Welcome to my little world

Selasa, 11 Agustus 2026

Realized

 Bapak tua di depan kami bukanlah siapa-siapa. Waktu itu kami hanya mampir di sebuah warung remang-remang kecil di tengah perjalanan ke Gunung Kidul dari kota.

 Pada saat kami datang, dia sudah duduk di sana. Berceloteh apa saja. Kata pemilik warung, namanya Yatmo, dan meminta kami untuk memakluminya.

 "Biarkan saja, mas, mbak. Wonge memang begitu. Tapi ndak bahaya, kok."

 Ya, sudah kami menurutinya.

  "Wektu ra bakal mandeg mlakune, mbok'o koe terus ngenteni(Waktu tidak akan berhenti, walaupun kamu menunggu)," katanya

 "Nek kesuen le mu ngenteni, eman-eman wektumu (Kalau kelamaan menunggu, sayang waktumu). Durung mesti sing mbok enteni ngerti yen mbok enteni (belum tentu yang kamu tunggu tau kalau kamu tunggu)."

 Aku mendengarnya, pasti juga dua teman yang bersamaku. Tapi, mungkin cuma aku yang paham betul artinya, karena dua temanku bukan dari Jawa.

 Pak atau mas Yatmo itu  lalu menyeruput tehnya yang coklat pekat. Khas orang Jawa, Nasgitel, katanya. Panas, Legi, Kuenthel. Lalu menerawang lagi. Kami juga menyeruput minuman kami, sambil sesekali makan gorengan. 

 Karena capek, kedua temanku memilih pindah ke tempat lesehan untuk menyandarkan punggungnya. Aku lebih memilih di sini. Mendengarkan Pak atau masa Yatmo terus berceloteh. Ada banyak hal yang dia katakan ada benarnya.

 Sesekali dia ngobrol dengan pemilik warung. Tetapi, ya itu. Ngobrolnya ngalor ngidul, ngetan ngulon. Sepertinya orang-orang sini terutama pemilik warung sudah paham kelakuan pak atau mas Yatmo ini.

 Di sela ocehannya, sesekali pak atau mas Yatmo ini ngomong tentag Tuhan, sesekali lain tentang manusia yang kacau, dan lain sebagainya. Tapi tiba-tiba, dia bisa ngomong hal lain seperti ini.

 "Opo gunane meksakke sing wes ngerti hasil e ora bakal koyo sing dipeksake (apa gunanya memaksakan sesuatu yang sudah tau hasilnya tidak akan seperti yang dipaksakan). Wes ngerti ora iso bareng, kok mekso bareng (sudahh tau tidak akan bisa bersama kok memaksakan bersama). Wes ngerti ora bakal disetujui wong tuane mergo agamane bedo (sudah tau tidak akan disetujui orang tuanya karena agama yang berbeda), kok yo iseeh ngeyel nek iso urip bareng suk mbene (kok ya masih keras kepala kalau nanti pasti bisa bersama). Mikir duwuru kuwi penting, neng nek ra logis, malah marai loro ati suk mbene (Berpikir tinggi atau berharap tinggi itu penting, tapi kalau tidak logis nantinya akan membuat kita sakit hati)."


 Di sana, aku teringat kamu. Tidak, bukan karena agama kita berbeda. Tidak masalah. Yaa masalah, tapi bukan itu. Hanya teringat pada memaksakan sesuatu yang hasilnya sepertinya tidak akan seperti yang dipaksakan. Itu yang aku pikikan.

 Aku memaksa bertahan selama ini. Kamu tau benar itu. Aku juga tau benar itu.

 Sekarang coba ingat, sudah berapa lama kamu dan aku, tidak pernah lagi duduk berdua untuk saling berbicara? Sudah berapa lama kamu ingin pergi dan aku terus menahanmu agar tidak pergi? Sudah berapa lama kita seperti orang asing? Hanya ada pertanyaan basa-basi 'sudah makan?' atau 'lagi apa?'

 Dulu, sewaktu kita saling jatuh cinta, dua pertanyaan itu bisa sangat menyenangkan. Dulu. Dulu waktu masih jatuh cinta. Sekarang, kita berdua sama-sama tau, kalau itu basa-basi saja.

"Koe ra bakal nangdi-nangdi nek karo sing biyen wae koe ra iso lali (Kamu tidak akan bisa ke mana-mana kalau sama masa lalumu saja kamu tidak bisa lupa). Ra iso nduweni sing nggawe koe seneng yen sing nglarani koe iseh mbok goceki (tidak bisa memiliki yang membahagiakanmu kalau yang justru melukaim massih kamu peertahankan)," pak atau mas Yatmo berceloteh lagi.

 Lagi-lagi ingatannku kembali kepadamu.

 Masih ingat, berapa kali kamu berbuat salah dan aku memaafkanmu lagi? Berapa kali aku melewati malam-malam dengan menangis, kamu merayuku, setelah berhasil, kamu bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa yang pernah terjadi.

 Lalu kamu merayu dan meminta maaf lagi untuk ke sekian kalii. Bodohnya, aku memaafkanmu lagi. Seperti de javu. Aku terus bertahan, kamu terus melakukan kesalahan.

 Dan tiba-tiba saja kamu ingin pergi. Kamu pikir selama ini aku bertahan itu untuk siapa kalau bukan untuk kita? Terus kenapa kamu yang terus melakukan kesalahan, tetapi kenapa juga kamu yang malah ingin pergi?

 Ada apa dengan kita? Ke mana kata-katamu sewaktu berbuat kesalahan dan terus merayu, "Aku sangat mencintaimu. Jangan tinggalkan aku. Maafkan aku."

 Ke mana itu semua? Apa bisa tiba-tiba hilang begitu saja, atau memang malah sebenarnya tidak pernah ada? Yang artinya kamu sebenarnya tidak pernah mencintaiku tetapi mencintai kebodohanku yang terus memaafkan kesalahanmu yang sama?

 Ajaib. Sekarang ini, melintas semua waktu yang sudah kita lewatkan bersama. Lalu semua menyimpul menjadi satu akhir yang baru aku tau: pada akhirnya, pertahankan hhanya yang memang layak untuk dipertahankan.

 Akhir-akhir ini, sudah berulang kali aku melihat handphone, menunggu nada dering. Siapa tau itu dari kamu. Tapi, tidak. Kalau bukan aku yang menghubungimu lebih dulu, tidak akan ada dering apapun di handphoneku dari kamu. Berarti hanya aku yang menunggu. Hanya aku yang bertahan. Hanya aku yang... jatuh cinta. Sendirian. Sialan.

 "Kadang wong kuwi ngerti nek dikandani (Kadang, orangnya tau kalau dikasih tau), ning moh ngakoni karo emoh nglakoni (Tapi tidak mau mengakui dan tidak ma menjalani)."

 Pak atau Mas Yatmo ini benar. Tidak ada artinya bersama, jika salah satu dari dua orang tidak benar-benar mau bersama.

 Karena itu aku akan berhenti bertahan karena kamu memang tidak mau aku pertahankan. Bagaimana bisa benar-benar 'berpasangan' jika hanya satu orang yang memperjuangkan?

 Ini batasnya. Ini batas waktunya aku menunggu nada dering darimu. Ini juga batasnya mempertahankanmu.


It's like epiphany*. I'm no longer have the feeling for you like I used to be.




-------------

Epifani menurut google, "Adalah peristiwa istimewa dalam kehidupan seseorang yang menjadi titik balik dengan pengaruh berbeda-beda, bisa negatif atau positif tergantung besaran epiifaninya."

 

0 komentar:

Welcome to my little world

Diberdayakan oleh Blogger.

Temukan Aku di...

Followers

© Bienvenue, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena