Welcome to my little world

Minggu, 28 Desember 2025

Tentang Tuan dan Senja

Yogyakarta, 28 November 2025

Tuan, 
Tolong katakan pada senja, terima kasih untuk waktu yang telah ia berikan padaku. Dua puluh menit yang lalu ia menemaniku di pubcak bukit sembari menyisipkan puisi tentang semak yang mencintai dedaunan. Kepak elang di ujung cakrawala bilang puisi itu sudah basi, tapi aku menyukainya karena semesta kecul itu selalu berhasil membuatku mengingat semua tentangmu dengan berbagai cara. 

Tuan, 
Tolong katakan pada senja, aku akan kembali esok hari. Jika tidak, mungkin lusa. Mungkin juga keeseokan harinya lagi. Aku sudah meninggalkan janji di tumpukan batu itu, ada namamu di sana, ditutupi lumut tapi masih jelas terasa. Seseorang bilang padaku, bangunlah rumah di atas perbukitan itu agar terbebas dari banjir di bawah sana. Maka dari itu, kutinggalkan namamu di sana, sejenak untuk mengingatkan bebatuan bahwa di sanalah rumah hatiku berada. 

Tuan, 
Tolong katakan pada senja, jangan merindukanku karana aku tidak pernah merindukannya. Apa yang datang, pasti akan pergi. Siklus itu sama persis dengan siklus yang biasa kamu sebut kehidupan sementara aku menyebutnya kematian. Iya, cra kita memandang semesta memang berbeda, kamy selalu menjadi Tuan Optimis sementara aku si Gadus Tukang Nyinyir. Tawamu bertahun yang lalu di kedai itu mengingatkanku pada terjangan angin yang biasa kuhadapi di pendakianku, menerjangku dengan perasaan kalah yang tidak berkesudahan. Kamu selalu memenangkan segalabya, termasuk hidupku. 

Tuan, 
Tolong katakan pada senja, aku tidak mengharapkan apapun darinya. Cukuplah aku tau dia ada, setia di bukit itu dan aku sudah puas dengan semua yang ada di hidupkh saat ini. Bila senja tanya mengapa, tersenyumlah padanya, peluk senja dengan tangan-tangan kokohmu itu, dan ucapkan terima kasih padanya. 

Karena hanya ialah satu-satunya penghubung hatiku dan hatimu. 


Read More

Sabtu, 27 Desember 2025

Pagi(ku)

Yogyakarta, 27 Desember 2025

Malam Bintang. Sudah lama sekali ya dari terakhir aku menuliskan surat untukmu. Bukan, bukan karena aku melupakanmu. Tentu saja tidak mungkin aku melupakan cinta pertamaku. Maafkan kami ya Bintang. Untuk membagi waktu istirahat saja sekarang aku bingung, Bintang. Aku kembali ke rutinitas yang kalau duli akan kamu marahi karena merusak tubuh. 

Aduh Bintang. Sopan sekali aku membuka surat ini dengan keluhan. Maaf belum menanyakan kabarmu. Bagaimana kabarmu? Pasti sangat bahagia bersama Langut dan banyak sahabatmu yang sudah menyusulmu. Sampai lama sekali juga kamu tidak mampir di mimpiku. Aku sangat sangat sangat merindukanmu, Bintang. 

Bintang, Bulan akhir-akhir ini sakit. Tapi sekarang sudah membaik. Dan seperti biasa. Aku bukan manusia yang baik dalam berekspresi atau menunjukkan kepedulianku. Aku menjadi galak dengan alasan disiplin agar Bulan lekas sembuh. Sama kan seperti saat bersamamu dulu. Ah, ingat sekali aku memarahimu karena kamu tidak mau makan padahal ya memang mungkin badanmu sesakit itu. Maaf ya Bintang, emang kayak sudah default nya aku. 

Malam ini aku ingin bercerita tentang dua Pagi-ky. Iya, Bintang Pagi-ku yang membawaku pada siang terik dan Pagi-ku yang sekarang. Pagi yang dulu sering aku ceritakan saat aku berkunjung ke tempat baru-mu itu tidak membawaku ke malam yang tenang, Bintang. Bulan beberapa kali menasehatiku tentangnya, tapi namanya juga aku. 

Pagi-ku yang lalu memberiku siang yang sangat terik dan malam badai. Bulan sedih melihatku diberi itu semua. Sampai ada kesalahan Pagi yang tidak bisa aku maafkan. Pagi itu menduakanku, Bintang. Kamu tau sendiri kan seberapa bencinya aku diperlakukan seperti itu. Bulan bilang aku harus bersyukur karena tau ini semua sebelum terlalu jauh. 

Berbeda dengan Pagi-ku yang sekarang, Bintang. Semoga. Memang aku belum mengenal sepenuhnya. Bulan bilang dia menyukai Pagi-ku yang ini. Kata Bulan, dia mengenal pribadi Pagi-ku yang baru ini. Tapi memang sangat berbeda dengan Pagi yang lain. Mungkin Bintang juga mengenalnya. 

Bintang, semiga Pagi-ku kali ini adalah pilihan yang tepat ya. Semoga dia mengajakku melewati malam dengan baik, ya. Tenang Bintang, aku sudah belajar banyak hal tentang melewati malam. Beli. Sebanyak Bulan dan Bintang sih. Tapi sudah cukup untukku melewati malam. 

Ah iya Bintang, aku mau pamer juga. Aku sudah mulai berani menghadapi ulat bulu. Tadi di tempat barumu ada ulat bulu dan aku berhasil membersihkan tanpa berteriak. Aku merasa hebat. Setelah lebih dari 20 tahun ya Bintang, ya. 

Bintang, ini sudah halaman ke tiga aku menuliskan ceritaku padamu. Minta tolonglah Langit untuk membacakan surat ini. Tidurlah yang tenang ya Bintang. Mempirlah di mimpiku malam ini. Agar aku bisa bercerita versi lebih lengkapnya. Aku sangat merindukanmu. 

Read More

Welcome to my little world

Diberdayakan oleh Blogger.

Temukan Aku di...

Followers

© Bienvenue, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena