah di Jakarta tapi ga pisah sama kakak.
Acha mending ga bisa liat dunia di luar sana, asalkan
Acha ga pisah sama kak Iyel.” Teriak Acha sambil
menangis terisak.
“Acha, kalo ini yang terbaik buat Acha. Kak Iyel ikhlas
kok.” Hibur Gabriel.
“Acha ga mau kak. Acha ga mau kalo harus pisah sampe
jauh banget sama kakak.” Kata Acha masih terisak.
“Acha sayang. Papa janji. Kalo kamu udah selesai
sekolahnya. Kamu boleh kembali ke Jakarta. Boleh
bareng-bareng sama Kak Iyel lagi.” Kata Septian.
“Mama. Acha mau tinggal sama mama aja. Acha ga mau
kalo harus ke luar negeri segala.” Rengek Acha semakin
menjadi.
“Acha. Mama sayang sama Acha. Mama mau yang terbaik
buat Acha. Jadi Acha nurut ya sama papa.” Kata Rahmi
masih berluluran air mata (?).
“Iya Acha. Kakak juga mau yang terbaik buat Acha. Jadi
Acha nurut ya sama papa.” Kata-kata Gabriel itu membuat
Acha luruh (?).
“Kalo gitu Acha mau ikut papa. Tapi papa harus janji,
kalo Acha udah selesai sekolah, Acha boleh pulang ke
Jakarta.” Ucap Acha.
“Papa janji. Kalo gitu kamu siapin barang kamu dulu.
Besok kita berangkat.” Kata Septian tersenyum.
Keesokan harinya. Saat Acha hendak berangkat ke
bandara.
“Acha. Hati-hati di jalan ya. Jangan lupain kakak.” Ucap
Gabriel menahan kesedihannya.
“Acha janji ga akan lupain kakak. Acha pasti bakalan
kangen sama kakak. Acha juga ga bakalan lupain mama.
Acha sayang banget sama mama sama kakak.” Kata Acha
memeluk Gabriel.
“Acha. Kakak mau Acha jagain papa ya buat kakak. Acha
juga belajar baik-baik ya di sekolah Acha nanti. Ini kakak
ada kenang-kenangan buat Acha. Gelang yang selalu
kakak pake ini buat Acha sekarang. Kalo Acha kangen
kakak, Acha tinggal pandangin gelang kakak aja.” Kata
Gabriel tulus dan melepas gelang yang selalu di pakainya.
“Kakak… ini kan gelang kesayangan kakak. Sebagai
gantinya, Acha mau kasih boneka kucing kesayangan
Acha buat kakak. Kalo kakak kangen Acha, kakak tinggal
curhat aja sama boneka kucing ini. Pasti kangennya
ilang.” Kata Acha tersenyum.
“Sayang. Taxinya udah dateng sekarang kamu pamitan
sama mama sama kak Iyel dulu sana. Nanti kita langsung
berangkat.” Ucap papa.
“Mama, Kak Iyel. Acha pamit dulu ya. Besok kalo Acha
pulang, Acha bakalan langsung ke sini.” Ucap Acha
berpamitan.
“Iya Acha. Kakak bakalan setia nungguin Acha di taman
biasa.” Ucap Gabriel meneteskan airmata.
“Hati-hati di jalan ya nak.” Kata mama.
“Kalo gitu Acha berangkat dulu ya. Kak Iyel, jaga mama
baik-baik ya. Mama, Acha minta tolong jaga Kak Iyel
baik-baik ya ma.” Kata Acha sebelum berangkat.
“Iya Acha.” Kata mama dan Gabriel kompak.
“Saya dan Acha berangkat dulu.” Kata papa dingin.
Taxi itupun melaju meninggalkan komplek perumahan elit
itu. Gabriel harus merelakan adik kesayangannya itu pergi
meninggalkannya.
“Acha… hati-hati di jalan ya……” teriak Gabriel saat taxi itu
mulai tak terlihat lagi.
~bertahun-tahun kemudian~
Bintang malam katakan padanya.
Aku ingin melukis sinarmu di hatinya
Embun pagi katakan padanya
Biar ku dekap erat waktu dinginmu merenggutnya.
Bintang malam sampaikan padanya
Aku ingin melukis sinarmu di hatinya
Embun pagi katakan padanya
Biar ku dekap erat waktu dinginmu merenggutnya.
Taukah engkau wahai langit.
Aku ingin bertemu membelai wajahnya.
Kan kupasang hiasan angkasa yang terindah.
Hanya untuk dirinya.
Lagu rindu ini kuciptakan.
Hanya untuk bidadari hatiku tercinta
Walau hanya nada sederhana
Izinkan ku ungkap segenap rasa
Dan kerinduan
Lagu itu yang selalu Gabriel nyanyikan saat ia kangen
dengan adiknya. Sudah 10 tahu Acha tidak kembali ke
Jakarta.
“Cha, kapan si kamu balik ke Jakarta. Kakak kangen sama
kamu. Walaupun di sini kakak udah punya adik tiri baru.
Tapi kakak tetep sayang dan kangen banget sama Acha.”
Kata Gabriel miris.
“Kak, Acha itu siapa si? Cewe yang di foto itu ya?” tanya
Ozy adik tiri Gabriel. Ya, memang mama Gabriel telah
menikah dengan seorang laki-laki beranak 1, dua tahun
yang lalu.
“Iya Zy. Dia adik kandung kakak. Dia sekarang sedang
bersekolah di Paris. Dia ikut papa kakak ke sana.
Umurnya sama dengan kamu. Tahun ini dia tepat berumur
17 tahun. Sweet seventeen.” Ucap Gabriel menerawang.
“Mmmmb. Kayak Ozy donk kak. Kapan dia balik ke sini?”
tanya Ozy.
“Ga tau. Kakak juga ga tau dia bakalan balik ke sini atau
ga.” Kata Gabriel menatap boneka kucing Acha.
“Kok gitu sih kak?” tanya Ozy lagi.
“Ya gitu. Satu lagi, kakak juga ga yakin kalo Acha udah
balik ke Jakarta apa kakak bisa ketemu dia lagi atau ga.
Kakak udah capek ngelawan penyakit kakak ini.” Ucap
Gabriel. Memang sejak beberapa tahun lalu Gabriel telah
difonis menderita kanker hati stadium akhir.
“Kakak pasti kuat. Demi ketemu Acha, pasti kakak bisa.”
Kata Ozy memberi semangat ke Gabriel kakak tirinya.
“Iya Zy. Tapi kalo besok kakak udah ga bisa liat Acha,
kakak mau titip Acha ke kamu ya Zy. Rawat dia ya Zy,
anggap dia seperti adik Ozy sendiri. Ozy mau kan? Demi
kakak.” Ucap Gabriel memohon.
“Iya kak. Ozy mau. Tapi kakak juga harus janji sama Ozy,
sama diri kakak sendiri kalo kakak pasti kuat.” Kata Ozy
memberi semangat.
“Ok Zy. Sekarang Ozy keluar dulu ya dari kamar kakak.
Kakak mau tidur dulu. Kakak capek banget tadi main
basket sama temen-temen.” Kata Gabriel.
“Iya kak. Tidur nyenyak ya kakakku sayang.” Kat Ozy dan
berlalu keluar kamar Gabriel.
Pagi harinya. Semua keluarga Gabriel dan Ozy dan
tetangga-tetangga mereka telah berkumpul di rumah
Gabriel dan Ozy. Mereka semua terlihat seperti sedang
berduka. Di depan rumah itu terdapat bendera putih yang
berkibar, tanda kalau ada orang yang meninggal di rumah
itu.
“Kak… bangun kak… Ozy bakal kesepian kalo ga ada
kakak. Kakak kan udah janji bakal kuat. Tapi kenapa
kakak ga nepatin janji kakak? Ayo kak bangun.” Kata Ozy
menggoyang-goyangkan badan orang yang sedari tadi
tertidur dengan ditutupi kain putih.
“Ozy… sabar nak. Kamu harus ngerelain Gabriel. Kalo
kamu ga ngerelain Gabriel, kasian dia di sana. Dia
bakalan lebih senang kalo kamu bisa merelakan dia
pergi.” Ujar mama Rahmi menghibur Ozy.
“Tapi kak Gabriel udah janji sama Ozy. Dia bakalan
nungguin Acha bareng Ozy.” Kata Ozy belum ikhlas
Gabriel meninggal.
“Acha? Jadi Gabriel kuat selama ini karna Acha? Ya
Tuhan. Sebegitu sayangnya Gabriel pada Acha.” Ucap
mama Rahmi lirih.
“Maaf bu, jenazah akan segera di makamkan.” Ujar salah
satu tetangga mereka.
“Iya silahkan pak.” kata papa tiri Gabriel.
Pada malam harinya. Ozy masih tak bisa tidur.
“Ozy, bantu kakak. Tolong pada tanggal 23 Mei tahun
sekian besok kamu datang ke taman dekat komplek. Di
sana kamu bisa bertemu Acha. Dan tolong berikan surat
dan boneka kucing Acha yang kakak taruh di meja kamar
kakak.” Kata bayangan Gabriel berbaju putih bersinar.
“Kakak? Baik kak. Ozy akan turuti kata-kata kakak.” Ucap
Ozy.
“Baiklah. Jaga Acha baik-baik ya Zy. Saatnya kakak pergi
sekarang. Selamat tinggal Acha. Selamat tinggal Ozy.
Selamat tinggal mama. Selamat tinggal papa. Selamat
tinggal rumah kenangan. Selamat tinggal taman bermain.
Selamat tinggal dunia.” Ucap Gabriel dan dia pun
menghilang.
“Kakak…… kakak…… jangan tinggalin Ozy lagi.” Teriak Ozy.
Tepat pada tanggal 23 Mei. Seperti yang dijanjikan Gabriel
ke Ozy.
“Nak, kita langsung ke rumah eyang dulu ya. Kita istirahat
dulu di sana.” Ucap papa Acha saat menuruni pesawat
Paris-Jakarta (?) *kaya bis aja hehe.
“Ga mau pa. Acha mau langsung ke taman tempat Acha
janjian sama kak Iyel. Acha dah kangen berat sama kak
Iyel. Pasti sekarang kak Iyel makin cakep, makin dewasa,
dan yang pasti Acha bakalan makin sayang sama kak
Iyel.” Ucap Acha sambil melihat sekeliling. Suasana di
Jakarta udah banyak berubah. Sekarang Jakarta semakin
ramai, tak seperti saat Acha meninggalkan Jakarta.
“Ya udah kalo gitu. Acha ke taman deket komplek rumah
kita dulu. Papa langsung ke rumah eyang.” Ucap papa
memutuskan.
“Oke pa. Acha nyari taxi dulu ya. Abis itu Acha langsung
ke taman. Don’t miss me dad.” Ucap Acha berlalu dengan
kopernya. Dia sekarang tidak memakai gelang kesayangan
Gabriel. Gelang itu telah putus 1 tahun yang lalu.
Saat di taxi. Acha melihat pemandangan jalan dari
jendela. Acha sekarang sudah berubah menjadi gadis
cantik dan manis. Dia sekarang telah menjadi sarjana ilmu
arkeologi, sangat jauh dari cita-citanya. Saat kecil dia
ingin sekali menjadi penyanyi kalo ga jadi dokter. Tapi itu
tak menghalangi cita-cita Acha sebagai penyanyi. Dia
sering bernyanyi dan berlatih banyak alat musik.
Setelah sampai di taman. Acha memandang sekeliling
taman. Taman yang sering menjadi tempat bermainnya
sekarang jauh berubah. Taman itu menjadi sangat kotor,
bangku-bangku tamannya juga sudah berkarat, banyak
reruntuhan (?) daun kering, dan satu lagi yang membuat
sangat berbeda. Tempat ini menjadi sepi, tak seramai
dulu.
“Huh, akhirnya sampai juga. Kok tempatnya kotor ya. Ah,
ga pa pa lah. Demi ketemu kak Iyel, apa sih yang ga.”
Ucap Acha semangat.
Lama Acha duduk sendiri di taman. Tapi dia tak melihat
seorang pun yang datang ke taman.
“Kak Iyel mana si? Katanya mau nunggu Acha di sini.
Tapi kok sampai sekarang belum datang juga ya. Ah,
mungkin kak Iyel baru sibuk ada kerjaan.” Ucap Acha
sabar. Dia pun akhirnya bersenandung kecil.
When I am down and, oh my soul, so weary
When troubles come, and my heart burdened be
Then, I am still and wait here in the silence
Until you come and sit a while with me.
You raise me up, so I can stand on mountains
You raise me up, to walk on stromy seas
I am strong, when I am on your sholders
You raise me up… to more than I can be.
Senandung Acha pelan. Tanpa ia sadari, matahari telah
berganti menjadi bintang. Dan Gabriel pun belum juga
datang.
“Hai. Kamu Acha ya?” ucap seseorang mengagetkan Acha.
“Kak Iyel.” Kata Acha melemah saat ia tau kalo yang
menyapanya bukan Gabriel.
“Bukan. Aku bukan Kak Iyel. Aku Ozy. Adik tiri Kak Iyel.”
Ucap orang itu yang ternyata Ozy.
“Ooh. Mama Rahmi jadinya udah nikah lagi ya? Terus
kamu ngapain di sini? Kak Iyel mana?” kata Acha sambil
mencari-cari Gabriel.
“Iya, dan aku anak dari suami mama Rahmi yang baru.
Kak Iyel udah pergi Cha. Aku ke sini juga cuma di suruh
Kak Iyel satu tahun yang lalu.” Kata Ozy sedih.
“Pergi kemana? Kapan pulang lagi ke sini? Kalo gitu Acha
mau nunggu Kak Iyel sampe pulang ke sini lagi. Paling
bentar lagi Kak Iyel pulang.” Kata Acha sambil melipat
kedua tangannya dan mengangkat satu kakinya.
“Kak Iyel udah ga bakal pulang lagi Cha. Dia udah pergi
ke rumah Tuhan 1 tahun yang lalu.” Kata Ozy menahan air
matanya.
“Maksud kamu apa? Kak Iyel meninggal gitu? Itu ga
mungkin. Kak Iyel udah janji bakal nungguin Acha sampe
Acha pulang. Dan kak iyel itu orangnya ga pernah ingkar
janji.” Kata Acha ga percaya.
“Iya. Kak Iyel udah meninggal. Dia kena penyakit kanker
hati stadium akhir. Penyakit itu ada di tubuh kak Iyel
udah selama beberapa tahun. Dan berarti dia udah nahan
sakitnya lama Cha. Kak Iyel nitip boneka kucing ini dan
surat ini ke aku, katanya si yang boleh baca cuma kamu.”
Kata Ozy memberikan surat dan boneka dari Gabriel itu.
To: Acha adik kakak tersayang
Maaf Cha. Kakak ga bisa nepatin janji kakak. Kakak udah
lama sakit. Dan sekarang kakak udah ga bisa nahan sakit
kakak. Kakak juga mau minta maaf, boneka Acha kakak
kembaliin. Soalnya kakak udah ga bisa ngerawat boneka
cantik Acha. Emmb, Acha sekarang pasti udah jadi gadis
dewasa yang cantik. Waah rugi banget Kak Iyel ga bisa
liat Acha sekarang.
Acha, Kak Iyel pesen tolong jaga mama sama papa kayak
Acha jaga diri Acha sendiri ya. Sayangi mereka kayak
mereka sayang sama Acha. Dan sayangi juga adik tiri
kakak, Ozy. Dia yang selama ini merawat dan memberi
semangat ke kakak, dia juga yang selama ini banyak
ngebantuin kakak. Anggep dia sebagai pengganti kakak.
Walopun dia anaknya bandel, banyak tingkah tapi dia
baik banget lo Cha.
Udah dulu ya Cha segini aja surat dari kakak tangan kakak
udah pegel, capek banget nulis.
Bye Acha. Selamat tinggal.With love,
Your old brother
22 Mei tahun sekian
GABRIEL STEVENT DAMANIK.
“Kak Iyeeeelll!!!!! Kenapa kakak ga nepatin janji kakak.
Kakak kan udah janji mau nungguin Acha. Mau liat Acha
jadi orang yang sukses. Tapi kenapa kakak Iyel pergi
duluan??!!!” teriak Acha histeris.
“Acha sabar Cha. Ikhlasin kak Iyel. Biarkan dia pergi. Kalo
kamu tangisin dia terus kasian kak Iyel.” Kata Ozy
menenangkan Acha meniru kata-kata mama Rahmi saat
Ozy menangisi Gabriel.
“Ikhlas katamu? Ini kakak aku Zy. Ini kakak kesayanganku
Zy. Dia yang selalu kasih aku semangat kalo aku baru
down . Kamu ga ngerasain itu. Dia ini orang yang selalu
aku tunggu. Dia orang paling spesial di hidupku.
Sekarang dia pergi. Kamu cuma bilang ikhlasin aja. Ga
bisa Zy!!!” bentak Acha ke Ozy.
“Cha, aku ngerasain itu Cha. Dia juga kakak aku. Dia juga
kakak terbaik aku. Dia yang udah bikin aku jadi bisa
ngerasain rasanya punya kakak walo hanya beberapa
tahun aja.” Ucap Ozy menangis sejadi-jadinya dan
memeluk Acha.
“Dia orang paling spesial buat aku Zy. Paling spesial buat
aku Zy.” Kata Acha berulang kali sambil menangis di
pelukan Ozy dan tubuh Acha tiba-tiba melemas, tapi itu
tak dirasakan oleh Ozy.
“Sabar Cha. Kamu pasti bisa ikhlasin kak Iyel. Walo itu
demi kak Iyel. Kakak kita.” Ucap Ozy, tapi tak ada balan
dari Acha.
“Cha… Acha…” ucap Ozy dan membangunkan Acha. Acha
ternyata pingsan dalam pelukan Ozy.
“Mungkin dia terlalu shock mendengar kabar ini. Aku
akan bawa dia pulang.” Kata Ozy sambil menggendong
Acha. Saat Ozy akan menggendong Acha, tiba-tiba HP
Acha berbunyi. Tertulis nama My Dad di sana.
“Aduuh, papanya lagi. Angkat ga ya. Emmb angkat aja
deh.” Kata Ozy kelipukan sendiri.
“Halo Om. Om papanya Acha ya?” tanya Ozy saat
mengangkat telepon.
“Iya ini siapa? Acha mana? Ini Gabriel ya?” tanya papa
Septian runtut.
“Ini Ozy om. Temen Acha. Om, Acha sekarang lagi
pingsan. Om bisa kasih alamat om sekarang ga?” kata
Ozy.
“Acha pingsan? Kenapa dia? sekarang Om ada di jalan
Ny. Saufika no 124. cepet kamu bawa ke sini.” Kata papa
Septian panik.
“Iya Om. Segera Ozy bawa Acha ke sana.” Kata Ozy
langsung menutup telepon dan menelepon taxi.
Saat taxi datang, Ozy langsung memasukkan Acha ke
dalam taxi dan membawanya ke alamat yang diberi oleh
papa Acha tadi.
Setelah sampai di alamat yang disembilan #tuju pensiun,
udah tua.
“Acha kenapa? Kok bisa sampai pingsan begini?” tanya
papa Septian panik.
“Ga tau Om. Sekarang Ozy mau langsung pulang aja. Ozy
udah di tunggu sama orangtua Ozy. Makasih Om.” Kata
Ozy langsung melarikan diri.
Paginya, Acha sudah sadar dari pingsannya. Dia keluar
kamar dengan mata sembab.
“Pagi papa. Tadi malem yang bawa Acha ke sini siapa pa?
semalem maaf Acha buat acara pingsan-pingsanan
segala.” Kata Acha
“Yang bawa kamu ke sini namanya siapa itu. Pake O… Ozz
siapa gitu. Kamu semalem pingsan kenapa?” tanya papa.
“Ha?? Ozy pa? semalem si, mungkin Acha kecapekan aja
pa. Pa, Acha ke kamar lagi aja ya. Acha masih ngantuk.”
Kata Acha bohong. Sebenarnya dia ga mau papanya tau
kalo dia mau nangis mengingat kejadian semalam.
“Iya sudah, kamu ke kamar aja. Tidur nyenyak sayang.”
Kata papa Acha.
Acha hanya tersenyum. Senyum pahit. Saat di kamar, dia
menatap gelang pemberian Gabriel yang telah putus itu.
Acha menatap gelang putus itu dengan sendu (?). dan dia
pun menangis kembali.
“Kakak kenapa tinggalin Acha? Acha sendiri di sini kak.
Acha udah ga punya temen kak. Tapi satu janji kakak
yang kakak tepatin. Kakak selalu ada di hati Acha. Kakak
selalu setia di hati Acha.” Ucap Acha mencoba tabah.
“Acha.” Kata seseorang yang ada di luar cendela.
“Siapa?” kata Acha membuka cendela.
“Acha, ini kakak. Acha jangan sedih lagi ya. Acha ingat
kan pesan kakak. Kakak akan selalu ada di hati Acha.
Sekarang Acha jangan sedih lagi ya. Kakak ga mau liat
adik kakak yang cantiiiik banget ini nangis sedih. Ayo
senyum.” Kata Gabriel dengan busana masih sama dengan
1 tahun yang lalu. Putih bersinar dan wajah pucat pasi.
“Kakak??? Kakak jangan tinggalin Acha lagi. Sekarang
kakak masuk. Acha kangen banget sama kakak. Acha
sayang banget sama kakak.” Ucap Acha yang mencoba
memeluk Gabriel. Tetapi hasilnya nihil. Gabriel tak bisa
disentuhnya.
“Ga akan pernah bisa lagi Cha. Cha tolong jaga papa,
mama, sama Ozy ya Cha. Mereka orang yang selalu bikin
kakak semangat selain kamu Cha. Cha, waktu kakak udah
habis. Kakak pergi dulu ya Cha.” Kata Gabriel dan
menghilang.
“Kakaaaaakk……. Jangan tinggalin Acha.” Teriak Acha
sampai terdengar papanya.
“Kenapa Cha?” tanya papa
“Cari tau aja sendiri. Papa kalo mau tau sekarang telepon
mama dan tanya kabar Kak Iyel gimana.” Ucap Acha
dingin.
“Kenapa sama Gabriel?” tanya papa Septian lagi #bawel
dah ni.
“Telepon mama aja sendiri.” Kata Acha sambil nangis.
Setelah papa Septian menelepon mama Rahmi.
“Cha, sabar nak. Mama Rahmi ga mau kasih tau itu
semua ke kita karna dia memang dilarang memberi tau ke
kita sama suaminya yang baru.” Kata papa Septian
membelai (?) rambut Acha.
“Ya udah pa, sekarang Acha mau ke taman itu dulu.” Ucap
Acha berlalu begitu saja.
Di taman tempat Acha biasa bermain dengan Gabriel. Acha
hanya terlihat duduk terdiam di kursi yang sudah
berkarat.
“Have I sad too much? There’s nothing more I can think of
to say to you. But all you have to do is look at me to
know. That every word is true” senandung Acha lirih dan
meneteskan air mata.
“Apapun kenyataannya kamu harus terima Cha.” Kata Ozy
dari belakang dan berhasil mengagetkan Acha.
“Ozy. Kamu ngapain di sini?” tanya Acha.
“Main. Kak Iyel juga sering ajak aku main ke sini.” Kata
Ozy dengan tatapan kosong.
“Ooo… Ozy, ada yang mau aku tanyain ke kamu.” Kata
Acha menatap Ozy.
“Apa? Tanya aja.” Kata Ozy beralih menatap Acha (?).
“Kamu mau jadi pengganti Kak Iyel buat aku?” tanya
Acha.
“Ga mau. Aku ga mau jadi pengganti Kak Iyel. Dia terlalu
sempurna untuk di gantikan olehku.” Kata Ozy tegas.
“Walo itu pesan dari Kak Iyel?” tanya Acha lagi.
“Aku mau kalo hanya untuk menjadi kakak tirimu. Tapi
aku ga akan mau dan ga akan pernah mau buat gantiin
Kak Iyel di hatimu.” Kata Ozy menatap Acha tajam.
“Dan Kak Iyel tak akan terganti di hatiku. Kalo gitu mulai
sekarang aku panggil kamu dengan sebutan kakak.
Hehehe.” Kata Acha mencoba tersenyum.
“Iya adek baruku. Gitu donk senyum. Mulai sekarang kita
jangan sedih-sedihan lagi ya.” Kata Ozy mengacak-acak
rambut Acha.
Beberapa bulan dari kejadian itu. Acha dan Ozy semakin
akrab. Bahkan papa Septian juga semakin akrab dengan
keluarga baru mama Rahmi. Pada sore itu, di taman
tempat biasa Acha dan Ozy bermain.
“Cha, aku mau ngomong sesuatu.” Kata Ozy tiba-tiba.
“Ngomong aja kak. Mau ngomong kok harus minta izin.”
Kata Acha sambil merangkai bunga, tanpa memperhatikan
Ozy.
“Udah jadi bunganya.” Kata Acha sambil mengangkat
bunganya.
“Acha…… perhatiin aku bentar donk… aku mau ngomong.”
Kata Ozy sedikit kesal.
“Hehehe, maaf kakakku. Iya, sekarang Acha perhatiin. Mau
ngomong apa?” tanya Acha menghadap ke Ozy.
“Dari tadi napa. Bikin kesel aja. Cha, aku ngerasa lama-
lama kita kok makin deket ya?” tanya Ozy, Acha pun
tertawa.
“Ya iyalah. Kitakan kakak adik.” Kata Acha dengan sisa
tawanya.
“Bukan itu Cha. Aku pengen kita lebih dari sekedar kakak
adik.” Kata Ozy, Acha tercengang (o) mendengarnya.
“Lebih dari kakak adik? Terus? Tapi kan kita emang kakak
adik?” kata Acha tak mengerti.
“Kita kan cuma kakak adik tiri. Cha, kamu mau ga jadi
pacarku?” tanya Ozy mengagetkan Acha.
“Ga tau. Acha ga tau harus jawab apa. Acha bingung.
Acha bingung harus bilang apa. Karna kamu itu kakak
Acha. Walo hanya tiri. Tapi Acha juga sayang sama Ozy
lebih dari kakak.” Kata Acha menunduk.
“Jadi, kamu mau jadi pacarku?” tanya Ozy. Acha hanya
mengangguk pelan.
“Tapi apa papa mama kita ga marah?” tanya Acha.
“Mama Rahmi sama papaku udah tau kok. Mereka ga akan
marah.” Kata Ozy tersenyum.
“Berarti sekarang Acha manggilnya udah bukan kakak lagi
donk. Manggilnya boleh Ozy aja donk. Yesss, memang
kakakku cuma satu.” Kata Acha senang.
“Siapa bilang? Kamu ga boleh panggil cuma Ozy Ozy gitu
doank. Panggil pake abang.” Kata Ozy genit.
“Ogah dah. Males, aku panggilnya abang Ojek aja ah…”
kata Acha dan berlari meledek Ozy.
“Heh, Candil. Jangan abang ojek.” Kata Ozy mengejar
Acha. Dan hasilnya adalah terjadinya peristiwa kejar
mengejar antara Ozy dan Acha *beh,ngemeng apa saya.
Semakin hari, semakin cinta, semakin hari, semakin rindu.
Lagu itu yang sangat cocok dinyanyikan untuk Ozy dan
Acha.
“Cha, kamu beneran udah siap tampil? Tangan kamu
dingin banget lo Cha.” Kata Ozy khawatir.
“Acha ga pa pa kok Zy. Ini tanda kalo Acha grogi. Soalnya
ini pertama kali nya Acha tampil di Indonesia.” Kata Acha
tersenyum.
“Ya uda kalo gitu. Kalo gitu Ozy tunggu di belakang
panggung ya.” Kata Ozy.
“Iya.” Jawab Acha singkat.
Tak lama kemudian.
“Para hadirin sekalian. Marilah kita sambut penyanyi
muda berbakat, yang akan menyanyikan sebuah lagu. Ini
lah Raissa Arif.” Ucap sang pembawa acara.
“Terimakasih. Lagu ini saya persembahkan untuk kakak
saya tersayang Gabriel Stevent Damanik yang telah ada di
sampin Tuhan.” Ucap Acha sebelum bernyanyi. Dentingan
piano pun mulai dimainkan Acha. Dan Acha pun mulai
bernyanyi.
Menapak jalan yang menjauh.
Tentukan arah yang kumau.
Tempatkan aku pada suatu peristiwa
Yang membuat hati lara.
Di dekat engkau aku tenang
Sendu matamu penuh tanya
Misteri hidup akankah menghilang
Dan bahagia di akhir cerita.
Cintaaa……
Tegarkan hatiku…
Tak mau sesuatu merenggut engkau.
Naluriku berkata
Tak ingin terulang lagi.
Kehilangan cinta hati
Bagai raga tak bernyawa
Aku……
Junjung petuahmu.
Cintai dia yang mencintaiku.
Hatinya turut berlayar
Kini telah menepi.
Bukankah hidup kita
Akhirnya harus bahagia.
Semua hadirin yang hadir di sana pun tertegun
mendengarkannya. Dan suara tepukan terdengar riuh
memenuhi gedung itu.
“Cha, bagus banget tadi kamu nyanyinya. Jadi penyanyi
aja kamu” Sambut Ozy.
“Papa bangga sama kamu Cha. Tadi itu bagus banget.”
Puji papa Septian.
“Sayang, mama seneng banget kamu tadi nyanyinya
bagus banget. Ini konser terbagus yang pernah mama
liat.” Puji mama Rahmi.
“Acha, Om bangga sekali bisa mengenal Acha. Calon
penyanyi papan atas.” Kata papa tiri Acha.
“Makasih banyak pujiannya. Sebagai hadiahnya Acha mau
minta sesuatu.” Kata Acha.
“Apa Acay?” tanya Ozy. Semua yang ada di sana memang
tau, kalo Ozy sering memanggil Acha dengan sebutan
Acay atau Acha sayang. Sedangkan Acha sering
memanggil Ozy dengan sebutan Ozay atau Ozy sayang.
*wkwkwk, aneh.
“Apa nak?” tanya papa septian.
“Acha mau besok kita ke makam kak Iyel. Kita kirim doa
ke kak Iyel. Terus kita bersihin makam kak Iyel. Setuju
ga?” tanya Acha. Dan mereka semua mengangguk tanda
setuju.
Keesokan harinya, saat di makam. Mereka semua terlihat
khusuk berdoa dan setelah itu mereka membersihkan
makam Gabriel bersama-sama. Saat mau pulang.
“Acay, pulang yuk. Mama sama papa juga udah mau
pulang.” Ajak Ozy.
“Kalian duluan aja. Nanti Acha nyusul. Acha masih
kangen sama kak Iyel.” Kata Acha mengelus nisan
bertuliskan Gabriel.
“Ya udah kalo gitu. Kita duluan ya. Tapi kamu pulang
jangan sore-sore.” Ucap papa Septian.
“Iya papa ku sayang.” Kata Acha tersenyum.
Setelah semua pulang. Acha hanya sendiri menatap
makam Gabriel.
“Kakak, kemarin kakak liat Acha nyanyi ga? Semuanya
muji Acha. Mereka bilang Acha nyanyinya bagus. Acha
nyanyi lagu itu buat kakak.” Kata Acha masih terus
menatap makam kakak tersayangnya itu.
“Kakak, Acha pengen banget ketemu kakak. Acha pengen
bisa meluk kakak lagi. Main-main bareng kakak.” Kata
Acha sedih.
“Oh, iya Acha lupa. Acha kan udah janji sama kakak sama
Ozy, kalo Acha ga boleh sedih-sedihan lagi. Mulai
sekarang Acha akan coba senyum terus. Acha akan coba
ikhlasin kakak.” Kata Acha yang sedari tadi bicara sendiri.
“Kak, Acha pamit dulu ya. Hari udah mulai sore. Kapan-
kapan Acha balik ke sini lagi. Da… kakak.” Ucapnya dan
meninggalkan makam Gabriel.
Berbulan-bulan kemudian. Sekarang Acha dan Ozy tepat
berumur 20 tahun. Pada tanggal 23 Mei. Di taman tempat
yang paling sering mereka berdua datangi.
“Cha, aku mau ngomong sama kamu.” Kata Ozy serius.
“Apa? Kok kayaknya serius banget? Penting banget ya?”
kata Acha penasaran.
“Penting banget Cha. Cha, wuold you marry with me?”
tanya Ozy tiba-tiba.
“Ha? Ozy kita masih 20 tahun. Terus kita masih baru aja
dapet kerjaan.” Kata Acha kaget.
“Urusan waktunya gampang nanti. Yang penting sekarang
kamu jawab pertanyaanku. Would you marry with me?”
kata Ozy mengulang pertanyaannya.
“Mmmb. Oke I want. But… What about our parents?” kata
Acha ragu.
“Kita cuma sodara tiri Acha. Jadi orang tua kita ga bakal
ngelarang kita.” Kata Ozy. Acha pun tersenyum, tersirat
rasa bahagia yang luar biasa di wajahnya.
~Skiip. 2 tahun kemudian.~
Hari ini, tanggal 23 Mei. Memang tanggal yang paling
bersejarah untuk Acha, pada tanggal itu kakaknya
meninggal, pada tanggal itu dia kembali ke Jakarta, pada
tanggal itu Ozy melamarnya, dan hari ini tanggal 23 Mei,
ia akan melangsungkan pernikahannya dengan Ozy.
Pernikahan mereka berdua di adakan di taman tempat
yang penuh kenangan untuk mereka berdua. Terutama
untuk Acha. Saat pernikahan di mulai, Acha terlihat
sangat cantik. Dia mengenakan gaun putih panjang, di
tangannya terdapat bunga berwarna-warni. Ozy pun
terlihat sangat tampan. Ozy mengenakan baju putih dan
jas berwarna hitam.
Setelah acara itu selesai, semua yang hadir memberi
ucapan selamat kepada mereka. Mereka berdua pun
memandangi langit. Di sana terlihat seutas senyuman
yang sangat lebar dan tulus, seperti mengucapkan kata
selamat untuk mereka.
“Makasih kakak. Acha selalu sayang kakak.” Ucap Acha
lirih.
“Makasih kak Iyel. Karna kak Iyel, Ozy bisa menemukan
pendamping hidup Ozy.” Ucap Ozy tak kalah lirih dengan
Acha.
“Aku sayang Kakak Gabriel Stevent Damanik. Always and
forever.” Ucap mereka bersamaan.
Setelah semua peristiwa duka yang mereka alami
bersama. Akhirnya mereka mendapatkan kebahagian sejati
itu.
Cintaaa……
Tegarkan hatiku…
Tak mau sesuatu merenggut engkau.
Naluriku berkata
Tak ingin terulang lagi.
Kehilangan cinta hati
Bagai raga tak bernyawa....

Thats all. Thankyou. Haha

Read More

Minggu, 09 Februari 2014

Cerita Dibalik Pintu

Buka pintu hatimu
Bila kau bahagia
Berbagilah pada dunia agar
Semua merasakan cinta

Tutup pintu hatimu
Bila kau terluka
Simpan saja rahasiamu agar
Dunia tak melihat duka

Reff:
Cerita di balik pintu
Jadikan kisahmu, terlihat indah
Walau tak seperti yang kau inginkan
Tetaplah tersenyum

Cerita di balik pintu
Mungkinkah kan selalu, kekal abadi
Hingga di ujung waktu
Tetap terjaga, selama lama nya

Nadia Almira Puteri

Read More

Rabu, 01 Januari 2014

5 cm

impian . harapan . cita-cita . penciptamu . alamNya . tanahNya . udaraku . udaraNya . cinta . harapan . ilmu . sahabatku . negeriku . langit-langit kamarku . syairku . ke-aku-anku . berpijakku . benderaku . aku . dia . mereka . kamu . tanahmerahku . hati . semangat . doa . napas . irama . dharmaku . tempatku . demiku . langkahku . manusia . jalanku . tempatku berteduh . konjungtiva . niat . hati . rasa . perjuangan . manusia . sebenar-benarnya . suciku . putihku . hitamky . tangisku . tumpuanku
ada-ku . genggamku . erat-ku . garbaku . jelang-ku
bagindaku . bahagiaku . peluhku . penciumanku . perjuangan . harapan . cinta
. telapak kaki surgaku . guruku. diamku . impianku . dayaku

sampul novel 5cm sebelum film

Read More

Welcome to my little world

Diberdayakan oleh Blogger.

Temukan Aku di...

Followers

© Bienvenue, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena